Perubahan Iklim Semakin Nyata, Demikian juga dengan Ketidakadilan Iklim

0
243

Oleh: Fabby Tumiwa –

Pada awal bulan Juni ini, Nordic Council of Minister (Norden) merilis sebuah laporan berjudul: Physical Climate Science since IPCC AR4, yang merupakan pemutakhiran (update) dari laporan Intergovermental Panel on Climate Change Fourth Assessment Report (IPCC AR4) yang dirilis tahun 2007 lalu. Laporan yang ditulis oleh empat ahli iklim terkemuka di kawasan Nordic merangkum berbagai hasil kajian ilmiah yang telah dipublikasikan sejak 2007 hingga 2010. Laporan ini membantu meningkatkan pengertian dan pemahaman sebab dan dampak perubahan iklim, dan memperkuat sejumlah temuan tentang penyebab dan dampak perubahan iklim yang telah disampaikan dalam IPCC AR4 sebelumnya.

Sejumlah temuan kunci dari laporan tersebut diantaranya:

  • Bukti bahwa perubahan iklim terus berlangsung semakin nyata;
  • Kenaikan muka air laut dunia juga semakin tinggi. Sejumlah kajian menunjukkan prediksi kenaikan muka air laut yang dinyatakan dalam laporan IPCC AR-4. Dalam AR-4, prediksi kenaikan muka air laut pada tahun 1990-2095 berkisar yang terendah (skenario B1) antara 0.18-0.35 meter, dan yang tertinggi 0.26-0.59 meter (skenario A1F1). Dengan memperhitungkan laju peluruhan lapisan es di kutub, sejumlah kajian terbaru, termasuk berdasarkan temuan empirik, menyimpulkan bahwa pada akhir abad ini (2100) kenaikan muka air laut akan mencapai 1 meter. Prediksi ini hampir 2 kali dari skenario IPCC tertinggi.
  • Lapisan es di sejumlah bagian Greenland meleleh dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir. Lapisan es di Artic juga mengalami pengurangan massa.
  • Seiring dengan meningkatnya temperatur permukaan, gejala ocean acidification. Ocean acidification adalah menurunnya kadar pH air laut karena meningkatnya jumlah karbon dioksida yang larut dalam air laut. Walaupun demikian dampak dari gejala ocean acidification terhadap ekosistem laut masih belum sepenuhnya dimengarti dan masih terus dipelajari hingga kini.
  • Kenaikan konsentrasi karbon-dioksida di atmosfer akan mengurangi efisiensi dari penyerap karbon alami (natural carbon sinks).

Studi ini juga menyarankan bahwa untuk mencapai target stabilisasi emisi gas rumah kaca di atmosfer, dengan adanya positive climate-carbon feedback, maka jatah emisi yang masih tersisa dari carbon budget sebesar 500 Giga ton Carbon (GtC) – dengan target pembatasan kenaikan temperatur sebesar 2°C, sebagaimana yang disimpulakan oleh sejumlah penelitian sebelumnya – menjadi lebih kecil. Artinya, untuk mencapai stabilisasi gas rumah kaca di atmosfer dengan batasan temperatur 2°C, jatah karbon yang dapat di-emisi hingga 2050, lebih sedikit dari alokasi yang pernah diperkirakan sebelumnya.

Laporan Norden ini menjadi sangat penting, jika ditilik bahwa negosiasi internasional dalam payung United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang berlangsung sejak tahun 1995, hingga 2009 di Copenhagen gagal mencapai kesepakatan yang substansi untuk menurunkan emisi gas rumah kaca, biang kerok pemanasan global dan perubahan iklim, secara signifikan sebagaimana yang direkomendasikan oleh laporan-laporan IPCC sejak dua dekade lalu.

Perundingan perubahan iklim global yang terjadi di Copenhagen pada Desember 2009, yang merupakan puncak dari proses Bali Road Map, yang pada awalnya diharapkan melahirkan kesepakatan penurunan emisi yang lebih ambisius untuk mencapai kenaikan temperatur rata-rata dibawah 2C, setelah revolusi industri di abad 18, pada kenyataannya memberikan hasil yang mengecewakan. Kajian yang dilakukan oleh Joeri Rogelj, dkk yang dipublikasikan di jurnal Nature No. 464 (22 April 2010) berjudul Copenhagen Accord Pledges are Paltry menyimpulkan bahwa komitmen pengurangan emisi gas rumah kaca yang dijanjikan atau ditargetkan oleh negara-negara maju dan berkembang sesuai dengan arahan kesepakatan Copenhagen Accord sesungguhnya tidak membatasi kenaikan temperatur dibawah 2°C, melainkan menuju ke 3°C, bahkan 5°C (gambar 1). Saat ini rata-rata suhu permukaan bumi telah meningkat 1°C dari temperatur sebelum revolusi industri.

Gb. 1. Proyeksi kenaikan temperatur global hingga tahun 2100

Apa akibatnya? Laporan IPCC pertama hingga keempat menyatakan bahwa kenaikan temperatur yang lebih tinggi akan membawa konsekuensi yang besar terhadap ekosistem, ketersediaan air bersih, intensitas cuaca ekstrim, dan lain sebagainya. Laporan Norden ini memberikan konfirmasi bahwa peradaban manusia sedang menuju kepada masa depan yang sangat menantang, yang dapat berdampak pada keberlanjutan manusia dan lingkungannya.

Dari perspektif keadilan iklim global, sudah sepantasnya negara-negara maju bertanggung jawab dan harus bersedia menurunkan emisi gas rumah kaca mereka untuk memberikan ruang yang cukup bagi negara-negara berkembang untuk memanfaatkan sisa ruang atmosfer (atmospheric space) yang tersedia, yang makin tergerus akibat peningkatan laju emisi negara-negara maju dan sedikit negara berkembang yang lebih maju (advance developing country). Negara-negara industri harus menurunkan emisi mereka secara drastis dari sekarang hingga tahun 2050 mendatang, sehingga memungkinkan negara-negara berkembang untuk tumbuh dengan mengkonsumsi ruang atmosfer yang masih tersisa. Walaupun demikian, dengan tantangan dan ancaman perubahan iklim yang semakin nyata, pembangunan negara berkembang tidak mencontek model pembangunan yang dilakukan negara-negara maju selama 2,5 abad lalu. Negara-negara berkembang seperti Indonesia harus masuk dalam model jalur pembangunan rendah emisi (low carbon emission pathway) yang ditandai dengan salah satunya membatasi konsumsi tetapi meningkatkan intensitas dari sumber daya energi yang tidak terbarukan, serta secara bertahap meningkatkan pemanfaatan sumber energi yang terbarukan.

Gb, 2 Proyeksi Dampak Perubahan Iklim seiring dengan kenaikan temperatur permukaan bumi
Gb, 2 Proyeksi Dampak Perubahan Iklim seiring dengan kenaikan temperatur permukaan bumi

Tetapi perlu juga diingat bahwa diantara kita sebagai warga negara yang setara, ketidakadilan iklim juga ditimbulkan oleh emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan oleh kaum masyarakat ekonomi menengah keatas, yang tinggal di kawasan perkotaan dan semi-perkotaan. Survei sederhana yang dilakukan oleh IESR melalui perangkat Carbon Footprint Calculator yang dilakukan pada April – Juni 2010, mengindikasikan bahwa pola dan gaya hidup dari kelompok masyarakat berpendapatan menengah di perkotaan menghasilkan emisi GRK rata-rata 3-4 kali dibandingkan dengan rata-rata emisi GRK per-kapita nasional. Artinya, masyarakat perkotaan, kelas menengah (middle class) sesungguhnya merampas ruang atmosfir masyarakat miskin yang pola dan gaya hidupnya hanya menghasilkan emisi yang relatif rendah.

Laporan Norden mengingatkan kita bahwa perubahan iklim sedang berlangsung, dan ketidakadilan iklim terus terjadi. Satu-satunya bumi tempat umat manusia tinggal terancam. Di tangan kitalah, nasib umat manusia ditentukan.

Referensi:

http://www.norden.org/en/publications/publications/2010-549?set_language=en

http://www.nature.com/nature/journal/v464/n7292/pdf/4641126a.pdf

Jakarta, 30 Juni 2010

===========

Versi Pdf opini ini silahkan klik di sini: OPINI PERUBAHAN IKLIM SEMAKIN NYATA, DEMIKIAN JUGA DENGAN KEADILAN IKLIM

BAGIKAN