Catatan Perjalanan III, Habislah Gelap Terbitlah Mikrohidro

0
598

Dari Surga Pembalak Liar Menjadi Desa Anti Pembalakan

Sore yang cukup cerah, setelah dua hari perjalanan yang selalu ditemani rintik hujan, akhirnya kami memutuskan untuk langsung berangkat ke Cidaun. Perjalanan kali ini menjadi lebih cepat karena di tengah jalan, kami bertemu seorang pengendara motor yang ternyata memiliki tujuan sama dengan kami, yaitu ke Dusun Cibuluh, Desa Mekarjaya, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur. Dia menunjukkan jalan yang lebih cepat.  Tak disangka, hanya dalam waktu dua jam kami telah sampai di tempat tujuan. Kami pun memutuskan untuk makan malam dahulu lalu mencari penginapan di Cidaun.

Esok harinya, cuaca cukup bersahabat. Kami pun bangun dengan badan yang lebih segar. Ternyata  dari pukul lima kami sudah ditunggu oleh teman-teman dari Cibuluh yang siap untuk mengantarkan kami ke tempat tujuan dengan menggunakan ojek. What??? Ojek again…?? *_^ Kami sempat membayangkan hal-hal yang kami alami sebelumnya, ketika menuju lokasi dengan menggunakan ojek. Hemm, sepertinya kami sudah mulai terbiasa, bahkan menyenangkan. Beneran, kok. Jadi kami tetap antusias dengan perjalanan ini kendati menggunakan ojek.

Pukul 07.00, kami mulai perjalanan ke arah Dusun Cibuluh menggunakan ojek, sebenarnya sih, bukan ojek beneran, karena yang mengantarkan kami dengan sepeda motor adalah beberapa warga Cibuluh yang secara sukarela mau mengantarkan kami melihat kampung mereka tercinta. Hampir dua jam kami melakukan perjalanan ke Cibuluh dengan melalui jalan-jalan yang harus kami tempuh dengan “perjuangan.” Kami  harus “off-road”, lalu melalui jalan tanjakan berbatuan nan licin yang bikin kami was-was. Namun seperti biasa semua itu terasa tidak ada artinya dan mungkin setimpal dengan yang kami dapat. Yup, apalagi kalau bukan pemandangan alam nan indah, termasuk curug alam yang memesona dengan gemericik airnya yang membawa kami seperti berada di negeri damai antah berantah.

curug-semper2Sesampainya di Cibuluh, kami telah ditunggu oleh beberapa warga kampung yang berkumpul untuk bertemu kami. Wow, kejutan yang tidak disangka karena ternyata warga cukup antusias dengan kedatangan kami. Tidak hanya Pak Ridwan dan pengurus mikrohidro saja yang hadir, melainkan beberapa warga masyarakat yang memang tertarik untuk bertukar pikiran dengan kami mengenai banyak hal.

Obrolan kami dengan warga Cibuluh cukup membuat kami terkesan. Terutama cerita mereka tentang perubahan yang terjadi dengan kondisi desa ini sebelum mereka bersatu dalam mendirikan mikrohidro.  Dalam cerita terungkap bahwa desa ini dulunya merupakan surga bagi pembalak hutan.  Warga saat itu tidak ada kepedulian sama sekali dengan kondisi alam desa yang seharusnya bisa dilestarikan. Bahkan, perburuan liar atas satwa langka yang ada di hutan desa pun waktu itu cukup marak.

Adalah Rasman, seorang mantan pembalak dan pemburu liar yang mengungkapkan hal ini. Pada masa itu, dia pun sempat digelandang warga menuju ke pos polisi kecamatan karena aksi pembalakan liar dan sempat merasakan hidup di balik jeruji sel. Kejadian penggelandangan tersebut justru menjadi titik balik kehidupannya. Karena  sejak saat itu. Rasman akhirnya ingin memperbaiki hidupnya dan meningkatkan kehidupan warga disana.

Sejak saat itu, secara bahu-membahu, para warga dari kelima dusun di Desa Mekarjaya, berusaha menggalakkan penyadaran akan pentingnya menjaga alam. Akhirnya mereka pun bersatu dalam satu wadah bernama Raksa Bumi yaitu organisasi warga yang menjadi cikal bakal organisasi sosial masyarakat yang peduli akan kelestarian lingkungan daerah mereka.

Berbeda lagi dengan cerita Ridwan Soleh sendiri. Pada awal kedatangannya di Cibuluh, masyarakat setempat tidak menerima ide-idenya dalam melestarikan alam Cibuluh. Ide-idenya tersebut dianggap berlawanan dengan kebiasaan warga desa di sana.  Namun Pak Ridwan tidak patah arang, dengan kesabaran dan niat baik, akhirnya pada 2004 warga mulai menaruh kepercayaan kepadanya.

Pak Ridwan bahkan berhasil mengajak warga desa untuk berjuang bersama-sama memerangi pembalakan hutan. Dari rasa kebersamaan tersebut Ridwan pun sadar bahwa sesungguhnya warga desa juga membutuhkan kesejahteraan yang secukupnya saja untuk kehidupan keharian mereka. Masalah terisolasinya desa ini dari akses manapun, adalah salah satu sebab desa ini jauh dari kemajuan ekonomi dengan desa lainnya. Bahkan listrik pun mereka tidak mendapatkan aksesnya. Masalah terakhir ini mereka kemudian mencetuskan ide untuk membangun sebuah mikrohidro agar warga dapat menikmati listrik tanpa harus bergantung pada PLN. Setelah menyebarkan proposal ke beberapa lembaga, akhirnya warga Cibuluh mendapatkan bantuan sebesar IDR 300 juta dari GEF untuk pembangunan desa.

turbin-propeler

Dengan menggunakan aliran air dari Sungai Cirompang, mikrohidro di desa Cibuluh dibangun dengan menggunakan turbin propeller dengan ketinggian 7 meter sehingga dapat menghasilkan daya maksimal 23 Kw. Dari listrik yang telah dihasilkan ini, maka masyarakat dapat menikmati fasilitas listrik yang lebih stabil dibandingkan ketika mereka menggunakan kincir untuk menghasilkan listrik.

Walaupun suasana di luar hujan semakin deras, namun tidak mengurangi antusiasme warga bercerita tentang perjalanan proses mereka hingga seperti sekarang. Semangat warga yang ingin mengubah “nasib” keterisolasian desa, juga menggugah Warmin, warga desa yang sempat merantau ke Bandung untuk meneruskan pendidikan hingga Universitas, akhirnya berniat kembali ke desanya untuk ikut bahu membahu membangun desa dan mewujudkan desanya agar bisa hidup lebih baik dari sebelumnya.

Akhir cerita tentu saja telah diketahui kita. Desa Cibuluh kini berbeda dengan Cibuluh bertahun-tahun lalu.  Mereka tidak lagi tinggal dalam kegelapan, sebagian warganya juga tidak lagi membalak kayu liar di hutan. Sebaliknya, mereka memaksimalkan upaya pelestarian alam dan memanfaatkannya dengan bijak bagi kehidupan keharian mereka.

Ketika hujan mulai mereda, kami pun jadi sangat antusias melihat rumah turbin. Sekitar pukul dua kami mulai melakukan perjalanan lagi menuju rumah turbin.  Tak disangka, perjalanan ini lebih menarik dari yang diduga.Ketika saya (Tyas) berpikir bahwa PLTMH Leuwi Mobil memiliki akses yang sulit, ternyata PLTMH Cibuluh ini lebih sulit lagi. Kondisi jalan yang licin, dan kabel yang kadang tidak terlihat membuat kami harus ekstra hati-hati agar tidak tersetrum. Rumah turbin yang ada pun hanya terbuat dari bambu dan berada di persawahan.

rumah-turbinNamun, lagi-lagi pemandangan yang begitu indah membungkam keluhan kami yang nyaris mau keluar di ujung lidah.  Sebab di sana sini hamparan sawah nan hijau, serta sungai-sungai yang sisinya menampilkan curug-curug air yang mengalir deras dengan indahnya. Suara air, hembusan angin, suasana damai dan alam yang mengesankan…..Ohhh, jelas jauh sekali dengan pemandangan Jakarta sehari-hari. Setelah puas menjelajah alam liar Cibuluh, akhirnya pukul enam sore kami pun memutuskan untuk turun ke penginapan di Cidaun.

Cukup lama kami di sana, hingga akhirnya pukul 10 malam, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Sukabumi. Menuju tujuan kami berikutnya, Ciptagelar. Entah seperti apa, tapi kami sudah tidak sabar melihatnya. Ciptagelar, kami dataaaaaangg!!

***