2013, RI Kuasai Inalum

Jun, 11 2010

Penulis :

Pertimbangkan Nilai Ekonomis dan Nilai Strategisnya

Jumat, 11 Juni 2010 | 04:39 WIB

Jakarta, Kompas – Mulai tahun 2013 Indonesia akan jadi pemilik mayoritas PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum. Produk aluminium yang dihasilkan bisa saja hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan tidak diekspor jika lebih menguntungkan bagi kepentingan nasional.

Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Hatta Rajasa di Jakarta, Kamis (10/6), menjelaskan, ada dua opsi yang bisa diambil. ”Seluruhnya dikelola BUMN kita atau bekerja sama dengan pihak Jepang, dengan opsi lebih menguntungkan Indonesia,” kata dia.

Namun, sebelum menentukan sikap, pemerintah ingin menghitung nilai aset PT Inalum. Jadi, ada angka yang tepat untuk membeli aset itu dengan harga wajar. ”Dalam kontrak ditetapkan aset Inalum otomatis jadi milik kita dengan sejumlah dana yang harus dibayar. Kami hanya akan membayar dengan nilai buku 2013,” kata Hatta.

Pemerintah RI dan pihak Jepang, yang terdiri atas 12 perusahaan, akan membuat proposal tentang pengelolaan aset itu. Semua proposal dinilai Badan Pembina yang diketuai Menko Perekonomian.

Menurut Kepala Badan Otorita Asahan Effendi Sirait, perhitungan nilai buku, aset Proyek Asahan pada 2009 mencapai 450 juta dollar AS atau setara Rp 45 triliun. Badan Otorita Asahan adalah lembaga penghubung Pemerintah RI dan Jepang.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui Sekretaris Daerah Pemprov Sumatera Utara RE Nainggolan meminta pemerintah pusat mengambil alih Proyek Asahan dan meminta bagian saham. Alasannya, selama ini kontribusi Inalum pada daerah tak signifikan.

Proyek Asahan digagas tahun 1970-an oleh pemerintahan Presiden Soeharto. Proyek ini terdiri dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Asahan II atau dikenal sebagai PLTA Siguragura dan Tangga serta pabrik peleburan aluminium PT Inalum.

PLTA Asahan II berkapasitas 617,2 MW, listriknya untuk operasi pabrik peleburan aluminium. Adapun Inalum, perusahaan patungan Pemerintah RI dan Nippon Asahan Aluminium Co Ltd yang didirikan tahun 1976.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Mustafa Abubakar mengusulkan, pengelolaan Inalum diserahkan ke BUMN. Untuk itu, Otoritas Asahan diperintahkan menyiapkan proposal pengelolaannya. Pemerintah akan mempelajari kemungkinan PT Antam mengelola aset Inalum. Namun, terbuka bagi BUMN pertambangan lainnya mengambil alih Inalum. ”Kami berharap 100 persen PT Inalum untuk pemerintah. Proposal harus selesai sebelum 31 Oktober. Keputusan akhir oleh Presiden,” kata dia.

Direktur Eksekutif Lembaga Reformasi Pelayanan Dasar Fabby Tumiwa menyarankan agar Pemerintah RI mengkaji secara menyeluruh opsi yang paling menguntungkan bagi negara.

Menurut Fabby, bila dikelola sendiri, dalam dua tahun ke depan transisi pengelolaan harus dilakukan dengan baik, termasuk aset pabrik, PLTA, dan pemasarannya. ”Jangan sampai setelah diambil alih, kinerjanya malah merosot,” ujar dia.

Dalam memilih opsi pengelolaan PT Inalum, lanjut Fabby, jangan hanya melihat nilai ekonomis, tetapi juga nilai strategis bagi Jepang. ”Sehingga kita bisa bernegosiasi dengan lebih baik,” kata dia. Dia mencontohkan, kerja sama dengan pihak Jepang diperpanjang 15-20 tahun dengan syarat harus membangun PLTA di wilayah itu. (OIN/EVY)

http://cetak.kompas.com.

Artikel Terkait
Dec, 19 2018

Institute Essentials Services Reform (IESR) mencatat tidak ada kemajuan yang berarti dalam pengembangan energi terbarukan di tahun 2018. Diperkirakan 2019 laju energi terbarukan akan semakin

Dec, 3 2013

Metrotvnews.com, Jakarta: Persentase produksi kelapa sawit yang lebih besar dibanding kebutuhan minyak goreng dalam negeri membuat pemanfaatan kelapa sawit untuk bahan bakar sangat memungkinkan dilakukan.

Sep, 23 2015

JAKARTA, Kabarsebelas.com – Institute for Essential Service Reform (IESR) menggelar diskusi yang mengedepankan sektor migas sebagai penompang anggaran negara, Namun, Indonesia telah dikenal sebagai negara

Dec, 19 2018

Institute Essentials Services Reform (IESR) mencatat tidak ada kemajuan yang berarti dalam pengembangan energi terbarukan di tahun 2018. Diperkirakan 2019 laju energi terbarukan akan semakin

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close
Support Online
 
Chat
 
Support Online
+