Laporan Workshop SEFA – 7 September 2015

0
463

Pada tahun 2011, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meluncurkan sebuah inisiatif baru bernama Energi Berkelanjutan untuk Semua (Sustainable Energy for All). Inisiatif ini diluncurkan untuk memacu pertumbuhan akses energi bagi 1,1miliar orang yang tidak punya akses terhadap energi. SE4ALL memiliki tiga tujuan utama: (1) Peningkatan akses energi; (2) Penggandaan laju pengembangan energi terbarukan, dan (3) Penggandaan laju efisiensi energi, hingga 2030.

Di Indonesia, lebih dari 80 juta hidup tanpa listrik dan belum menikmati akses terhadap energi. Rasio elektrifikasi di Indonesia berkisar dari 22% di Papua dan 86% untuk Bali (USAID, 2008), dengan jutaan keluarga mengandalkan minyak tanah untuk penerangan. Sekitar 82% penduduk pedesaan menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar memasak utama mereka (GACC, 2011), dan hampir 100 juta orang mengandalkan tungku tradisional. Kemiskinan energi ini sangat mempengaruhi masyarakat di daerah terpencil, khususnya perempuan, karena mereka memikul tanggung jawab utama untuk kegiatan rumah tangga seperti memasak, membersihkan, menyediakan air dan merawat anak-anak.

Saat ini SE4ALL masih tetap berjalan di tingkat internasional dan target-targetnya telah diakomodasi dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Namun di Indonesia, inisiatif SE4ALL mengalami ‘tidur’ karena berbagai alasan. Di tengah berhentinya proses pembahasan SE4ALL, Kopernik beserta IESR dan HIVOS merasa perlunya untuk mendorong kembali implementasi SE4ALL di Indonesia. Konteks inisiatif SE4ALL di Indonesia dirasakan sangat relevan dengan adanya target pemerintah saat ini untuk meningkatkan rasio elektrifikasi menjadi 86% pada tahun 2019 dan 100% sebelum 2025, serta peningkatan bauran energi terbarukan menjadi 10% pada tahun 2019, serta adanya wacana dari Menteri ESDM untuk mengakselerasinya menjadi 15% pada 2019/2020.

Implementasi SE4ALL membutuhkan peran aktif organisasi masyarakat sipil (NGO/CSO) yang merupakan salah satu aktor utama dalam SE4ALL selain pemerintah dan sektor swasta. Peran aktif NGO/CSO juga memiliki arti strategis yaitu mengarahkan dan mendorong masuknya agenda-agenda kelompok masyarakat sipil dalam rencana implementasi SE4ALL, termasuk perspektif gender dan pemberdayaan ekonomi perempuan melalui akses energi.

Pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 7 September 2015 bertempat di Bumbu Desa, Jakarta, dihadiri oleh 11 organisasi yaitu: Kopernik, IESR, HIVOS, Yayasan Rumah Energi, Yayasan Pelangi, Mercy Corps Indonesia, PEKKA, WRI, IBEKA, Greenpeace, dan Yayasan Wadah.

Kunjungi website: www.energypovertyindonesia.org.

Silahkan unduh laporaan selengkapnya dibawah ini:

BAGIKAN