Exploring innovative ways of financing for climate compatible development in Asian cities

0
364

Urbanisasi merupakan isu mega-trend di Asia. Akibatnya, banyak ibukota dan kota-kota besar lainnya menerima perhatian yang lebih banyak; mulai dari pertumbuhan emisi sampai ke kerentanan kota, mulai diperhatikan.Walau demikian, bukan hanya kota-kota besar saja yang mengalami urbanisasi, kota-kota yang berukuran sedang dan yang kecil juga mengalaminya walaupun tidak sebesar yang terjadi di kota besar. Artinya, kota-kota berukuran menengah dan kecil pun akan mengalami fenomena yang sama dengan kota-kota besar terkait dengan perubahan iklim.

Namun, walaupun tantangan yang dihadapi sama, kota menengah dan kecil tidak memiliki akses pada pendanaan yang mereka perlukan untuk melakukan pembangunan yang selaras dengan perubahan iklim. IESR tergabung dalam konsorsium yang dipimpin oleh Germanwatch, melakukan studi untuk melihat kebutuhan pendanaan bagi pembangunan yang selaras dengan perubahan iklim di kota-kota menengah dan kecil, serta menganalisa sampai sejauh mana sumber pendanaan yang ada dapat memenuhi kebutuhan pendanaan untuk melakukan pembangunan yang selaras dengan perubahan iklim di kota-kota tersebut.

Studi ini juga melihat dimana kesenjangan perlu ditutup dengan mekanisme-mekanisme pendanaan yang inovatif. Berdasarkan tinjauan ini, proyek ini akan memberikan rekomendasi, terutama untuk membentuk Urban Implementing Entities yang dapat mengakses pendanaan dari Green Climate Fund (GCF).

Studi ini dilakukan oleh konsorsium yang dipimpin oleh Germanwatch, dengan mengambil lokasi di tiga negara si Asia; India, Filipina, dan Indonesia. Anggota lain dari konsorsium ini adalah Vasudha Foundation (India), Institute for Climate and Sustainable Cities (Filipina), dan Institute for Essential Services Reform (Indonesia). Konsorsium ini didukung oleh Climate Development Knowledge Network (CDKN).

Di Indonesia, Kota Kupang menjadi lokasi studi ini, dimana IESR bekerja sama dengan Perkumpulan Pikul, sebuah LSM lokal yang berbasis di Kupang. Keseluruhan studi ini dilakukan dari Juni 2015 hingga September 2016.

BAGIKAN