Peluang Pasar Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia Sangat Besar

0
1228

Direktur Eksekutif IESR membahas tentang potensi dan kemajuan konservasi energi, dan status pasar karbon di Indonesia dalam seminar International Energy Conservation and Carbon Reduction bersama pemerintah, pelaku bisnis dan industri dan lembaga think tank di Taiwan.

beritaDirektur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa diundang untuk menyampaikan paparan mengenai kebijakan, situasi serta pasar konservasi energi dan energi efisiensi di Indonesia pada 2016 International Energy Conservation and Carbon Reduction Seminar, yang diselenggarakan oleh Taiwan Green Productivity Foundation (TGPF) di Taipei, Taiwan pada tanggal 26 – 27 Juli 2016. Seminar yang disponsori oleh Kementerian Ekonomi Taiwan ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dari Cina (RRC), Malaysia, Thailand dan Vietnam.

Seminar ini dihadiri oleh sekitar 200 orang yang berasal dari Energy Services Company (ESCO) Taiwan, produsen peralatan hemat energi, lembaga think-tank pemerintah Taiwan, dan perguruan tinggi. Salah satu tujuan seminar ini adalah mengeksplorasi potensi pasar efisiensi energi di luar Taiwan dan peluang-peluang kerja sama investasi dan bisnis antara perusahaan dan pelaku usaha di Taiwan dengan negara-negara lainnya, khususnya di Asia Tenggara.

Dalam seminar tersebut, Fabby Tumiwa menyampaikan berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia, sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk yang terbesar di dunia dan negara dengan ekonomi terbesar ke-16 di dunia, dalam penyediaan energi dan menjamin pasokan energi secara berkelanjutan dan merata. Termasuk pula mengenai pokok-pokok kebijakan energi dan strategi-strategi yang ditetapkan.

Fabby juga menyampaikan komitmen Indonesia dalam Intended Nationally Determined Contribution (INDC) dan proyeksi peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sampai tahun 2045, dimana emisi GRK dari sektor energi akan meningkat tajam dan mengambil alih posisi emitter terbesar dari sektor lahan dan kehutanan setelah tahun 2020. Tidak pelak lagi bahwa pemenuhan komitmen INDC Indonesia hingga 2030 tidak dapat mengabaikan kontribusi dan peranan sektor energi.

Dalam presentasinya, Fabby juga menyampaikan tentang kebijakan, strategi dan program konservasi dan efisiensi energi yang telah dan akan dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Sebagai negara dengan potensi pasar efisiensi energi terbesar di kawasan ASEAN, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Perusahaan-perusahaan ESCO di Indonesia sendiri baru dalam proses belajar dan belum memiliki kapasitas teknis dan finansial yang memadai. Dalam rangka membangun ESCO dan menggairahkan pasar konservasi dan efisiensi energi, pemerintah Indonesia baru saja mengeluarkan Peraturan Menteri ESDM No. 14/2016 tentang Penyelenggaraan Usaha Jasa Konservasi Energi.

Selain kebijakan ESCO, sejumlah upaya untuk mendorong investasi konservasi energi juga dilakukan melalui perbaikan program audit energi, yang sejak 2014 telah dilakukan Investment Grade Audit (IGA), yang menggantikan model walkthrough dan detail audit. Pemerintah juga tengah menyiapkan Dana Ketahanan Energi (DKE), yang diharapkan dapat mendorong pendanaan proyek konservasi dan efisiensi energi.

Fabby juga menyampaikan kondisi pasar karbon di Indonesia. Dimana setelah 2009, pasar karbon berkurang secara drastis di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Saat ini, salah satu instrumen penurunan emisi melalui mekanisme pasar yang cukup aktif di Indonesia adalah melalui Joint Crediting Mechanism (JCM) yang memiliki 23 pilot proyek energi terbarukan dan efisiensi energi serta industrial efisiensi. JCM diinisiasi oleh Jepang dan saat ini pelaksaan JCM di Indonesia dilakukan atas dasar kerjasama antara pemerintah Jepang dan Indonesia. Hasil penurunan emisi dari proyek JCM akan dibagi untuk pihak Jepang dan Indonesia secara proporsional.

Dalam sesi tanya jawab, sejumlah peserta menanyakan peluang untuk pengembangan ESCO di Indonesia, situasi ESCO, kendala-kendala dalam pelaksanaan proyek efisiensi energi, serta insentif yang disediakan pemerintah. Sejumlah peserta juga memiliki ketertarikan terhadap proyek smart street lightning, yang saat ini sedang dilakukan pilot project-nya oleh Kementerian ESDM dan pemerintah daerah di 22 lokasi.

Sebagai penutup, Fabby menyampaikan bahwa peluang pasar konservasi dan efisiensi energi masih cukup besar dan belum tergarap. Kapasitas ESCO di dalam negeri masih terbatas sehingga terbuka adanya kerjasama dengan ESCO dari Taiwan dan negara lainnya dalam mengimplementasikan proyek konservasi energi.