Pojok Energi kali ini menghadirkan para perempuan pegiat energi dan penerima manfaat energi bersih dari Sumba.

“Sekarang saya tak perlu beli pupuk lagi,” Mama Seni dari Sumba bercerita mengenai pengalamannya menggunakan ampas biogas (bioslurry) sebagai pupuk. Tanah miliknya tak hanya menjadi lebih subur, produksi sayur dan buahnya juga meningkat. Dalam sebulan, Mama Senin bisa mendapatkan penghasilan tambahan 5 juta per bulan dari hasil menjual sayuran dan buah-buahan seperti sawi dan pepaya California.

Mam Senin adalah salah satu narasumber dalam Pojok Energi Edisi Peringatan Hari Kartini yang diselenggarakan di Cikini, 21 April lalu.  Dalam acara tersebut juga hadir Ibu Rovina dari Lembata, Maritje Hutapea dari Kementerian ESDM, Verania Andria dari MCA-Indonesia, dan Sandra Winarsa dari Hivos. Sebagai diskusi yang diselenggarakan tepat pada Hari Kartini, Pojok Energi kali ini memang mengundang para perempuan pegiat energi dan local champion yang merasakan manfaat adanya energi terbarukan bagi keseharian mereka. Pojok Energi ini terbuka untuk umum dan dihadiri netizen, jurnalis, perwakilan CSO lain, pemerintah, serta publik yang tertarik untuk berdiskusi mengenai energi.

Adanya akses pada energi terbarukan tidak hanya meringankan beban perempuan, namun juga membuat perempuan lebih produktif dan dapat menguntungkan keluarga secara ekonomi. Mama Seni tak perlu mencari kayu bakar untuk memasak dan kini bisa menikmati hasil panen sayuran dan buah-buahan. Keberhasilannya ini ditularkan pada kelompok tani di desanya, yang sama-sama menggunakan biogas untuk memasak dan memanfaatkan ampasnya sebagai pupuk.

Cerita serupa dikisahkan oleh Ibu Rovina dari Lembata. Desanya belum terjangkau listrik. Dengan adanya solar home system (SHS) yang diperkenalkan oleh Kopernik, Ibu Rovina dapat menikmati terang dan merasakan manfaatnya. Ibu Rovina pun kemudian memperkenalkan SHS ini pada penduduk desa dan sekaligus menjadi enterpreneur yang mendistribusikan SHS. Dari hasil penjualan SHS ini, Ibu Rovina yang merupakan orangtua tunggal dapat membiayai kebutuhan keluarganya dan menyekolahkan kedua anaknya.

Indonesia dan Tantangan Energi

Mama Seni dan Ibu Rovina adalah contoh mereka yang beruntung. Tak semua perempuan di daerah-daerah terpencil, terdepan, dan terluar di Indonesia yang bisa merasakan nikmat terang atau bahan bakar memasak yang bersih. Saat ini Indonesia masih memiliki tantangan melistriki 8% penduduknya, jumlah yang setara dengan 20 juta penduduk. Perbandingan Indonesia bagian barat dan timur pun masih signifikan bedanya, di mana sebagian besar provinsi di Indonesia bagian barat sudah menikmati listrik hingga hampir 90%, sementara Indonesia bagian timur masih memiliki rasio elektrifikasi di bawah 80%. Desa Lembata di mana Ibu Rovina tinggal merupakan salah satu desa yang sebelumnya gelap, namun kini bisa merasakan terang dengan SHS. Penerangan dan listrik dalam rumah tangga sangat membantu perempuan untuk mengerjakan tugasnya dan mampu mendorong mereka untuk produktif.

Tantangan lain bagi perempuan adalah persoalan memasak. Tak sampai 10 tahun ke belakang, penduduk Indonesia masih bergantung pada bahan bakar kurang bersih seperti kayu bakar dan minyak tanah untuk memasak. Selain memakan waktu untuk mencari kayu bakar, kedua bahan bakar tersebut juga menghasilkan asap dan polusi yang dapat mengganggu kesehatan, terutama untuk ibu dan anak-anak. Di tahun 2009, pemerintah menyelenggarakan program konversi minyak tanah ke bahan bakar gas. Program ini cukup berhasil karena mendorong peningkatan penggunaan bahan bakar bersih yang menjangkau lebih dari 50% penduduk Indonesia. Meski begitu, masih ada 20 juta rumah tangga yang bergantung pada kayu bakar.

Perempuan memiliki kaitan erat dengan energi dan ini selaras dengan temuan studi Bank Dunia di tahun 2003. Perbedaan tugas antara perempuan dan laki-laki di rumah tangga cukup signifikan, di mana sebagian besar tugas domestik dikerjakan oleh perempuan. Tersedianya energi bersih bagi perempuan akan berdampak pada efektivitas waktu dan juga penghematan biaya rumah tangga. Contoh sederhananya adalah perempuan tak perlu mengambil air dan mencari kayu bakar lagi. Pelibatan perempuan dalam pemenuhan akses energi harus terus ditingkatkan.

Pemerintah sudah menyadari pentingnya kaitan energi dan pemberdayaan perempuan, seperti disampaikan oleh Maritje Hutapea dari Ditjen Energi Baru dan Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), ESDM. Menurutnya, energi bersih dapat mengubah pola hidup dan pola pikir manusia. Energi bersih dan off-grid juga merupakan solusi untuk menembus daerah-daerah di Indonesia yang belum terjangkau listrik dan bahan bakar bersih. Anggaran pemerintah yang terbatas membuat Kementerian ESDM mencoba bekerja sama dengan swasta dan donor internasional. Untuk proses pra-elektrifikasi, pemerintah juga membangun pembangkit listrik tenaga surya komunal dan SHS.

Verania Andria dari  Millenium Challenge Account – Indonesia (MCAI) juga menyinggung mengenai syarat dan target dari MCAI sebagai donor yang membiayai berbagai program energi. Aspek gender telah dimasukkan dalam komponen perencanaan dan pemantauan. “Lokasi dan target jadi prioritas dalam program. Bukan hanya jumlah rumah yang akan diakses juga rumah yang kepala keluarga perempuan,” paparnya. Sejauh ini, MCAI telah mendanai program listrik EBT berbasis komunitas di 7 kabupaten dengan total investasi lebih dari US$54 juta. Menambahkan contoh nyata program yang sudah berjalan, Sandra Winarsa dari Hivos bercerita mengenai Sumba Iconic Island. Hivos menggunakan pendekatan pelibatan perempuan, sehingga kebutuhan pemenuhan akses energi dan penggunaannya mampu memberikan manfaat yang optimal bagi perempuan. Mama Seni adalah salah satu local champion di Sumba yang menjadi contoh keberhasilan pelibatan perempuan dan kaitannya dengan akses pada energi bersih.

Dalam Pojok Energi ini juga didiskusikan mengenai bagaimana lembaga lain seperti Baznas dapat berperan dalam program pemenuhan energi bersih dan bagaimana peran perempuan di daerah urban untuk terlibat dalam agenda pemenuhan energi bersih. Diskusi ini ditutup dengan impian Mama Seni dan Ibu Rovina yang ingin lebih berdaya dan memberdayakan perempuan lain dengan manfaat energi bersih yang mereka terima.