Millennial dan Masa Depan Efisiensi Energi

0
83

“Dasar anak millennial,” begitu Pak Bos sering berujar. Bukan dalam kondisi menyalahkan, ujaran itu sering muncul karena saya memakai sepatu boots merah atau kemeja  bergambar kelinci dan wortel ke kantor, menanggapi perbincangan di WhatsApp dengan gambar GIF, atau menjadi agen tak resmi segala macam jajanan di Instagram. Menurut beliau kelakuan saya agak ajaib sehingga beliau mengasosiasikan saya dengan stereotipe millennial yang aneh.

Padahal menurut saya, saya juga tak terlalu millennial. Saya tak begitu tech-savvy dibanding milennials pada umumnya, penggunaan medsos saya biasa saja, tidak setiap kali ngevlog atau menunjukkan kegiatan dengan InstaStories. Dalam pekerjaan, sumbangsih ke-millennial-an saya sungguh tak signifikan: mempublikasikan acara dengan Periscope, menyarankan model kultwit yang lebih interaktif, hingga membuat laporan lebih visual dengan bantuan Canva (dan platform tak berbayar lainnya).

Salah satu hal lain yang saya lakukan sebagai millennials adalah sesekali melakukan diseminasi dan advokasi mengenai isu yang menjadi bagian dari kerja profesional saya di media yang lebih luas dengan bahasa yang lebih populer. Energi atau perubahan iklim seringkali dianggap berat karena bahasa yang sangat serius atau penuh data, sedangkan para millennials dan publik cenderung lebih menyukai bahasa yang “dekat” dan sederhana.

Millennials di Tempat Kerja

Menurut statistik global dari ATKearney, populasi millennials di seluruh dunia sekitar 19% dari total populasi berdasar generasi, dan lebih dari separuhnya tinggal di Asia. Di India saja jumlahnya diperkirakan 385 juta orang, dan Indonesia termasuk salah satu negara dengan penduduk millennials yang juga banyak. Dengan mengasumsikan bahwa millennials “muda” dengan kelahiran 1995 – 2000 sedang atau baru saja lulus kuliah, maka sejumlah besar millennials memang saat ini menjadi penyumbang tenaga kerja yang cukup signifikan. Diperkirakan di tahun 2020, mayoritas pekerja adalah millennials karena mereka hampir semuanya memasuki usia produktif bekerja. Dan karena millennials dibesarkan dengan cara yang berbeda dengan baby boomers, dalam lingkup perkembangan teknologi yang juga berbeda, serta munculnya kesempatan yang luas untuk melakukan interaksi; mereka juga memiliki pola kerja yang berbeda. Perbedaan itu mencakup tingkat pendidikan, gaya komunikasi, keseimbangan kerja dan keluarga/pertemanan, hingga tujuan bekerja. Cukup berbeda sampai-sampai banyak sekali topik mengenai “bagaimana mengelola pekerja millennial”.

Jika Anda mengetik “millennials in the workplace”, video Simon Sinek ini berada paling atas. Boleh ditonton dulu, atau bisa juga saya rangkumkan isinya.

Dalam video tersebut, Simon Sinek menyebutkan segala karakteristik “buruk” millennials yang membuat mereka sulit beradaptasi di lingkup pekerjaan. Simon Sinek (menurut saya) memang agak menggeneralisasi, bahwa millennials itu narsis, kecanduan media sosial, entitled (apa ya bahasa Indonesianya? Dimanja?), hingga bahwa millennials itu cepat bosan lalu sering berganti pekerjaan.

Saya tak sepenuhnya setuju dan juga tak sepenuhnya membantah pendapat Simon Sinek, namun itu bukan topik bahasan saya kali ini.

Millennials menyukai kebebasan,

…… dan ini merupakan pertanda bagus untuk mendorong efisiensi energi. Salah satu poin penting yang disampaikan Simon Sinek adalah bagaimana millennials “mencintai” kebebasan dalam bekerja dan itu membuat mereka tak takut untuk berganti pekerjaan atau tidak memiliki pekerjaan tetap. Deloitte melakukan sebuah survei mengenai pekerja millennials dan mereka menemukan bahwa millennials mengharapkan pekerjaan yang stabil namun dengan situasi yang fleksibel (freelance flexibility with full-time stability). Situasi kerja yang fleksibel itu salah satunya adalah “tempat bekerja”.

Sebagai digital natives, millennials memang tumbuh dengan segala keuntungan dari teknologi, termasuk internet. Hal ini membuat keterhubungan menjadi sesuatu yang sangat mudah dilakukan, utamanya tanpa bertemu muka. Millennials umumnya melihat bahwa perbincangan atau diskusi, termasuk yang sifatnya profesional, bisa dilakukan tanpa harus berpindah tempat. Mereka juga (seperti dikatakan Simon Sinek) cepat bosan, sehingga situasi kerja yang mengharuskan rutinitas 9-5 di tempat yang sama merupakan sesuatu yang secara tidak langsung membuat mereka tidak bahagia. Tak heran banyak millennials yang suka bekerja sebagai freelance atau memilih pekerjaan yang memberi mereka kesempatan untuk bekerja tidak di kantor.

Dari segi efisiensi energi, saya melihat ini sebagai hal yang positif. Bekerja di kota dengan tingkat kemacetan luar biasa seperti Jakarta itu selain melelahkan, juga boros. Tidak hanya soal melaju (pergi-pulang kerja) dari pinggiran Jakarta ke tengah kota, juga soal rapat di luar kantor yang lokasinya sering berjauhan. Memberikan peluang bagi millennials untuk bekerja dari rumah atau dari lokasi yang dekat dengan tempat tinggal mereka sedikit banyak mengurangi penggunaan sarana transportasi. Pengadaan rapat virtual dengan metode komunikasi yang handal juga salah satu cara untuk mengurangi frekuensi bepergian. Efisiensi energi tak melulu soal penggunaan alat elektonik, melainkan juga mencakup bagaimana kita menghemat energi di sektor transportasi dan millennials sangat bisa berkontribusi terhadap penghematan di sektor ini. Pola kerja fleksibel ini juga diperkirakan akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah millennials di sektor kerja produktif dan semakin berkembangnya teknologi.

Selain persoalan transportasi, ketidakharusan datang ke kantor juga bisa berkontribusi pada efisiensi energi terutama di gedung perkantoran yang intensitas energinya tinggi untuk menyediakan penerangan, pendingin ruangan, elevator, hingga air.

Selain kebebasan, millennials adalah pendorong utama sistem ekonomi berbagi alias sharing economy. Millennials jauh lebih peduli soal akses dan bukan kepemilikan, sampai-sampai Jeremy Rifkin, seorang ekonom AS, mengatakan bahwa 25 tahun dari sekarang orang punya mobil adalah sesuatu yang aneh. Iya, millennials dengan keterbiasaan mereka dengan teknologi serta kerepotan kepemilikan barang memang cenderung memilih untuk “membeli akses”, salah satunya dengan pemanfaatan ojek/taksi daring. Bagi saya sederhana saja, untuk apa saya membeli mobil yang harganya sudah mahal, masih harus beli bensin, capek menghabiskan waktu di jalanan, dan barangkali hanya dipakai 30 jam seminggu? Jika millennials tak lagi berhasrat membeli kendaraan bermotor, dan mereka akan menjadi generasi yang dominan jumlahnya tak lama lagi; asumsi bahwa jumlah kendaraan bermotor akan berkurang tentu bukan sesuatu yang tidak mungkin. Lagi, pengurangan jumlah kendaraan bermotor dan berbagi transportasi juga adalah efisiensi energi. More millennials, less cars, less emissions.

Asumsi saya yang terakhir ini masih perlu dibuktikan dengan studi (mungkin ada yang mau menjadikannya topik skripsi/thesis/disertasi?). Namun fenomena ini sudah cukup banyak diulas, bahwa keberadaan millennials sangat berpengaruh pada melejitnya sharing economy dan menurunnya angka penjualan karena berkurangnya keinginan mereka untuk memiliki mobil sendiri, seperti yang dialami Toyota dan Ford.

Dua karakter millennials ini menurut saya punya potensi besar untuk mendorong inovasi efisiensi dan konservasi energi. Perusahaan, instansi, dan pemerintah dapat mengadopsi preferensi millennials ini dalam konteks efisiensi energi yang lebih berdampak. Bentuknya tentu bisa bermacam-macam, bisa kebijakan, bisa pula menyediakan fasilitas seperti coworking space. Soal transportasi, millennials juga sangat terbuka dengan penggunaan transportasi umum, terutama yang mudah diakses dan nyaman. Bukan tidak mungkin mereka akan menjadikan transportasi umum sebagai sarana transportasi utama ketika bisa diandalkan fasilitasnya, keterjangkauan jaraknya, dan ketepatan waktunya. Yang terakhir ini barangkali tak eksklusif milik millennials saja.

Jadi, apakah masa depan efisiensi energi ada di tangan millennials?

Salam hangat,

Marlistya Citraningrum, millennial, Program Manager for Sustainable Energy Transition, IESR

Kredit foto fitur: affinitymagazine.us