Pojok Energi Goes to Campus: Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta

0
482

Institute for Essential Services Reform (IESR) bersama Strategic Partnership for Green and Inclusive Energy yang didukung oleh HIVOS pada Senin, 11 Desember kembali menyelenggarakan seri diskusi Pojok Energi. Kali ini, IESR bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Tujuan dari diskusi Pojok Energi adalah untuk membawa isu energi-yang selama ini memiliki kesan eksklusif-ke ranah publik yang lebih luas, termasuk kaitannya dengan ekonomi dan untuk audiens dosen beserta mahasiswa.

Bertajuk “Pojok Energi Goes to Campus”, tema diskusi kali ini adalah “Energi sebagai Pendorong Pertumbuhan Ekonomi dalam Sistem Ekonomi Berkelanjutan dan Rendah Karbon”.

Hadir sebagai pembicara adalah Ida Finahari (Direktur Konservasi Energi, Kementerian ESDM), Marlistya Citraningrum (IESR), dan Herlitah (Dosen UNJ).

Energi dalam kaitannya dengan ekonomi, memiliki ciri khas sebagai komponen yang memungkinkan entitas dalam melakukan usaha atau komponen intermediate yang dapat memberikan nilai tambah dalam proses produksi. Dengan demikian, energi dibutuhkan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.

Konsep pembangunan dunia telah beralih dari brown economy yang hanya fokus pada aspek produksi untuk pemenuhan kebutuhan manusia, menuju green economy dan blue economy yang lebih memiliki perhatian terhadap lingkungan.

Salah satu yang jargon yang diusung dalam green economy adalah ekonomi rendah karbon. Hasil pembakaran energi berbasis fosil berupa gas rumah kaca (GRK) dalam jumlah yang berlebih akan menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Oleh karena itu, upaya optimalisasi konsumsi energi (konservasi energi) dan transformasi menuju energi terbarukan dibutuhkan untuk mewujudkan ekonomi yang rendah karbon.

Dalam kaitannya dengan ekonomi makro, Herlitah menjelaskan bahwa energi berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan angka inflasi. Dalam ekonomi energi-cabang dari ilmu ekonomi-terdapat konsep intensitas dan elastisitas energi. Intensitas energi didefinisikan sebagai jumlah energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk domestik bruto (PDB), sementara elastisitas energi didefinisikan sebagai kenaikan energi yang dibutuhkan untuk menaikkan produk domestik bruto (PDB) tertentu.

Berhubungan dengan perilaku ekonomi, Ida Finahari menghimbau penggunaan energi lebih ke sektor ekonomi produktif daripada konsumtif. Hal lain yang dapat dilakukan adalah mengurangi perilaku penggunaan energi yang sia-sia.

Ada banyak upaya kecil, keseharian, tetapi signifikan yang dapat dilakukan dalam upaya penghematan energi. Dalam skala rumah tangga hal-hal kecil dapat dilakukan seperti mematikan televisi saat tidak digunakan atau mencabut charger dari stop-kontak meski tidak sedang mengisi daya baterai. “Dengan upaya penghematan seperti itu, setidaknya bisa mengurangi konsumsi energi hingga 10%” jelas Finahari.

Aksesibilitas energi di Indonesia jugamasih dalam kondisi ketimpangan yang cukup besar. Menurut data Kementerian ESDM, masih ada setidaknya 7% desa di Indonesia yang belum teraliri listrik. Dari jumlah yang teraliri listrik itu pun tidak semuanya memiliki kehandalan yang baik.

Upaya dalam menyediakan energi kadangkala tidak perlu menunggu pemerintah. Terobosan-terobosan usaha (entrepreneurship) dapat digunakan sebagai alternatif.

Marlistya Citraningrum dalam pemaparannya memberikan contoh kasus Mama Rovina yang tinggal di Lembata, NTT. Pada tahun 2011, Mama Rovina berkenalan dengan teknologi bersih berupa lampu tenaga surya yang didistribusikan oleh sebuah organisasi sosial. Dengan berperan sebagai agen penjualan, Mama Rovina memasarkan lampu tersebut seharga 120.000 rupiah. Harga yang tidak murah bagi kondisi perekonomian warga sekitar.

Pada mula warga sekitar merasa keberatan. Namun, setelah beberapa warga merasakan manfaat yang diperoleh disertai skema pembelian kredit yang meringankan, angka penjualan Mama Rovina lambat-laun meningkat.

Manfaat dari lampu juga dirasakan langsung oleh Mama Rovina untuk kegiatan produktif. Pada malam hari, penerangan memudahkan Mama Rovina untuk menangkap teripang–teripang memiliki sifat alami untuk mendekat ke sumber cahaya di laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Hasilnya, Mama Rovina yang semula menumpang di rumah pamannya sekarang memiliki rumah sendiri.

Hal lain yang disorot oleh Marlistya Citraningrum adalah peran perempuan dalam ruang diskusi tentang energi. Selama ini, perempuan cenderung memiliki porsi yang termarginalkan. Padahal, posisi perempuan dalam pemanfaatan energi cukup strategis terutama dalam ranah domestik.

Berbicara lebih jauh mengenai green economy, Indonesia ikut berkomitmen dalam mendorong ekonomi yang rendah karbon melalui Perjanjian Paris yang ditandatangani tahun 2015. Dalam Nationally Determined Contribution (NDC)-nya, Indonesia berkewajiban untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan usaha sendiri atau 41% dengan bantuan internasional pada tahun 2030.

Emisi gas rumah kaca di sektor energi dihasilkan dari proses pembakaran energi fosil. Seperti yang dituturkan Ida Finahari, strategi pemerintah untuk menurunkan emisi gas rumah kaca adalah dengan penggunaan energi terbarukan dan konservasi energi. “Pemerintah pada tahun 2025 memiliki target bauran energi 23 persen dari energi baru-terbarukan (EBT),” tutur Ida. “Begitu kita bisa menghemat energi kita, berarti mengurangi penggunaan energi fosil. Hal ini akan mengurangi emisi gas rumah kaca,” lebih jauh jelas Ida mengenai peran konservasi energi.

Dari diskusi ini dapat disimpulkan bahwa energi dibutuhkan manusia untuk kegiatan ekonomi demi meningkatkan kesejahteraannya. Energi dapat digunakan untuk proses produksi, meningkatkan potensi produksi, maupun memberikan nilai tambah terhadap hasil produksi. Namun, ketersediaan energi terbatas. Penggunaan energi juga memiliki efek terhadap lingkungan. Oleh karena itu, pemanfaatannya harus dilakukan secara bijak dan efisien. Dimulai dari kita, dimulai dari hal yang sederhana.

Artikel ini ditulis oleh Kukuh Samudra, internee di IESR dan disunting oleh Marlistya Citraningrum.