Pojok Energi Edisi Khusus Perempuan dan Energi: Perempuan Bicara Energi Akses Energi Yang Setara

0
253

Institute for Essential Services Reform (IESR) bersama Strategic Partnership for Green and Inclusive Energy menggelar Pojok Energi Women and Energy Festival: Perempuan Bicara Energi Akes Energi Yang Setara. Empat perempuan membuktikan bahwa usia dan jenis kelamin bukan halangan untuk berkarya di sektor energi, asalkan ada semangat dan kerja keras untuk mewujudkan akses energi yang adil bagi masyarakat.

Empat pendekar perempuan sektor energi (kiri ke kanan) : Asclepias Rahmi, Prianti Utami, Maritje Hutapea, Tri Mumpuni

Tiga puluh empat tahun sudah Maritje Hutape mengabdikan dirinya di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM). Jabatan terakhirnya adalah Direktur Aneka Energi di Direktorat Jenderal Energi Baru dan Terbarukan, sebelum masa pensiun menyambutnya di penghujung tahun 2017 lalu.

Maritje adalah satu dari sedikit perempuan di Indonesia yang berkiprah di sektor energi. Banyak kalangan yang mengenalnya sebagai perempuan yang penuh semangat untuk mewujudkan akses energi bersih bagi masyarakat-khususnya mereka yang tinggal di kawasan terpencil di Indonesia.

“Ada kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan ketika melihat masyarakat bisa menikmati terangnya lampu di malam hari. Atau ibu-ibu yang membuka usaha kecil di rumah karena adanya listrik. Mereka tak perlu lagi mengahabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari kayu bakar dan air.” ujar Maritje saat berbincang dalam acara Women and Energy Festival yang diselenggarakan IESR dalam program Strategic Partnership for Green and Inclusive Energy, Desember lalu.

Akses energi yang adil, ujar Maritje, memang masih menjadi tantangan yang besar. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau menjadi satu kendala dalam penyediaan akses listrik yang terintegrasi. Tantangan lainnya, keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki ketrampilan di sektor energi.

“Terbatasnya kesempatan pendidikan bagi perempuan, menyebabkan sektor ini lebih banyak didominasi oleh kaum laki-laki, penyediaan layanan energi pun menjadi sangat bias gender. Padahal perempuan adalah pihak yang paling membutuhkan pasokan energi, karena setiap hari mereka yang mengurusi mulai dari bahan untuk memasak, penerangan dan kebutuhan lainnya” jelasnya lagi.

Situasi ini yang kemudian mendorong Maritje untuk terus berkomitmen menyiapkan regulasi untuk bisa mendorong penyediaan akses energi yang terdesentralisasi, bersih dan juga adil terhadap semua kelompok, perempuan ataupun laki-laki.

Selain Maritje ada pula Tri Mumpuni, Direktur Institute Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) yang juga dikenal sebagai perempuan gigih untuk urusan energi perdesaan. Perempuan asal Semarang ini telah menghabiskan pengalaman selama dua puluh tahun lebih untuk menelusuri berbagai wilayah terpencil di Indonesia dan membangun instalasi energi terbarukan, seperti pembangkit listrik tenaga mikro hidro dan tenaga surya.

Dan tak hanya membangun bangunan fisik dan infrastruktur, Mumpuni-demikian dia biasa dipanggil-juga menyiapkan kapasitas masyarakat agar mampu mengoperasikan dan memelihara proyek-proyek energi yang telah dibangun, tak terkecuali kapasitas kaum perempuan.

“Saya selalu mengatakan kepada masyarakat, perempuan dan laki-laki mempunyai kemampuan dan hak yang sama. Yang membedakan antara keduanya hanya karena laki-laki tidak bisa hamil, melahirkan dan menyusui” ujar Mumpuni.

Itu sebabnya, dalam setiap proyek yang dibangunnya, keterlibatan perempuan menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian.

Mumpuni kini mulai menyiapkan generasi muda untuk terjun di sektor energi. Dia membangun program “Patriot Energi” yang berperan sebagai tenaga pendamping bagi masyarakat untuk mengembangkan proyek-proyek energi terbarukan di kawasan perdesaan. Dia juga mengelola dana publik dan mengajak serta masyarakat umum untuk terlibat langsung dalam pendanaan proyek-proyek energi terbarukan di berbagai wilayah di Indonesia.

Akses energi yang juga penting adalah bahan bakar untuk memasak. Selama ini masyarakat -khususnya kaum perempuan yang tidak sadar bahwa asap dari pembakaran kayu bakar di dapur dapat menyebabkan gangguan kesehatan.

Asap dari tungku memasak penjadi penyebab gangguan kesehatan bagi perempuan dan keluarga

“Tungku adalah jantung dari sebuah rumah tangga karena dari sana makanan untuk seluruh keluarga diolah. Jika tungku yang digunakan di rumah tidak sehat dan menghasilkan banyak asap, maka kesehatan seluruh anggota keluarga juga akan terganggu” ujar Prianti Utami.

Meski memiliki peran yang sangat penting, sayangnya, kata Prianti, belum ada perubahan dalam penggunaan tungku biomassa yang kerap menimbulkan polusi dan menganggu kesehatan. Meskipun sekarang telah ada gas, masih banyak anggota masyarakat yang tetap menggunaan kayu bakar sebagai bahan bakar untuk memasak.

Itu sebabnya, selama tiga puluh tahun lebih Prianti bersama organisasinya Yayasan Dian Desa bekerja sama dengan Kementerian ESDM dan Bank Dunia untuk mengembangkan berbagai model tungku yang sehat dan hemat energi.

Tantangan lainnya dalam penyediaan akses energi di Indonesia adalah keterbatasan informasi mengenai kebutuhan energi. Tidak hanya di tingkat daerah, tapi juga di tingkat pusat.

“Terbatasnya informasi mengenai kebutuhan energi menyebabkan sedikitnya pihak yang terlibat dalam penyediaan akses energi yang memadai bagi masyarakat. Terkadang pemerintah daerah pun menyangkal kalau daerahnya masih mengalami kemiskinan energi.” Asclepias Rahmi atau biasa dipanggil Ami.

Bergelut selama lebih dari 20 tahun dalam kebijakan ekonomi energi, Ami kini bekerja untuk mengembangkan sistem informasi energi yang dapat digunakan secara mudah oleh masyarakat dan pemerintah dalam mendukung penyediaan akses energi.