Serving the Last Miles: Defining Energy Access

0
752

Tarif Listrik Naik, Rakyat Menjerit

“Dulu ya setelah gelap, tidak ada kegiatan, Bu. Susah juga untuk saya jika ada warga yang membutuhkan bantuan kesehatan, lampu petromaks dan pelita tak cukup terang,” Bidan Marlin bercerita. Sebagai satu-satunya tenaga kesehatan di Desa Balurebong, Marlin menjadi rujukan semua masyarakat ketika mereka memerlukan bantuan kesehatan, tak hanya soal kehamilan dan kelahiran. Diakuinya, sulit memberikan layanan optimal ketika penerangan terbatas.

Desa Balurebong di Lembata, Nusa Tenggara Timur itu memang belum dialiri listrik. Beberapa tahun lalu desa ini menerima bantuan instalasi listrik surya atap rumahan dari pemerintah kabupaten. Instalasi yang hanya cukup untuk beberapa lampu dan satu colokan pengisi daya telepon genggam.

Balurebong hanyalah satu di antara ribuan desa di Indonesia yang belum beruntung mendapatkan akses listrik, setelah hampir 73 tahun negara ini merdeka. Berada di puncak sebuah bukit, Balurebong memiliki 4 dusun yang lokasinya berjauhan. Jaringan PLN sudah hendak menyentuh Balurebong, meski baru tiang pancangnya yang mulai terlihat di pinggir jalanan beraspal-berbatu-bercampur tanah yang menghubungkan desa itu dengan jalan kabupaten.

Marlin menaruh harapan besar bahwa listrik yang sebenar-benarnya listrik akan sampai di desanya segera.

“Sebenar-benarnya Listrik”

Sebagai seseorang yang besar di desa dan lahir ketika listrik sudah masuk desa, mulanya saya mengenal listrik sebagai penerangan saja. Tidak ada peralatan di rumah yang membutuhkan listrik selain lampu saat itu. Ketika zaman berubah pelan-pelan, mulailah saya mengenal listrik untuk televisi, untuk menyetrika, untuk menyalakan radio tape. Dari sana saya mulai paham, betapa listrik memegang peranan jauh lebih banyak dari sekadar terang.

Pemahaman Bidan Marlin agaknya serupa dengan pemahaman yang saya miliki. “Sebenar-benarnya listrik” mungkin terdengar aneh, utamanya bagi orang yang tak mengalami ketiadaan akses energi. Bidan Marlin tahu bahwa instalasi listrik surya atap rumahan yang terpasang di rumahnya hanya mampu menyediakan listrik dalam jumlah yang terbatas. Penerangan memang bisa membantunya bekerja lebih baik. Namun listrik yang bisa digunakannya untuk kegiatan lain, untuk peralatan kesehatan yang dimilikinya, atau untuk menunjang kegiatan belajar anaknya di sekolah adalah kemewahan yang saat ini belum dialaminya.

Listrik adalah kebutuhan dasar kita sebagai manusia modern, dan ironisnya, kebutuhan itu masih menjadi kemewahan bagi banyak saudara sebangsa kita.

Akses energi, termasuk listrik, adalah pendorong pembangunan, perekonomian, dan pendidikan. Kepercayaan ini mensyaratkan akses listrik yang bukan sekadar lampu saja, melainkan listrik berkualitas yang mampu menjadi energi untuk melakukan beragam aktivitas produktif.  Penyediaan air dengan pompa membuat perempuan dan anak-anak memiliki waktu lebih banyak untuk kegiatan lainnya, penggunaan alat-alat produksi berlistrik dapat memangkas waktu  dan tenaga yang dikeluarkan secara lebih signifikan, penggunaan media elektronik juga meningkatkan kualitas komunikasi dan penyebaran informasi.

Pendidikan, elemen penting dalam pembangunan kualitas manusia, juga dipengaruhi oleh akses energi. Tidak adanya penerangan yang memadai membuat anak-anak sulit untuk belajar dan membaca di rumah. Selain tidak efisien, pelita dan lampu minyak tanah dapat mempengaruhi kesehatan karena menyebabkan polusi dalam ruangan. Dengan adanya listrik, informasi menjadi lebih tersebar dengan penggunaan komputer dan beragam alat multimedia lainnya. Listrik dinilai memberikan dampak positif pada peningkatan kualitas pendidikan (Beuermannet al., 2015) serta menjadi salah satu faktor pendorong yang meningkatkan kemungkinan siswa untuk tinggal di sekolah (Bridge et al., 2016). Keberadaan listrik memperluas kesempatan untuk pendidikan yang lebih layak, lebih komprehensif, dan lebih terbuka.

Dan tentunya akses listrik tidak bisa memberikan manfaat maksimal ketika tidak tersedia secara penuh. Jawa dan kota, si anak istimewa, bisa merasakan listrik selama 24 jam. Namun masih banyak daerah tersambung listrik di Indonesia yang hanya bisa menikmati listrik selama 12 jam, 8 jam, bahkan 4 jam saja.

Akses listrik untuk kegiatan produktif dan tersedia secara berkesinambungan adalah “sebenar-benarnya listrik” yang kita perlukan.

Melistriki Desa

Pemerintah saat ini memiliki tiga pendekatan penyediaan listrik untuk daerah perdesaan di Indonesia: ekspansi jaringan PLN, program pra-elektrifikasi dengan penyediaan lampu tenaga surya hemat energi (LTSHE), dan penyediaan listrik energi terbarukan micro-grid off-grid. Perluasan jaringan adalah pendekatan berbasis pembangkitan listrik terpusat (centralized generation) yang punya beberapa syarat untuk masuk skala keekonomian. Selain jarak, perluasan jaringan hanya efektif bila daerah sasaran memiliki populasi yang cukup tinggi. Dalam sistem pembangkitan terpusat, juga terdapat risiko susut tenaga listrik (losses) dengan jalur distribusi dan transmisi yang panjang. Tenaga listrik yang hilang sepanjang jalur distribusi ke pengguna akhir mempengaruhi besaran biaya pokok penyediaan listrik. Karenanya, keandalan jaringan mutlak diperlukan untuk memastikan penyediaan listrik yang berkualitas. Lagi, ini memakan biaya yang tak sedikit.

Sementara itu, program penyediaan LTSHE haruslah dipandang sesuai tujuannya: pra-elektrifikasi. Dengan definisi akses energi yang menyasar kegiatan produktif, program pra-elektrifikasi justru belum bisa disebut sebagai langkah strategis penyediaan akses energi untuk pembangunan. Ini adalah langkah “pemadaman kebakaran”, tindakan sementara, karena sebatas menyediakan penerangan. Di samping itu, distribusi LTSHE sangat bergantung pada data yang disampaikan oleh pemerintah daerah dan kesadaran pemerintah daerah setempat. Bupati haruslah mengajukan desa mana saja yang menjadi target distribusi LTSHE, artinya desa yang tak diajukan dalam proposal tersebut akan terlewatkan. Sementara data sering menjadi kelemahan kita di Indonesia, pemerintah harus memastikan bahwa distribusi ini mencapai sasaran yang tepat.

Karena pembangkitan terpusat sulit menjangkau perdesaan dan distribusi LTSHE bersifat jangka pendek, maka pendekatan desentralisasi energi dengan pemanfaatan sumber energi terbarukan setempat adalah pilihan yang bisa menjawab tantangan pemenuhan akses energi di Indonesia. Pilihan ini seharusnya bisa menjadi prioritas melistriki desa, mengingat potensi energi terbarukan di Indonesia sangatlah besar. Tiga sumber energi terbarukan yang jamak ditemui di banyak desa di Indonesia adalah air, angin, dan surya. Dengan memanfaatkan sumber energi terbarukan tersebut, dapat dibangun pembangkit listrik skala kecil dengan jaringan mini-grid atau micro-grid. Pendekatan ini juga memiliki beberapa prasyarat: komunitas yang berdaya, pemerintah daerah yang memiliki kapasitas, hingga keberadaan insentif finansial. Desa mandiri energi seperti Kamanggih di Pulau Sumba bisa menjadi salah satu contoh praktek terbaik, namun menduplikasi Kamanggih untuk banyak desa lain di Indonesia tidak bisa dilakukan tanpa terlebih dahulu memastikan faktor-faktor pendukung yang ada di sana juga tersedia di lain desa.

Melistriki desa memang tak mudah, sehingga perubahan paradigma penyediaan akses energi dan membuka mata akan adanya beragam cerita pemenuhan energi desa dengan energi terbarukan setempat adalah pembelajaran yang sangat bisa dijadikan cetak biru desentralisasi energi di Indonesia.

The time is now.

Marlistya Citraningrum, millennial, Program Manager for Sustainable Energy Transition, IESR