Kebijakan Soal Mobil Listrik Ditunggu

0
259

JAKARTA, KOMPAS–Pengembangan kendaraan listrik kian mendesak di tengah situasi harga minyak yang terus menanjak. Sampai sekarang, rencana penerbitan peraturan presiden mengenai pemanfaatan tenaga listrik untuk transportasi belum ada titik terang.

Padahal, selain lebih ramah lingkungan, kendaraan listrik juga mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak.

Wiebe Wakker (31) warga negara Belanda duduk di mobil listriknya ketika singgah di Banyuwangi, Rabu (14/3). Wiebe sedang dalam misi perjalanan dari Belanda ke Australia sejauh 70.000 km untuk membawa pesan pentingnya energi berkelanjutan dan kendaraan ramah lingkungan.

 

”Belum rampung. Saya tidak bisa memastikan apakah tahun ini bisa selesai,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Agung Pribadi saat ditanya mengenai kemajuan penyusunan peraturan presiden (Perpres) tersebut, Senin (2/4/2018), di Jakarta.

Pada Juli 2017, Menteri ESDM Ignasius Jonan melempar wacana penyusunan Perpres tentang kendaraan listrik di Indonesia. Dalam peraturan itu, penjualan kendaraan berbahan bakar minyak akan dilarang mulai 2040. Pemerintah juga menargetkan membangun setidaknya 1.000 stasiun pengisian listrik umum (SPLU).

Direktur Institute for Essential Services Reform Fabby Tumiwa mengatakan, pengembangan kendaraan listrik di Indonesia sangat bergantung pada kebijakan pemerintah. Dalam kebijakan tersebut sebaiknya diatur soal insentif untuk pengguna kendaraan listrik, bukan pada produsen. Selain itu, infrastruktur berupa SPLU sebaiknya diperbanyak.

”Kebijakan itu akan terus ditunggu. Di sejumlah negara sudah ada pembatasan pemakaian kendaraan berbahan bakar minyak. Bagaimana di Indonesia? Bagaimana visi 20 atau 30 tahun ke depan? Apakah akan tetap membolehkan kendaraan berbahan bakar fosil atau mewajibkan pemakaian kendaraan listrik? Itu mesti diperjelas,” ujar Fabby.

Di Indonesia, PLN telah membangun 875 SPLU di sejumlah kota besar, seperti DKI Jakarta, Bandung, Makassar, Surabaya, Lampung, dan Pekanbaru. Menurut Kepala Satuan Komunikasi Korporat PT PLN I Made Suprateka, PLN tengah mengembangkan pengisian ulang daya listrik kendaraan secara cepat.

Mengutip Bloomberg, China merupakan salah satu negara yang mengembangkan mobil listrik secara masif. Penjualan mobil listrik global yang tahun lalu mencapai 1 juta unit untuk pertama kalinya, lebih dari separuhnya terjual di China. China memberikan potongan harga untuk pembelian mobil listrik dan mengenakan denda kepada produsen mobil dengan emisi gas buang yang melampaui batas yang ditetapkan.