LPG Melon Masih Dijual Bebas, LPG 3 Kg Nonsubsidi Bakal Tak Laku

0
96

Jakarta-Kumparan.com. PT Pertamina (Persero) akan meluncurkan LPG 3 kg nonsubsidi pada 1 Juli 2018. LPG 3 kg nonsubsidi ini ditujukan bagi masyarakat mampu agar tidak lagi menggunakan gas tabung melon untuk rumah tangga miskin dan usaha kecil menengah yang selama ini disubsidi pemerintah.

Selama ini, LPG 3 kg subsidi dinikmati tidak hanya oleh masyarakat miskin tapi juga dari kalangan mampu.

Namun, Pengamat energi dari Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai, produk baru Pertamina ini tidak akan efektif menekan konsumsi LPG 3 kg yang bersubsidi. Menurutnya, yang harus dibenahi adalah sistem distribusi tertutup pada LPG 3 kg bersubsidi.

Pertamina akan kesulitan menjual LPG 3 kg nonsubsidi jika LPG 3 kg subsidi masih bebas dikonsumsi oleh masyarakat mampu. Distribusi tertutup untuk LPG 3 kg bersubsidi harus segera diterapkan.

“LPG 3 kg non-subsidi dikeluarkan kan karena ada tekanan agar orang mampu tidak beli membeli LPG yang subsidi. Hanya yang menjadi kendala adalah kalau penyaluran LPG 3 kg subsidi tetap tidak dilakukan secara tertutup, saya khawatir Pertamina akan mengalami kesulitan mengalami jual produk itu karena selama ini kan tidak tertutup penjualannya,” katanya saat dihubungi kumparan, Minggu (24/6).

Menurut Fabby, aksi Pertamina mengeluarkan produk ini karena Kementerian ESDM tidak segera menemukan formula yang pas untuk distribusi tertutup LPG 3 kg bersubsidi.

Merujuk pada data Pertamina, terjadi kenaikan konsumsi LPG 3 kg dalam tiga tahun terakhir. Tercatat di 2015, konsumsi LPG mencapai 5,567 juta Metrik Ton (MT). Sedang di 2016 menjadi 6,005 juta MT, dan di 2017 naik lagi menjadi 6,305 juta MT.

Subsidi LPG untuk warga miskin (Foto: ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

Tahun ini realisasi penyaluran LPG 3 kg bersubsidi diperkirakan akan kembali membengkak, melebihi kuota yang ditetapkan pemerintah dalam APBN 2018 sebesar 6,45 juta MT. Pertamina memprediksi realisasi penyaluran LPG 3 kg tahun ini sekitar 6,7 juta MT atau over kuota sebesar 250 ribu MT.

Karena itu, Fabby mendorong agar Kementerian ESDM segera temukan formula distribusi tertutup untuk subsidi LPG.

“Jadi jangan Pertaminanya harus akrobat. Kashian Pertamina karena regulatornya yang harus bertanggung jawab dengan distribusi tertutup hingga hari ini enggak mau mikir yang benar karena ketidakmampuan mereka. Itu membuat Pertamina melakukan akrobat-akrobat yang menurut saya tidak efektif menyelesaikan persoalan meningkatnya konsumsi LPG 3 kg subsidi,” katanya.

Pengamat energi dari Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, juga mengatakan hal yang sama. Menurutnya distribusi tertutup harus segera dilakukan. Jika tidak, Pertamina akan semakin terbebani dengan konsumsi LPG 3 kg subsidi.

Salah satu penyebabnya karena selama ini yang disubsidi adalah barangnya, bukan orangnnya. Sementara jika menyoal subsidi akan bersinggungan dengan norma di masyarakat.

“Katakanlah warna gasnya berbeda, tapi masing-masing pihak punya parameter sendiri soal dia berhak beli yang hijau (LPG 3 kg bersubsidi) atau tidak ya. Misalnya saya berhak menilai orang lain enggak berhak terima LPG 3 kg yang hijau tapi orang itu merasa perlu, kan juga susah. Dan pemerintah juga enggak bisa kasih sanksi untuk itu,” kata Komaidi.

Sejak digagas pada 2011 lalu, pemerintah sendiri berkali-kali mengatakan mekanisme distribusi tertutup masih dikaji. Pada Desember 2017, pemerintah mengundurkan jadwal distribusi tertutup Elpiji 3 kg bersubsidi hingga 2019 yang harusnya bisa dilakukan tahun ini. Belum terkumpulnya data yang valid mengenai siapa saja penerima gas melon bersubsidi itu menjadi alasan utamanya.

Sumber: Kumparan.com