Persentase Bauran Energi Terbarukan yang Tinggi Dapat Memenuhi Kebutuhan Listrik di Sistem Jawa-Bali dan Sumatera Secara Handal dan Kompetitif

0
275

Jakarta, 21 Februari 2019

Sistem kelistrikan di Jawa-Bali dan Sumatera dapat dipenuhi kebutuhan listriknya secara handal dengan pasokan listrik dari pembangkit energi terbarukan yang lebih tinggi kapasitasnya daripada yang direncanakan dalam RUPTL 2018-2027. Demikian kesimpulan dari Kajian Peta Jalan Sektor Ketenagalistrikan Indonesia: Bagaimana Energi Terbarukan Dapat Melistriki Jawa-Bali dan Sumatera.

Kajian ini juga menemukan bahwa penetrasi listrik energi terbarukan sebesar 43% tidak mengurangi kehandalan pasokan listrik. Dari sisi biaya, dengan mengakomodasi pembangkit energi terbarukan sebesar 43%, yang lebih tinggi dari proyeksi 23% pada 2025 sesuai skenario RUPTL, simulasi biaya sistem yang dihasilkan tidak terlalu berbeda. Ini artinya walaupun porsi energi terbarukan lebih besar, biaya produksi tenaga listrik di sistem Jawa-Bali dan Sumatera tidak lebih mahal jika dibandingkan dengan sistem dengan porsi PLTU batubara lebih besar.

Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif IESR menyatakan, “Kajian ini mematahkan mitos yang selama ini dipercayai perencana kelistrikan di pemerintah dan PLN bahwa apabila pembangkit energi terbarukan porsinya lebih banyak akan membuat biaya produksi listrik lebih mahal dan sistem menjadi kurang handal.”

Sebaliknya, kata Fabby, hasil simulasi dalam kajian ini menunjukkan bahwa dengan perhitungan laju pertumbuhan permintaan yang lebih rasional berdasarkan trend sebelumnya dan dengan memasukkan parameter biaya investasi pembangkit energi terbarukan yang sesuai dengan kondisi saat ini maka kapasitas pembangkit energi terbarukan yang diintegrasikan dapat lebih besar dengan biaya produksi listrik yang masih kompetitif. Selain itu, risiko stranded assets (aset terdampar) juga lebih rendah dibanding dengan sistem yang didominasi oleh PLTU Batubara.

“Bahkan hasil dari salah satu skenario porsi energi terbarukan yang lebih tinggi dan penghematan energi yang realistis mengindikasikan adanya penghematan biaya modal (capital expenditure) sebesar 20% atau setara dengan US$10 miliar (Rp 140 triliun) dari skenario RUPTL 2018-2027. Selain itu, dengan adanya penetrasi energi terbarukan yang lebih tinggi, maka didapatkan manfaat-manfaat sosial, kesehatan, penurunan emisi CO2 serta penurunan risiko aset terdampar (stranded asset) PLN di kemudian hari,” imbuh Fabby.

Kajian Peta Jalan Sektor Ketenagalistrikan Indonesia ini dilakukan oleh Institute for Essential Services Reform (Indonesia) dan Monash Grid Innovation Hub dari Monash University (Australia), dengan dukungan teknis dari Agora Energiewende (Jerman). Kajian ini dilakukan selama lebih dari 10 bulan dengan berbasis pada RUPTL 2018-2027. Tim riset Monash University, Agora Energiewende, dan IESR membangun model sistem kelistrikan Jawa-Bali dan Sumatera dan kemudian membuat skenario-skenario alternatif dari RUPTL dan data-data pembangkitan serta jaringan di kedua sistem tersebut.

“Kajian ini, yang mengintegrasikan investasi untuk pembangkitan dan pengembangan transmisi, merupakan yang pertama kalinya dilakukan untuk Indonesia. Kajian ini menggunakan PLEXOS dari Energy Exemplar, salah satu perangkat lunak tercanggih dan terbaik di dunia untuk perencanaan sistem energi,” kata Dr. Ariel Liebman dari Monash University, sekaligus kepala tim riset dan pemodel utama dalam kajian ini.

“Dengan mengintegrasikan perangkat lunak perencanaan kelistrikan yang paling mutakhir saat ini, dan mempertimbangkan kebutuhan listrik di masa depan yang lebih rasional serta memperhitungkan biaya investasi pembangkit energi terbarukan dan energi fosil yang terbaru ke dalam sebuah model tunggal, maka sesungguhnya kita bisa memperoleh solusi energi terbarukan yang tidak saja layak tapi juga dengan biaya yang terjangkau untuk sistem Jawa-Bali dan Sumatera,” imbuh Dr. Ariel Liebman.

IESR berharap kajian ini dapat menjadi referensi pembahasan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) yang dilakukan oleh KESDM dan penysunan RUPTL 2019-2028 dan seterusnya. IESR juga menghimbau Menteri ESDM dan PLN untuk mengkaji asumsi-asumsi yang dipakai selama ini dalam menyusun RUKN dan meninggalkan paradigma lama dalam perencanaan ketenagalistrikan yang masih mengedepankan pembangunan PLTU dengan alasan batubara merupakan energi murah dan lebih handal.

IESR juga mendesak Kementerian ESDM dan PLN untuk meninjau ulang rencana pembangunan PLTU batubara yang ada saat ini dengan memperhitungkan trend pertumbuhan permintaan listrik dan biaya teknologi pembangkit energi terbarukan terkini untuk mengembangkan skenario penyediaan listrik jangka panjang yang rendah karbon. Hasil RUKN dan RUPTL harus mengakomodasi kepentingan publik melalui proses penyusunan yang transparan dan partisipatif, melibatkan universitas, para ahli, lembaga think-tank, dan masyarakat.

Untuk mendorong pembangunan pembangkit energi terbarukan dalam skala besar, maka pemerintah perlu memperbaiki kerangka kebijakan dan regulasi serta iklim investasi yang dapat menstimulus investasi energi terbarukan oleh publik dan swasta secara efektif, serta menghilangkan hambatan-hambatan investasi energi terbarukan. Pemerintah juga dapat memberikan target yang ambisius kepada PLN untuk mengembangkan pembangkit energi terbarukan dan menyederhanakan proses serta prosedur kontrak dengan pembangkit energi terbarukan swasta (IPP).

Silahkan unduh PDF disini

Laporan Akhir dari kajian ini akan dimuat pada 28/02/2018. Permintaan laporan dapat diajukan dengan mengirimkan email ke: iesr@iesr.or.id

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi
Jannata Giwangkara, Manajer Program Tranformasi Energi
Email: egi@iesr.or.id | Mobile: 6281284873488