Banjir Besar Jakarta dan Jawa di antara tahun 2025-2050

May, 25 2010

Penulis :

Hasil Penelitian Sementara Adaptasi Perubahan Iklim Wilayah Urban

Jakarta, 26 Mei 2010

Jakarta dan Jawa diperkirakan akan mengalami bencana banjir dahsyat yang luar biasa dalam kurun waktu antara tahun 2025-2050. Jakarta juga akan kehilangan area sebesar 32,4 km2, sementara Jawa 66,6 km2 di tahun 2025. Sementara itu masyarakat urban yang tinggal di pesisir utara Jakarta terutama masyarakat nelayan di Kamal Muara, Jakarta Utara, secara mandiri dan spontan mulai menyesuaikan kehidupannya terkait dengan dampak perubahan iklim global yang mereka alami. Kesalahan urus tata ruang dan kebijakan yang tidak pro ekologis juga menjadi penyebab kerentanan iklim di wilayah urban. Demikian diungkapkan dua peneliti IESR (Institute for Essential Services Reform), Yan F Permadhi, dan Febby Dwi Rahmadi, dalam diskusi terbatas para ahli terkait hasil kajian penelitian sementara mereka tentang: Kerentanan Perubahan Iklim Masyarakat Urban Kota (Jawa dan DKI Jakarta).

Dalam presentasi resume hasil kajian sementara berjudul: Permodelan Iklim di Pulau Jawa dan DKI Jakarta, Yan mengungkapkan bahwa dia mengambil data dasar secara globalnya IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) dimana kenaikan suhu secara global di tahun 2001 dan 2007. Akibat kenaikan suhu tersebut telah menyebabkan dampak fisis dan sosial ekonomi. Artinya tidak hanya berdampak terkait dengan gejala alam dan meteorologist tapi juga secara ekonomi, misalnya bencana kekeringan, badai, dan sejenisnya yang merusak infrastruktur, kerentanan sosial juga konflik di beberapa Negara yang rentan. Termasuk Indonesia tentu saja. Namun demikian dia mengambil contoh penelitiannya adalah Jakarta sebagai ibukota Negara dan pembandingnya kemudian dengan Jawa pada umumnya.

Yan sendiri mengkaji tentang pengaruh unsur iklim terutama temperatur dan hujan untuk Jawa dan DKI Jakarta hingga 100 tahun ke depan. Dia memakai rentang waktu climatic-nya setiap 25 tahun. Dia menggunakan skenario yang biasa digunakan IPCC tentang skenario terbaik dan terburuk dalam bentuk A1 B, A2, dan B1.

Skenario yang dimaksud A1B adalah dunia masa depan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat, tingkat pertumbuhan penduduk rendah dan pengenalan gencar teknologi yang efisien. Skenario A2 adalah dunia yang sangat heterogen, dengan identitas kedaerahan yang semakin tajam dengan penekanan pada tradisi local dan nilai-nilai kekeluargaan. Menurut skenario ini tingkat pertumbuhan penduduk tinggi, namun memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi rendah. Sementara scenario B1 adalah dunia yang konvergen dengan populasi yang sama dengan A1, namun dengan perubahan yang lebih mencolok pada pertumbuhan ekonomi di bidang pelayanan dan informasi.

Dari hasil penelitiannya akan menjadi menarik ketika ada overlay dengan penelitian yang dilakukan Febby terutama dalam mengetahui dampak perubahan iklim terhadap peningkatan resiko bencana (lebih terkait dengan peta sejarah penyakit) di Pulau Jawa dan Provinsi DKI Jakarta.

“Yang menarik dalam kajian ini adalah dengan memetakan kenaikan permukaan laut dan luas daratan yang yang akan hilang akibat hal tersebut. Termasuk melihat perubahan iklim terhadap kondisi hidrologis sederhana dengan menggunakan model keseteimbangan air FJ Mock untuk melihat water surplus dan volume storage sebagai dampak dari perubahan iklim.

Dalam permodelan iklim ini, Yan mengambil data BMKG pada musim basah (hujan) dan musim kemarau selama 12 tahun terakhir. Musim hujan dia hanya mengambil pada bulan Januari. Karena pada bulan itu rata-rata curah hujan Jawa dan Jakarta cukup tinggi yaitu berkisar 400 mm. dan kemarau diambilnya pada bulan Juni.

Banjir Besar

Ian juga menjelaskan bahwa dalam model iklim yang dikajinya terlihat bahwa tahun 2025 hingga 2050 curah hujan lebih banyak mengumpul antara Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga 450 mm/bulan.

Di antara tahun inilah curah hujan di Jakarta dan pulau Jawa akan semakin tinggi. Jakarta dan secara merata di Pulau Jawa akan mengalami banjir besar. Karena itu mulai dari sekarang kita sudah harus mempersiapkan diri menghadapi bencana banjir. Namun setelah itu hingga 2100 akan semakin turun,” jelasnya.

Proyeksi curah hujan menunjukkan kondisi yang berbeda dengan temperature yang menunjukkan trend naik. Curah hujan memiliki pola naik di pertengahan 2001-2100 dan kemudian turun di akhir rentang waktu yang sama.

Di antara tahun yang sama pula, ketika musim kemarau datang maka Jakarta dan Pulau Jawa akan semakin panas yang diperkirakan karena gejala lain dari tingkat global yang terjadi seperti di Cina dan Tibet. Kenaikan temperature dari 31-34 derajat celcius.

Sementara dampak naiknya permukaan air laut pada wilayah DKI Jakarta, jelas Ian, hanya akan mencapai Jakarta Pusat, sedangkan untuk pulau Jawa di wilayah pesisir. Luas wilayah yang hilang mencapai 1% untuk pulau Jawa dan 10,3% untuk DKI Jakarta. Naiknya permukaan air laut, menurut Yan juga akan mengikis secara perlahan daratan di Jakarta dan Jawa. Berikut di bawah ini data terkait:

Kehilangan area Area (km2)

Tahun DKI Jakarta Jawa
2010 18,7 40
2025 32,4 66,6
2050 54,5 111
2100 68,4 138,8

Yan juga menjelaskan bahwa terjadinya kenaikan temperature terbesar di wilayah Pulau Jawa dan DKI Jakarta yang terjadi diperoleh berdasarkan scenario A1B untuk wilayah Pulau Jawa dan scenario A2 untuk wilayah DKI Jakarta. Sedangkan kenaikan terkecil ditunjukkan oleh scenario B1 untuk kedua wilayah.

Adaptasi Nelayan di Kamal Muara

Sementara itu Febby Dwi Rahmadi menjelaskan dalam presentasi hasil kajian peneltian sementaranya yang berjudul, Toward Urban Climate Change Adaptation in Indonesia: Climate Change Vulnerability mapping for Java and DKI Jakarta Province, menjelaskan bahwa penelitiannya di daerah Kamal Muara, Jakarta Utara secara garis besar hanya akan melihat bagaimana masyarakat setempat dalam hal ini nelayan melakukan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim yang mereka alami.

Secara garis besar kita akan melihat kerentanan perubahan iklim ini dari cara pandangnya masyarakat di wilayah rentan, yang untuk sementara kami hanya mengkaji di Kamal Muara. Kita akan melihat kapasitas, adapatasi yang dilakukan masyarakat selama ini, lalu bagaimana penanganan yang dilakukan guna mengatasi masalah kerentanan ini, “ jelas Febby.

Diambilnya wilayah Kemal Muara karena jauh sebelumnya IESR telah mempunyai data base penelitian terkait hal sama di wilayah ini ini dan nelayan di sana, juga secara aktif dan swadaya mulai melakukan adapatasi atas akibat perubahan iklim yang disebabkan

Masyarakat Kamal Muara yang kebanyakan adalah nelayan menyebutkan bahwa mereka memang telah merasakan naiknya permukaan air lalu, dihantam banjir rob, badai dan ombak tinggi setiap kali mereka akan melaut.

“Dalam berbagai hal mereka mengupayakan sendiri berdaptasi dengan dampak tersebut. Mereka mulai mengupayakan rumah dibuat panggung yang tinggi sehingga jika ada banjir rob datang mereka tidak perlu merasa terganggu,”jelasnya.

Namun kenyataannya yang dihadapi para nelayan bukan hanya dampak perubahan iklim yang harus mereka hadapi dan perlu mengadaptasikan dirinya, tetapi juga kesalahan urus dan kebijakan yang tidak pro-ekologis yang menyebabkan mereka kini juga mengalami kerentanan luar biasa. Dari isu sanitasi, lingkungan dan juga masalah air bersih.

Berdasarkan model iklim curah hujan yang dikaji Yan, Febby juga menjelaskan bahwa ada 14 kabupaten mengalami kerentanan yang tinggi yaitu dua distrik di Banten (Lebak dan Pandeglang), dua distrik di Jawa Barat (Cianjur dan Garut), empat disrik di Jawa Tengah (Banjarnegara, Brebes, Wonogri, dan Wonosobo), enam distrik di Jawa Timur (Sampang, Bangkalan, Bondowoso, Grobogan, Pamekasan, Probolinggo).

Kerentanan yang terjadi di wilayah tersebut bukan, jelas Febby, bukan hanya disebabkan kesalahan urus dan kebijakan yang tidak pro-ekologis, ditambah kerentanan iklim yang membuat wilayah itu seringkali mengalami bencana yang jika dipetakan dengan model iklim berupa curah hujan yang dikaji Ian, maka akan terlihat korelasi tersebut. (*/fay)

Berikut kesimpulan input dari peserta diskusi ilmiah terbatas tekait hasil penelitian:

  • Dalam penyusunan report, integrasi antara pendekatan bottom up dan top down belum terlihat.
  • Studi proyeksi iklim sebaiknya disertakan persepsi masyarakat.
  • Perhatikan resolusi peta agar tidak salah menentukan daerah rawan.
  • Konteks Kamal Muara harus dijelaskan agar pembaca dari luar Jakarta bisa mengerti.
  • Jangan menunggu sampai ada bencana tapi hasil studi harus dijadikan pedoman untuk penanganan lingkungan (misalnya penanganan sampah dengan lebih baik).
  • Masukkan masyarakat kota yang dekat dengan aliran sungai.
  • Strategi adaptasi apa yang dihasilkan dari studi ini? Siapa melakukan apa?
  • Apa narasi besar kota Indonesia dalam kaitannya dengan Climate Change?
  • Harus ada interconnected cross boundaries analysis and strategy.
  • Studi ini belum mengungkap kebijakan yang terintegrasi dari beberapa pemerintah yang terkait.
  • Early warning system dari masyarakat juga perlu timbul.
  • Konsep dalam studi juga harus dibicarakan: hazard, vulnerabilities. Karena berbeda organisasi beda juga pemahamannya.
  • Hasil studi harus diberikan kepada masyarakat karena pada hakikatnya merekalah ahlinya, mereka yang merasakan langsung di lapangan.
  • Proyeksi jangka panjang biasanya mengenai ekonomi tapi yang dilupakan dan baru dibicarakan adalah mengenai cuaca. Hal ini menjadi penting untuk membuat tata ruang yang lebih konkrit.
  • Berbicara mengenai Climate Change jangan hanya soal iklim saja tapi pengaruhnya kepada hal lain: kemiskinan, ketidakadilan, HAM, dan lainnnya.
  • Metodologi studi ini ada kekaburan, apakah Climate Change akan pasti memperparah kemiskinan? Harus tetap ada batasan yang jelas antara Climate Change dengan isu yang lain misalnya perekonomian.
  • Dampak perubahan iklim yang harus diperhatikan: infrastruktur, ekonomi, sumberdaya, teknologi, dan kesetaraan. (*/Surya)
Artikel Terkait
Nov, 21 2018

Inkonsistensi kebijakan energi dan situasi politik di Indonesia menjadi penyebab lambatnya proses transisi energi bersih di Indonesia. Hal ini terungkap dalam acara diskusi panel “What

Aug, 27 2011

Upaya Indonesia untuk mengimplementasikan EITI (Extractive Industries Transparency Initiative) – sebuah standard internasional pelaporan penerimaan negara dari sektor ekstraktif (minyak, gas, mineral) – menunjukan tanda

Nov, 2 2018

Terdapat potensi pemanfaatan tenaga surya yang cukup tinggi di Jakarta dan daerah urban lainnya di Indonesia. Pada tanggal 10 Oktober lalu di Jakarta, IESR bersama

Feb, 19 2013

Potensi pasar efisiensi energi untuk industri dan bangunan di Indonesia bernilai miliaran dollar. Studi ADB tahun 2009 memperkirakan nilai pasar energi efisiensi di Indonesia bernilai

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close