Bank Dunia Diminta Bantu Masalah Listrik di Indonesia

May, 5 2010

Penulis :

Rabu, 05/05/2010 19:10 WIB

Nurseffi Dwi Wahyuni – detikFinance

Jakarta – Bank Dunia diminta untuk membantu rakyat miskin di dunia terutama Indonesia agar dapat mengakses listrik dengan mudah. Pasalnya saat ini, 1,5 miliar penduduk di dunia masih belum bisa menikmati listrik.

“Bank Dunia ini didirikan dengan mandat penangulangan kemiskinan, sementara saat ini sekitar 1,5 miliar penduduk di dunia masih belum menikmati listrik. Jadi harusnya hal ini menjadi fokus mereka ,” kata Direktur Institute for Essential Service Reform (IESR), Fabby Tumiwa  Hotel IBIS, Jakarta, Rabu (5/5/2010).

Di Indonesia, lanjut Fabby, saat ini masih ada 100 juta penduduk yang masih belum bisa mengakses listrik. Melihat kondisi ini, Fabby berharap agar Bank Dunia bisa bekerja sama dengan pemerintah dalam membantu mengatasi ini.

“Masalahnya setelah dianalisis proyek-proyek yang didanai Bank Dunia  masih belum bisa atasi ini sehingga peranan Bank Dunia dalam sektor ini harus diperkuat,” kata dia.

Selain itu, hal lain yang disoroti IESR yaitu soal dukungan World Bank terhadap pengurangan emisi karbon di Indonesia. Menurut peneliti IESR Daniel J.King, Bank Dunia tidak konsisten mengenai hal ini. Di satu sisi pada tahun ini  pembelian karbon kredit dari tujuh hingga delapan perusahaan senilai US$ 16 miliar pada tahun ini, namun pada saat bersamaan bank dunia mendanai proyek PLTA Upper Cisokan yang justru menjadi sumber emisi.

“Mereka bilang dukung penggunaan clean energy, tapi mereka danai PLTA dengan skala besar karena di negara tropis PLTA ini bisa menghasilkan gas metan yang cukup besar,” kata Daniel.

Dukungan bank dunia terhadap penggunaan energi terbarukan juga dinilai masih kurang, karena berdasarkan hasil kajian IERS dana yang dipinjamkan bank dunia untuk proyek energi terbarukan masih sangat kecil jika dibandingkan proyek lainnya.

“Padahal penting bagi Bank Dunia untuk mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Mengingat pengembangan energi terbarukan membutuhkan teknogi yang mahal dan canggih,” kata dia.

Fabby menambahkan, hal-hal ini nantinya akan disampaikan IESR dalam pertemuan yang membahas soal masukan dari Indonesia dalam penyusunan strategi Bank Dunia yang baru. Rencananya pertemuan tersebut akan dilaksanakan Kamis besok di Jakarta.

“Strategi baru ini akan disahkan Bank Dunia pada bulan Maret atau April 2011,” tandasnya.

(epi/dnl)

Artikel Terkait
Feb, 19 2013

JAKARTA – Rendahnya penyerapan dana yang bersumber dari  Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), untuk proyek infrastruktur kelistrikan selama 2012 dinilai akibat lemahnya sinergi pemerintah

Jul, 27 2017

Mutu Pasokan yang Diterima Pelanggan Timpang JAKARTA, KOMPAS — Institute for Essential Services Reform mendorong realisasi pembentukan tarif listrik yang adil bagi seluruh pelanggan PT

Jan, 22 2016

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Eksekutif Institute Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan harga listrik PLN ada kemungkinan turun di 2016 ini. Menurut Fabby penurunan

Jul, 3 2019

Selasa, 02 Juli 2019 / 19:18 WIB | Kontan.co.id KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memastikan tidak lagi menahan penerapan tarif adjustment bagi 12 golongan non-subsidi

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close