Catatan Dari Konferensi International Climate Change Adaptation Di Australia

Jul, 21 2010

Penulis :

Jakarta, 21 Juli 2010/IESR-

IESR ikut terlibat dalam kegiatan Konferensi International Climate Change Adaptation, yang dilakukan pada 29 Juni – 1 Juli 2010, di Gold Coast, Australia. Konferensi ini merupakan forum internasional pertama yang hanya membahas tentang dampak perubahan iklim dan upaya mitigasi yang dilakukan. Dalam kegiatan tersebut IESR diwakili oleh research associate- nya, Febi Dwirahmadi.

Pada konferensi ini, selain menyampaikan makalah yang ditulisnya untuk IFRC, Febi juga mempresentasikan poster dari Penelitian IESR berjudul Adaptasi Perubahan Iklim Perkotaan: Studi Kerentanan dan Adaptasi untuk Jakarta dan Pulau Jawa yang fase pertama telah dilakukan pada tahun 2008-2009. Ringkasan penelitian ini bisa dilihat di: http://iesr.or.id/2010/04/urban-adaptation-vulnerability-assessment-in-jakarta-and-java-island/

Hadir dalam acara sekaligus yang membuka konferensi yaitu, Ministry for Climate Change, Energy Efficiency and Water Australia, Penny Wong. Dalam pidatonya, Wong memaparkan tentang komitmen Pemerintah Australia untuk meningkatkan efisiensi energi yang digunakan dan mengupayakan untuk pemanfaatan air seefektif mungkin. Dia juga menyampaikan bahwa semua program pemerintah ini, tidak akan berjalan tanpa adanya keterlibatan penuh dari seluruh masyarakat.

Sementara dalam sambutan tambahan, Professor Jean-Pascal can Ypersele, Vice Chair IPCC, mengatakan bahwa mitigasi memang sangat dibutuhkan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), namun tetap saja upaya ini tidak mampu secara cepat untuk mencegah dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari perubahan iklim yang sudah terjadi ini. Oleh karena itu, ia menyampaikan bahwa, upaya adaptasi sangat mendesak untuk dilakukan.

Konferensi International Climate Change Adaptation Conference di Gold Coast, Australia dihadiri oleh lebih dari 1000 peserta yang terdiri dari ilmuwan professional, praktisi perubahan iklim, dan mahasiswa yang berasal dari 55 negara. Kegiatan ini merupakan forum international yang pertama yang hanya membahas tentang dampak perubahan iklim dan upaya-upaya mitigasi yang dapat dilakukan.

Konferensi ini bertujuan untuk mengeksplorasi riset-riset ataupun pengalaman praktis upaya adaptasi dari berbagai negara maupun berbagai sudut pandang analisa untuk memberikan rekomendasi pada proses perencanaan dan pengembangan kebijakan adaptasi perubahan iklim dan juga untuk memahami betapa pentingnya proses adaptasi dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang tidak menentu ini.

Konferensi ini juga menampilkan 500 riset yang berhubungan dengan dampak dan adaptasi perubahan iklim dari Australia maupun negara lainnya di presentasikan baik melalui metode presentasi oral maupun poster.

Terdapat enam topik yang menjadi fokus pembahasan daripada konferensi ini, yaitu (1) memahami dan mengkomunikasikan adaptasi, (2) adaptasi pada tiap sektor, (3) upaya adaptasi oleh masyarakat grass root, (4) kerangka kerja adaptasi, (5) adaptasi di tepian, dan (6) kesejahteraan manusia dan adaptasi.

Pada sesi pembuka tampil beberapa agenda presentasi dan pleno yang cukup menarik. Adalah Professor Jean Palutikof, Direktur National Climate Change Adaptation Research Facility dan Dr. Andrew Ash, Direktur CSIRO Climate Adaptation Flagship Australia berlaku sebagai host kegiatan ini, memberikan penjelasan mengenai latar belakang dan tujuan dari konferensi ini. Dalam kesempatan ini, Prof. Palutikof dan Dr. Ash juga menyampaikan tema yang diusung pada konferensi ini, yaitu Preparing for the unavoidable impact of climate change”.

Terkait dengan tema ini, Prof Palutikof dan Dr. Ash menyampaikan “…climate change issue has significantly influenced environmental, social, and economic aspects around the world. Despite growing efforts to reduce greenhouse gas emissions, some impacts such as more intense floods, drougths, bush fires, and rising sea level rise are now inevitable”.

Lebih lanjut, mereka juga menyampaikan“…therefore, we must plan for and adapt to these changes, in order to minimize the negative impacts and enhance the benefits to natural system, societies, and human activities and well being. This represent a challenge for decision making at all levels, from individuals, to governments, and in bussiness and industry”

Setelah sesi pembukaan, dibukalah sesi pleno yang membahas topik mengenai tapal batas (frontiers) dalam adaptasi. Hadir dalam sesi pleno Steve Schneider dari Stanford University yang memaparkan topik tentang Limitasi dari Adaptasi untuk Menghadapi Ketidakpastian Iklim +4 oC, dan Mark Howden dari CSIRO Australia yang menyampaikan presentasi tentang Ketahanan Pangan dan Lingkungan. Dalam sesi ini Schneider menekankan bahwa diperlukannya penelitian yang membahas tentang pengelompokan tingkat bahaya dampak perubahan iklim khususnya dalam hal Anthropogenic Global Warming (AGW), sementara Howden mengatakan bahwa kurangnya kepercayaan dan pelibatan sektor pertanian dan industri pada perubahan iklim dapat menjadi tantangan utama dalam adaptasi khususnya yang terkait dengan ketahanan pangan.

Setelah pleno, dilakukan sesi paralel dengan 3 topic utama, yaitu: (1) Financial adaptation: International transfers and global geopolitics, (2) Is building relience the answer?, dan (3) Measuring the effectiveness of adaptation.

Hari pertama diakhiri oleh presentasi poster yang meliputi topik mengenai: adaptasi pertanian pada perubahan iklim; skenario untuk adaptasi di masa depan; nasib coastal, delta, dan negara kepulauan kecil; biaya perubahan iklim; dan riset untuk memenuhi kebutuhan bisnis dan industri.

Pada hari kedua, pembahasan juga semakin menarik. Topik yang diangkat pada sesi pleno adalah mengenai the Science/policy interface. Dalam diskusi pleno ini Neil Adger dari Tyndall Centre for Climate Change Research menyampaikan bahwa aksi dalam pelaksanaan adaptasi perubahan iklim harus melibatkan seluruh bagian dari masyarakat dengan mempertimbangkan kesejahteraan dan letak geografis. Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa konsep keadilan penting untuk ditekankan dalam mengembangkan mekanisme adaptasi, dan pemerintah sangat berperan penting untuk melakukan koordinasi dan memayungi kegiatan adaptasi khususnya dalam menyelamatkan penduduk yang paling rentan.

Lebih lanjut, Diana Liverman dari Universitas Arizona USA, dalam kesempatan presentasinya menyampaikan bahwa pengembangan mekanisme adaptasi baik untuk level regional, nasional, maupun internasional akan menempatkan kebutuhan-kebutuhan baru pada dua keilmuan yaitu ilmu alam/lingkungan dan sosial. Dua keilmuan ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan akan pemantauan dan proyeksi iklim regional, mengumpulkan data atau baseline untuk iklim, kerentanan, dan pembiayaan, dan pengembangan metoda dan sistem informasi untuk menilai apa saja yang dibutuhkan dalam adaptasi, juga untuk menilai keberlanjutan dan tingkat effektifitas dari program adaptasi yang diterapkan.

Sementara itu, John Schneider dari Geoscience Australia mengatakan bahwa hal yang terpenting dalam menyusun mekanisme adaptasi adalah risk assessment. Lebih lanjut dia menyampaikan dalam presentasinya: “Risk assessment is about combining our knowledge of these factors into estimates of likelihood and consequence. Current scientific knowledge and available data are able to provide us with an initial basis for managing these risks, but there are also significant gaps and shortcomings in our knowledge that limit its applicability. Fundamental data such as digital elevation models are lacking, and computational models to describe coastal processes in response to sea level rise are too simplistic. Moreover, our ability to estimate the physical, economic, environmental and social consequences on communities is quite limited”.

Di hari ketiga, adalah waktunya sesi presentasi poster, IESR mempresentasikan hasil risetnya yang bertemakan tentang Memahami Kerentanan Perubahan Iklim pada masyarakat urban di Indonesia. Hasil riset sebanyak lebih dari 135 lembar itu dituangkan ke dalam poster ukuran A0.

Detil peta bisa dilihat di http://iesr.or.id/wp-content/uploads/urbanclimate.jpg

Poster IESR mendapat perhatian sejumlah pengunjung dan Febi dengan baiknya mempresentasikan maksud yang digambarkan dalam poster. Menurut sejumlah peserta dan pengunjung yang hadir dalam arena tersebut, poster IESR sangat informatif dan dikemas dalam metode komunikasi yang mudah untuk dipahami baik oleh orang yang paham dengan perubahan iklim, maupun masyarakat awam. Beberapa peserta juga mengatakan bahwa poster tersebut sangat bermanfaat untuk media komunikasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kompleksitas masyarakat perkotaan dan dampak dari pada perubahan iklim, maupun untuk audiensi kepada para pengambil kebijakan.

Poster IESR dibuat dalam bentuk peta dua dimensi Iklim Perkotaan yang merefleksikan kondisi sebenarnya masyarakat perkotaan, khususnya di Kelurahan Kamal Muara, DKI Jakarta. Dalam peta tersebut juuga ditampilkan proyeksi temperatur dan curah hujan, kenaikan muka air laut, serta studi kerentanan pulau Jawa.

Setelah sesi presentasi poster, kegiatan dilanjutkan dengan sesi paralel dan panel yang membahas isu tentang konsep baru dalam adaptasi, ekosistem, adaptasi dan pembangunan, adaptasi perubahan iklim di perkotaan, climate extreme dan pengendalian bencana, dan kesehatan masyarakat dan adaptasi perubahan iklim.

Suasana pada pameran dan kompetisi poster hasil penelitian

Dalam sesi climate extreme dan pengendalian bencana, Febi juga diberikan kesempatan untuk berbicara menyenai konsep integrasi adaptasi perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana. Konsep ini jelas Febby, merupakan berdasarkan pengalaman Gerakan Palang Merah Bulan Sabit Merah dalam melakukan kegiatan pengurangan risiko dan adaptasi berbasis masyarakat, yang mana CCA dan DRR dikawinkan dengan kegiatan: (1) pelestarian lingkungan, (2) pengurangan kemiskinan, (3) Siap siaga untuk respon bencana, (4) pengembangan kapasitas, (5) mata pencaharian yang berkelanjutan, dan (6) penilaian risiko yang komprehensif.

Sementara itu, Tony McMichael dalam topik nya mengenai kaitan antara perubahan iklim dan kesehatan masyarakat menyampaikan bahwa “weather and climate influence the geographic distribution, seasonality, and incidence of a variety of health outcomes, including from extreme weather events, poor air quality, malnutrition, and vector-borne, water-borne, and food-borne diseases. Climate-sensitive health outcomes are among the leading causes of morbidity and mortality worldwide. The health impacts of climate change are not evenly distributed, with particularly vulnerable populations and regions. More than 80% of the current health burden of climate change is in children. Public health has more than 150 years of experience in controlling climate-sensitive health outcomes, but only recently began mainstreaming climate change adaptation into current programs and activities”.

Tindak lanjut setelah konferensi

Metode Assessment LamaDalam closing plenary session yang di pimpin oleh Rik Leemans, Earth System Science Partnership / Wageningen University, beberapa hal diulas untuk menjadi tindak lanjut dari konferensi ini. Salah satu yang cukup penting adalah topik yang disampaikan oleh Chris Field, co chair, Working Group II IPCC, tentang persiapan menuju IPCC Assessment Report 5th. Field menyampaikan bahwa dalam penyusunan assessment tersebut, semua periset harus fokus kepada kebutuhan stakeholder yang dalam hal ini adalah pemerintah dan masyarakat luas.

Metode Assessment Integratif untuk diterapkan masa kini

Metode Assessment Integratif untuk diterapkan masa kini

Untuk mencapai hal ini, setiap riset assessment harus memiliki prinsip: (1) Integrity, (2) Nature of a consensus, (3) Basic Mechanism, (4) multiple lines of evidence. Lebih lanjut, terkait dengan rekomendasi atau masukan dalam menghadapi “Ketidakpastian” perubahan iklim diperlukan pendekatan: (1) deskripsi permasalahan namun tidak menyederhanakan atau melebihkan dan (2) selalu fokus kepada penerapan teknologi effektif dan efisien.

Artikel Terkait
May, 22 2019

As a part of work of Climate Transparency comparing G20 climate action by the Government, Institute for Essential Services Reform (IESR), together with other Climate

Jan, 6 2017

IESR bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) melakukan kajian awal mengenai pengarusutamaan gender di dalam sektor energi, khususnya yang terkait dengan

Jul, 5 2010

Perekrutan 20 Rrlawan Pembelaan Keadilan Iiklim CSF (Civil society forum for climate Justice) bekerjasama dengan IESR (Institute for Essential Service Reform) dan RBK (Rombong Belajar

Mar, 25 2011

Minggu Pagi, 20 Maret 2011 ini IESR kembali berpartisipasi di acara Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) Jakarta Selatan yang dipusatkan di sekitar jalan Rasuna Said,

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close
Support Online
 
Chat
 
Support Online
+