Catatan Perjalanan – Habis Gelap Terbitlah Mikrohidro

Jul, 22 2010

Penulis :

Oleh: Elisabeth Tri Astuningtyas & Henriette Imelda Rambitan

Catatan redaksi: Pertengahan Mei 2010, tepatnya 9-14 Mei 2010, dua staf kami yaitu Henriette Imelda Rambitan (Koordinator Program) dan Elisabeth Tri Astutiningtyas (Asisten Program untuk Program Akses Energi) melakukan perjalanan observasi untuk melihat lebih jauh pengadaan mikrohidro di suatu komunitas di beberapa desa di Jawa Barat, yaitu di Desa Cinta Mekar (Subang), Cimanggu (Garut), Cibuluh (Cianjur), dan Ciptagelar.

Perjalanan observasi ini telah membawa mereka menemukan suatu komunitas desa yang bangkit dari kegelapan desanya karena tidak mendapatkan akses listrik menjadi desa yang terang berkat usaha dan inisiasi mandiri yang dilakukan oleh komunitas tersebut . Di tengah ketidakadilan energi ini terutama dalam hal mendapatkan akses listrik, komunitas ini adalah inspirasi bagi kemadanian suatu komunitas masyarakat dan juga sebagai sentilan bagi pemerintah yang mengabaikan masyarakat-masyarakat desa jauh dan terpencil yang hingga kini susah mendapatkan akses energi listrik dengan baik. Silahkan menikmati tulisan yang telah dirangkum oleh Elisabeth Tri Astutiningtyas (Tyas) dan Henriette Imelda Rambitan (Ime) dalam empat tulisan bersambung.

***

Catatan Penghantar:  Mikrohidro dan Kemiskinan Energi

Tidak banyak yang tahu bahwa di tengah kayanya negeri kita akan sumber daya energi ternyata masih banyak masyarakat kita mengalami kesulitan mendapatkan akses energi. Terutama listrik. Data Bank Dunia (2004) menyebutkan bahwa lebih dari 70 juta orang Indonesia tidak mendapatkan akses energi terutama listrik. 80%-nya bahkan hidup di desa-desa terpencil dan sisanya di luar Jawa dan Bali. Tentu saja data ini adalah gambaran ironis negeri kita yang sesungguhnya mempunyai kekayaan energi alam yang sangat berlimpah. Namun di tengah ketidakadilan energi yang dialami masyarakat karena buruknya kebijakan dan tata kelola energi, ternyata masih ada masyarakat kecil kita yang tidak menyerah dan bergantung akan adanya akses listrik dari PLN. Mereka bahkan secara mandiri mencari inovasi yang sesuai dengan potensi, kapasitas dan kemampuan alam serta sumber daya manusia yang mereka miliki di desa tersebut. Lalu mereka membangun keyakinan bersama dan proses panjang hingga akhirnya akhirnya mereka menemukan cara mendapatkan penerangan untuk desa mereka sendiri yaitu melalui PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidra) secara berkelanjutan.

Apa itu mikrohidro? Mikrohidro atau dikenal di Indonesia PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) adalah suatu teknologi pembangkit listrik berskala kecil yang mengubah potensi tenaga air dari suatu sumber daya air seperti saluran irigasi, sungai atau air terjun alam menjadi daya listrik dengan cara memanfaatkan tinggi terjunan (head) dan jumlah debit air. Harapannya dengan adanya akses listrik, secara tidak langsung dapat menunjang kegiatan ekonomi masyarakat di pedesaan.

Mikrohidro tidak akan bisa dilakukan jika di empat desa yang kami (penulis-red) kunjungi yaitu Desa Cinta Mekar (Subang), Cimanggu (Garut), Cibuluh (Cianjur), Ciptagelar (Sukabumi), tidak mempunyai sumber daya air memadai. Karena sumber daya air merupakan syarat utama pembuatan mikrohidro. Karena itulah kami mendatangi empat desa tersebut guna mengetahui sumber daya air yang seperti apakah yang mampu memberikan tenaga air yang cukup besar untuk menggerakkannya, selain ingin mencari tahu lebih dalam proses panjang mereka memilih mikrohidro sebagai pembangkit listrik desa mereka.

Menarik lagi dari perjalanan kami, keempat desa tersebut memang memiliki kondisi alam yang masih terjaga dan asri. Di sana juga ada sungai dengan debit air melimpah dan sangat deras, terutama jika musim hujan datang. Kondisi sungai juga masih sangat baik, biarpun musim kemarau tiba. Oleh karena itu, beberapa desa yang memiliki debit air yang cukup deras menggunakan turbin jenis propeller, untuk mikrohidronya. Turbin propeller digunakan berdasarkan debit air dengan head di bawah 10 meter, sedangkan turbin crossflow digunakan berdasarkan tinggi terjunan (head) yang pada umumnya di atas 10 meter.

Di Cinta Mekar lebih unik lagi karena mereka menggunakan dua jenis turbin, yaitu propeller dan crossflow sebab mereka mempunyai head yang cukup memadai yaitu 18,6 meter. Mikrohidro adalah salah satu sumber daya energi alternatif yang bisa dikembangkan secara berkelanjutan atau bisa dipakai terus-menerus, mudah didapatkan dan ramah lingkungan. Oleh karena itu, mikrohidro juga sering disebut sebagai salah satu energi terbarukan karena mikrohidro mendapatkan aliran energi dari “proses alam yang berkelanjutan” yaitu sungai, air terjun, atau saluran irigasi. Secara umum, energi terbarukan dapat diciptakan dengan menggunakan proses alam dari sinar matahari, angin, atau geothermal.Di Indonesia, energi terbarukan yang saat ini banyak dikembangkan antara lain adalah energi terbarukan mikrohidro, biogas, surya, dan geothermal.

Bagi kami yang terbiasa tinggal di perkotaan dengan segala fasilitas yang serba mudah termasuk akses listrik, apa yang dilakukan masyarakat empat desa untuk mendapatkan listrik melalui mikrohidro ini adalah luar biasa. Dalam perjalanan ini, kami melihat bagaimana masyarakat Desa yang memulai energi dengan ramah lingkungan ini justru berdampak positif bagi kehidupan masyarakatnya sendiri.

Misalnya saja di Cinta Mekar, proses menghadirkan PLTMH telah menguatkan kekompakan warga desa tersebut bahkan akhirnya meningkatkan peran koperasi dalam membantu perekonomian warga. Bahkan berkat PLTMH mereka juga memberikan bantuan pemasangan Kwh secara cuma-cuma, namun bagi golongan setengah mampu akan dibantu 50%. Sedangkan bagi warga golongan mampu, mereka diharapkan membayar seluruh biaya agar dapat membantu warga yang kurang mampu.

Di Cibuluh, jauh sebelum PLTMH hadir di desa mereka, kebanyakan warga di sana justru berprofesi sebagai pembalak hutan. Namun dengan hadirnya Ridhwan Soleh dari YPAL (Yayasan Pribumi Alam Lestari), secara perlahan kebiasaan warga berubah. Mereka bahkan secara bersama menggalakkan penyadaran akan pentingnya menjaga alam. Akhirnya mereka pun bersatu dalam satu wadah bernama Raksa Bumi yaitu organisasi warga yang menjadi cikal bakal organisasi sosial masyarakat yang peduli akan kelestarian lingkungan daerah mereka. Dari Ridhwan Soleh pula, warga desa ikut mendukungnya membangun sebuah mikrohidro sehingga warga bisa menikmati listrik tanpa bergantung lagi dengan PLN.

Lebih menarik lagi yang terjadi di Ciptagelar dimana tokoh adat setempat Abah Ugi menerapkan kebijakannya untuk tidak melakukan interkoneksi dengan PLN. Alasannya adalah keinginan beliau untuk meratakan penggunaan listrik bagi seluruh masyarakat, tidak ada yang lebih banyak ataupun lebih sedikit melalui mikrohidro yang mereka bangun bagi kebutuhan masyarakat desa mereka untuk mendapatkan akses listrik. Ini juga untuk melatih warga untuk dapat memanfaatkan teknologi seperlunya, karena hal itu akan berpengaruh terhadap keasrian dan kelestarian alam mereka.

Karena itulah melihat apa yang telah diupayakan komunitas masyarakat di desa-desa yang kami kunjungi ini, bagi kami merupakan pengalaman yang luar biasa. Rasanya memang sulit dipercaya bagi kami bahwa desa yang jauh darimana-mana ini, yang menuju lokasinya pun harus melalui hutan dan jalanan dengan kondisi off-road, dulunya tidak ada penerangan, kini terang benderang berkat usaha mereka sendiri. Tidak terbayangkan bagi kami hidup di “masa gelap” desa itu sementara kami terbiasa di kota besar justru mudah saja mendapatkan akses listrik dengan hanya memencet tombol saklar, maka listrik pun menyala. Tidak pernah memikirkan harus bekerja keras hanya untuk mendapatkan penerangan listrik. Apalagi peduli mencari tahu darimana sesungguhnya proses adanya listrik itu hingga sampai ke rumah kami.

Karena itulah di tengah cuaca yang kadang cerah, mendung, gerimis bahkan juga hujan, kami staf IESR yang terdiri dari Imelda, Tyas dan juga salah satu anggota konsultan film, Angi, yang nantinya akan membantu kami dalam membuat film dokumenter, mengunjungi komunitas desa-desa tersebut guna melakukan observasi awal yang akan kami jadikan pembelajaran bagi kami dan juga mungkin bagi masyarakat yang mempunyai persoalan yang sama, yaitu kemiskinan energi, dalam hal ini akses listrik.

Artikel Terkait
Jun, 5 2017

(Bagian 1 dari 2 tulisan) Oleh Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Trump vs. Publik AS Akhirnya Donald Trump mengumumkan secara resmi

Dec, 3 2010

Kompas- Dunia lelah, semua lelah—akibat perundingan bertele-tele di tingkat Kerangka Kerja PBB atas Konvensi Perubahan Iklim. Tidak heran jika gerakan sukarela dari negara pihak kini

Sep, 8 2011

Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif IESR Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memutuskan untuk menyelenggarakan Konferensi PBB tentang Pembangunan Berkelanjutan (UN Conference on Sustainable Development/UNCSD) melalui resolusi sidang

Jul, 20 2013

“Banyak orang merayakan ulang tahun Jakarta dengan mengotori jalanan kotanya, 226 orang lainnya merayakannya dengan membersihkan suakanya‎…” Seorang teman (sebut saja Nugie), menuliskan status tersebut

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close
Support Online
 
Chat
 
Support Online
+