Catatan Perjalanan I- Habis Gelap Terbitlah Mikrohidro

Aug, 3 2010

Penulis :

Koperasi Mekarsari  Tumpuan  Warga Cinta Mekar

Minggu siang tanggal 9 Mei 2010.

Kami (penulis/ Ime dan Tyas) mulai bersiap-siap melakukan perjalanan panjang dalam melakukan observasi tentang inisiasi masyarakat desa di Desa Cinta Mekar (Subang), Cimanggu (Garut), Cibuluh (Cianjur), dan Ciptagelar terkait dengan pengadaan PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidra). Sebenarnya, tidak hanya kami, sih. Ada Anggi, konsultan film yang juga akan membantu kami dalam mendokumentasi proses inisiasi masyarakat tersebut dalam mengadakan energi listrik mikrohidro yang ramah lingkungan.

Pukul 12.00 WIB, kami pun mulai meluncur keluar dari Jakarta menuju arah Subang, Jawa Barat, dengan  menggunakan mobil APV merah marun. Tujuan perjalanan pertama kami adalah Desa Cinta Mekar, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Bermodal nekad karena belum pernah menjelajah ke tempat tujuan sebelumnya, kami sampai di guest house Cinta Mekar pada pukul lima sore,  tanpa ada hambatan yang berarti. Maksudnya, kami tidak perlu nyasar kemana-mana, dan hujan baru turun ketika kami telah tiba di tempat tujuan, Desa Cinta Mekar.

Tentu saja belum banyak yang bisa kami lihat tentang Desa Cinta Mekar dalam situasi seperti ini. Apalagi gelap telah merayap. Jadi kami lebih memilih menggunakan waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk esok hari, kemudian beristirahat.

***

Senin, 10 Mei 2010,

sungai-cisaem1Pagi hari di Cinta Mekar. Kami terbangun dalam suasana yang menyenangkan. Bagaimana tidak, pagi kami langsung disambut dengan suara kicau burung-burung yang asik terbang ke sana kemari mengitari persawahan di depan halaman belakang guest house tempat kami menginap. Hawa pagi di desa tersebut juga begitu menyegarkan. Tidak ada suara bising, hanya suara alam. Hal ini menumbuhkan rasa damai dan semangat kami untuk segera menjelajahi Cinta Mekar.

Setelah sarapan pagi, kami mulai mempersiapkan diri untuk melihat tempat yang menjadi tujuan kami yaitu rumah turbin PLTMH Cinta Mekar.  Pak Anang, salah satu staf IBEKA  (Institute Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan) akan mendampingi perjalanan kami.  IBEKA merupakan LSM berbasis infrastruktur untuk masyarakat pedesaan guna membantu meningkatkan taraf perekonomian masyarakat setempat.

Kami kemudian menyusuri  Sungai Ciasem untuk melihat infrastruktur dari bendungan sungai yang dialirkan untuk irigasi dan PLTMH tersebut. Dengan sumber daya air yang melimpah dan infrastruktur yang baik, wajar apabila mikrohidro dengan kapasitas 120 Kwh dapat dibangun di desa Cinta Mekar dengan memanfaatkan turbin jenis Crossflow T-7 untuk dapat memaksimalkan potensi head dengan ketinggian 18,6 meter.

Pembangunan rumah turbin pun dirancang seideal mungkin untuk menjadi unit percontohan di kawasan Asia Pasifik dengan total biaya pembangunan mencapai Rp 2,8 milyar. Wow!! Bagi kami yang mendalami mikrohidro, apa yang kami lihat adalah sesuatu yang luar biasa.

Selain itu, air yang ada tidak hanya digunakan untuk kebutuhan PLTMH saja, tapi sebagian air juga dibendung untuk irigasi dan sebagian lainnya ditampung dalam kolam penampung dan kolam penenang yang berjarak 400 meter dari bendungan tersebut sebelum dialirkan ke pipa pesat.

“Dengan begitu mata pencaharian utama warga yaitu bertani pun tidak akan terganggu oleh adanya PLTMH ini”, im buh Pak Anang.

Dari rumah turbin, kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke Koperasi Mekarsari yang sering disebut-sebut sebagai induk hasil penjualan ke PLN untuk membantu masyarakat Cinta Mekar. Di koperasi tersebut, kami bertemu dengan Ibu Endang, selaku Ketua Koperasi dan Ibu Entin yang menjabat sebagai bendahara.

Menurut penuturan Ibu Endang, sejak awal pembangunan, PLTMH Cinta Mekar ini memang dirancang untuk inter-koneksi dengan PLN dan 20% keuntungan yang dihasilkan menjadi modal bagi koperasi untuk membantu warga yang membutuhkan melalui program kerja yang dimiliki. Karena itulah, maka koperasi juga didirikan bersamaan dengan pembangunan PLTMH.

Lebih lanjut, Ibu Endang menuturkan bahwa sejak beroperasi, PLTMH ini memperoleh pemasukan yang lebih dari cukup untuk mendukung pelaksanaan tujuh program kerja dari koperasi. Dari ketujuh program tersebut, program untuk pemasangan Kwh menjadi prioritas utama dimana 156 KK telah mendapatkan fasilitas untuk pemasangan Kwh hingga akhir tahun 2008. Selama proses pemasangan Kwh ini, bantuan diberikan dengan pembagian golongan. Bagi warga yang merupakan golongan tidak mampu, akan mendapatkan bantuan pemasangan Kwh secara cuma-cuma, namun bagi golongan setengah mampu akan dibantu 50%. Sedangkan bagi warga golongan mampu, mereka diharapkan membayar seluruh biaya agar dapat membantu warga yang kurang mampu.

Ketika ditanya mengenai suka duka menjadi pengurus koperasi, Ibu Endang bercerita bahwa kalau dia mau menghitung-hitung maka akan banyak dukanya. Tapi menurutnya, menjadi pengurus koperasi itu adalah suatu amanah. Sehingga rasa dukanya tidak terasa karena pekerjaannya telah memberikan kesempatan bagi Ibu Endang  untuk bertemu banyak orang yang ingin tahu lebih banyak mengenai koperasi Mekarsari.

Dia dan juga pengurus koperasi juga mendapatkan kesempatan  mengikuti pelatihan-pelatihan dalam memperluas pengetahuan mereka. Dari segi pendapatan sebagai staf koperasi juga tidaklah begitu besar, Para pengurus koperasi hanya mendapatkan Rp 37.500 tiap bulannya dan sejak tahun 2008 hanya mengalami peningkatan menjadi Rp 50.000 tiap bulan.

“Itupun tidak diterima setiap bulan, Neng”, tutur Ibu Endang. Dengan alasan untuk efisiensi waktu, pembayaran dilakukan per 3 bulan sekali.

Begitu serunya bercerita mengenai koperasi dan proses pencapaian program kerja yang dimiliki, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 Siang. Mengingat kami harus segera melanjutkan perjalanan sore harinya, maka kami pun berpamitan dan bergegas pergi mendatangi beberapa tempat yang telah merasakan manfaat koperasi bagi mereka.

Di temani Pak Anang dan Ibu Endang, kami pun diantar ke rumah salah satu pengusaha konveksi tas di tempat tersebut. Menurutnya, koperasi banyak membantu ketika memulai usaha konveksinya. Dari modal yang minim, usaha konveksi ini dimulai dengan menggunakan 2 mesin jahit. Seiring mulai banyaknya order dari luar, maka akhirnya dia meminjam uang ke koperasi untuk pembelian mesin jahit lagi yang hingga saat ini telah beroperasi sebanyak 12 buah.

Bahkan, saat ini, sang istri pun mulai membuka usaha warung dengan modal yang dipinjam dari koperasi. Dengan modal awal yang diperbolehkan untuk UKM sebesar Rp 500 ribu yang harus dilunasi dalam jangka waktu setahun, maka san istri pun memulai usaha warungnya. Beruntungnya, usaha yang dijalankan lancar dan pinjaman dapat dilunasi sebelum setahun, maka Ibu pun mengambil pinjaman yang lebih besar lagi sejumlah Rp 1 juta untuk meningkatkan usahanya.

Wow, menarik juga program-program yang ditawarkan oleh koperasi. Kami jadi semakin tertarik dengan program beasiswa yang ditawarkan. Oleh karena itu, kami kemudian mendatangi salah satu penerima beasiswa yaitu Mutia seorang siswa SD kelas 6 yang baru saja diberi kesempatan untuk mendapatkan beasiswa. Terlihat sekali kalau dia senang mendapatkan beasiswa ini, karena dia masih bisa terus belajar. Sedangkan bagi sang ibu, beasiswa ini sungguh-sungguh membantu untuk meringankan pengeluaran keluarga terkait dengan pendidikan. Walaupun beasiswa yang diberikan hanya Rp 30.000 per 3 bulan untuk siswa SD, dan Rp 60.000 per 3 bulan untuk siswa SMP, namun bagi warga yang kurang mampu beasiswa ini mampu mencukupi kebutuhan pembelian peralatan sekolah yang tidak akan mungkin terbeli dengan penghasilan harian mereka.

Bagi kami apa yang kami temukan di Desa Cinta Mekar adalah suatu hal menarik dan luar biasa. Terutama mendalami proses perubahan yang terjadi, terutama ketika komunitas desa ini secara bersungguh-sungguh dan kompaknya untuk mendapatkan perubahan. Ide mendirikan PLTMH bukan saja membuat desa mereka bisa terang dan mempermudah segala usaha mereka, tapi juga mendorong kesejahteraan perlahan dan pasti bagi masyarakat desa tersebut.

Pengalaman di Desa Cinta Mekar membuat kami semakin antusias untuk  mengunjungi desa kedua berikutnya. Cimanggu….Here We Come…… *_^ .

Bersambung……

Artikel Terkait
Nov, 30 2012

COP 18 merupakan salah satu COP yang paling penting di dalam sejarah dimulainya negosiasi mengenai perubahan iklim. Protokol Kyoto menghadapi akhir dari periode pertamanya, dengan

Jun, 5 2017

(Bagian 2 dari 2 tulisan) Oleh Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Sebagai negara dengan emisi gas rumah kaca terbesar di dunia sesudah

Dec, 9 2011

Sebagaimana kita ketahui, salah satu perjuangan di negosiasi perubahan iklim UNFCCC adalah perihal Green Climate Fund. Walau demikian, Green Climate Fund  akan menjadi sia-sia apabila

Jul, 17 2019

The renewable energy future is promptly becoming the present. To prepare a future with more shares of low-cost renewables, it is essential to focus on enhancing system flexibility.

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close
Support Online
 
Chat
 
Support Online
+