Earth Day Series : Menanam Kembali Benih Terumbu Karang dan Bakau di Kepulauan Seribu

Apr, 23 2010

Penulis :

Jakarta, 24 April 2010

Bagi kebanyakan orang Jakarta, terumbu karang dan hutan bakau (mangrove) mungkin merupakan ‘benda-benda’ aneh yang sangat jauh dari penglihatan. Sebagian besar penduduk Jakarta mungkin juga tidak tahu dan menyadari betapa Jakarta sebenarnya memiliki kawasan dengan potensi terumbu karang dan tumbuhnya hutan bakau yang cukup besar. Terutama kawasan terumbu karang dan hutan bakau di seputar kepulauan Seribu.

Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanhellae. Keberadaan terumbu karang merupakan hal penting bagi habitat atau tempat hidup berbagai spesies tumbuhan laut, hewan laut dan mikroorganisme laut lainnya, Terumbu karang juga berguna sebagai penahan abrasi pantai yang disebabkan gelombang dan ombak laut juga sebagai penopang sumber keanekaragaman hayatai lainnya di laut. Sementara hutan bakau (mangrove) adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang biasanya tumbuh di sepanjang garis pantai (wikipedia). Seperti halnya terumbu karang yang hidup dikedalaman laut, manfaat bakau yang biasanya tumbuh di bibir pantai ini sangat berguna untuk menahan abrasi dari laut. Hutan bakau juga menjadi tempat yang baik bagi habitat sejumlah ikan, kepiting bakau, udang, bahkan sejumlah primata dan burung, yang semuanya itu bermanfaat besar bagi manusia dan ekologi laut serta pantai.

Namun sayangnya keberadaan terumbu karang dan hutan bakau di sekitar kepulauan Seribu sangat memprihatinkan. Menurut catatan LIPI, Kepulauan Seribu yang begitu banyak pulau-pulau kecil dan masuk wilayah Jakarta ini, telah mengalami tekanan yang cukup besar akibat pesatnya pembangunan Jakarta. Reklamasi di sepanjang pesisir utara Jakarta menyebabkan sejumlah hutan bakau tersisa Jakarta ditebas begitu saja tanpa mempedulikan akibat bencana ekologis dan kelangsungan habitat ekosistem kehidupan yang ada di sana. Begitu pula yang terjadi dengan terumbu karang di kepulauan ini. Sampah rumah tangga, limbah industri, imbas pupuk pertanian, penambangan karang dan penambangan pasir, aktifitas perikanan, penambangan minyak dan pariwisata, telah merusak terumbu karang secara memprihatinkan (LIPI, Yosephine, Subagjo S, eds, 2006).

Padahal kepulauan Seribu terutama pulau-pulau yang berukuran kecil di sekitar area itu, sangat rentan dengan kenaikan permukaan laut. Keberadaan terumbu karang dan mangrove jelas sangat diperlukan untuk mempertahankan dataran pulau dan kehidupan di dalam air. Dalam catatan Dinas Kelautan Perikanan dan Pertanian Kepulauan Seribu seperti dikutip Okezone.com (2010), tahun 1970 terumbu karang di kepulauan Seribu tercatat sebagai yang terindah ketiga di dunia. Saat ini secara umum tutupan karang yang bertahan hanya 30%.

Terkait dengan kondisi memprihatinkan di atas, sejumlah aktivis lingkungan, kelompok masyarakat kini banyak yang berupaya untuk mengembalikan keutuhan terumbu karang dan keberadaan hutan Mangrove di sekitar kepulauan Seribu. Begitu pula yang dilakukan Picnicholic (www.picnicholic.webs.com), yang bersama IESR melakukan kegiatan menanam terumbu karang dan bakau bersama ( 24/4/2010), dengan menggunakan momentum Hari Bumi. Kegiatan ini dilakukan di salah satu gugusan kepulauan Seribu yaitu Pulau Pramuka, diikuti oleh 35 orang, terdiri dari 27 orang dewasa dan delapan orang anak-anak. Melalui aktivitas ini, anak-anak juga dilibatkan dengan harapan agar kepedulian mereka terhadap lingkungan akan terus bertumbuh hingga mereka dewasa.

Sebanyak 49 benih terumbu karang dan 500 bibit bakau ditanam di Pulau Pramuka, yang merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Seribu.

Beberapa peserta menyatakan bahwa sudah saatnya kita mengembalikan sesuatu kepada alam. Apa yang telah dilakukan dalam rangka hari Bumi ini, diharapkan tidak hanya dilakukan karena euphoria hari Bumi saja. Namun, hendaklah ini menjadi sikap kita sehari-hari, dengan menjaga bumi kita yang terus menerus memberikan hidup kepada manusia.(Ime/fay)

Selamat Hari Bumi.

=====================================================================================

Bagaimana caranya menanam terumbu karang?

Menanam terumbu karang bukanlah pekerjaan yang sulit; semua orang bisa melakukannya tanpa harus bisa menyelam. Berikut ini beberapa langkah untuk menanam terumbu karang.

  1. Terumbu karang yang diambil dari alam untuk dikembangbiakan, diambil dan dipatahkan kecil-kecil, sehingga didapatkan ranting-rantingnya.
  2. Siapkan tempat untuk menopang terumbu karang. Penopang ini harus cukup berat, sehingga apabila bibit-bibit terumbu karang ditaruh di laut, penopang ini tidak terbawa arus.
  3. Siapkan semen untuk menanam terumbu karang.
  4. Tancapkan terumbu karang ke semen yang masih basah. Tidak perlu terlalu dalam, namun cukup agar terumbu karang tidak mudah lepas dari penopangnya.
  5. Setelah terumbu karang sudah tertanam, maka penopang tersebut harus dipindahkan ke laut. Penopang ini harus diletakkan cukup jauh, sehingga walaupun air laut surut, terumbu karang tersebut tetap terendam. Hal ini dimaksudkan supaya terumbu karang dapat tumbuh dengan mengandalkan nutrisi berupa plankton yang ada di laut.

Terumbu karang ini akan dipindahkan secara berkala. Pada saat terumbu karang membesar, maka penopangnya harus dipindahkan ke daerah laut yang lebih dalam, agar pasokan nutrisinya tetap berjalan. (*/Ime)

Artikel Terkait
Dec, 13 2014

Ini merupakan kerangka kerja yang unik yang dapat membantu negara-negara ASEAN memenuhi panggilan untuk menyelaraskan kebijakan mineral dan memastikan bahwa sumber daya ekstratif akan memberikan

Nov, 30 2010

Laporan Kegiatan Kegiatan berlangsung sejak pukul 10.15 dengan pembicara pertama Bapak Rachmat Witoelar, sebagai perwakilan Delegasi RI. Pembicaraan banyak berkisar dalam posisi Indonesia dan secara

Apr, 24 2013

Jakarta. Institute for Essential Services Reform (IESR) bersama Pusat Studi ASEAN, Universitas Indonesia menyelenggarakan ASEAN Forum on Natural Resources Governance: Toward ASEAN Economic Community 2015

Jan, 13 2017

Dampak perubahan iklim telah terjadi di seluruh pelosok dunia. Di beberapa tempat di Indonesia, kekeringan, curah hujan dengan intensitas dan frekuensi yang tinggi, telah mempengaruhi

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close
Support Online
 
Chat
 
Support Online
+