Earth Day Series- Menghitung Jejak Karbon dari Aktivitas Harian

Apr, 29 2010

Penulis :

Kamis, 29 April 2010

Bagi Emanuel Herdyanto, 28 tahun, hari-harinya akan terasa sepi tanpa mendengarkan musik. Dia biasa mendengarkan musik lewat komputer kerjanya.

“Saya nggak bisa berpikir kalau tidak mendengar musik,” ujar pria yang tinggal di bilangan Jakarta Pusat.

Karena itu, perangkat komputernya dalam sehari bisa “hidup” 24 jam nonstop. Bahkan, komputer tersebut sering kali tetap dalam keadaan standby meskipun ditinggal bepergian. Hal itu sebagaimana terjadi pada Minggu (25/4).

Dia bersama teman-temannya jalan-jalan ke Taman Surapati, Jakarta Pusat, untuk menyemarakkan peringatan Hari Bumi yang digagas Indonesian Civil Society Forum for Climate Justice (CSF).

Dalam acara bertajuk Klinik HELP-Climate Justice for Earth tersebut, Emanuel mengunjungi stan milik Institute for Essential Services Reform (IESR).

Dia penasaran untuk melakukan penghitungan jumlah emisi gas rumah kaca, yang diproduksinya lewat sebuah perangkat lunak kalkulator karbon, yang dikembangkan IESR.

Musyfarayani, staf komunikasi IESR, menerangkan tujuan pengembangan kalkulator karbon adalah membangun kesadaran individu agar dapat memahami konsekuensi gaya hidupnya, berdampak terhadap lingkungan hidup.

“Peningkatan kesadaran setiap individu diharapkan dapat mengurangi jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari aktivita mereka,” ujar Musyfarayani.

Dengan demikian, setiap individu akan lebih bertanggung jawab serta mampu merancang serangkaian tindakan untuk mewujudkan low carbon society.

Emanuel pun terperangah melihat hasil perhitungan kalkulator karbon dalam situs www.iesr-indonesia. org/carboncalculator. Aktivitas hariannya selama ini ternyata mengurangi emisi sekitar 27.208 gram (g) karbondioksida (CO2) ekuivalen.

Perhitungan tersebut berdasar penggunaan perangkat elektronik, lampu, air conditioner (AC), kertas, kendaraan bermotor, dan sampah organik.

Berdasarkan perhitungan kalkulator karbon, Emanuel disarankan melakukan penghematan energi dalam menggunakan perangkat elektronik.

Pasalnya, komputer yang menyala selama 24 jam nonstop serta perangkat elektronik lainnya mereduksi 14.000 g CO2 ekuivalen.

Musyfarayani juga menyarankan untuk melakukan penghematan energi mulai dari berbagai aktivitas yang sepertinya dianggap remeh bagi banyak orang.

Mengurangi penggunaan lampu di saat tidak perlu, paling tidak merupakan upaya “diet” karbon. Pasalnya, mematikan lampu paling tidak satu jam saja, bola lampu dengan kekuatan 10 watt sudah bisa menghemat 9,51 g CO2 ekuivalen.

Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor untuk tujuan berjarak pendek. Misalnya, untuk membeli makan siang, tidak perlu menggunakan motor bila warungnya berjarak 100 meter.

Pasalnya, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor jarak 100 meter berarti akan mengurangi emisi sebesar 1,48 g CO2.

Selain itu, mengurangi penggunaan kertas bagi pelajar, mahasiswa, pekerja kantor atau siapa pun. Kalau kita bisa menghemat satu lembar kertas 70 g saja, dengan cara printing bolak-balik, bisa mengurangi emisi 226,8 g CO2 ekuivalen.

Bahkan, kata Musyfarayani, menghabiskan makanan setiap hari, khususnya makanan berserat, berarti kita berkontribusi mengerem pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer. Sebab, setiap pengurangan 10 g sampah organik, kita mengurangi emisi sebesar 3,75 g CO2.
awm/L-4

Artikel Terkait
Aug, 22 2018

Jakarta, CNN Indonesia — Pemerintah tiba-tiba menggelembungkan alokasi subsidi energi Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019 menjadi Rp.156,53 triliun, naik hingga 65 persen

Jul, 5 2011

Jakarta – Masih besarnya beban subsidi yang harus ditanggung pemerintah menjadi ganjalan bagi Indonesia untuk mendapatkan peringkat ‘Investment Grade’. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat

Aug, 10 2007

The Jakarta Post, Jakarta | Mon, 10/08/2007 8:31 AM | Business Ika Krismantari, The Jakarta Post, Jakarta That “”Chinese products are everywhere”” is a statement

Dec, 7 2015

TEMPO.CO, Paris – Pekan pertama Konferensi Tingkat Tinggi Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) di Paris atau COP21 menyisakan banyak ketidakpuasan.  Banyak peserta

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close
Support Online
 
Chat
 
Support Online
+