Tarif BBM Naik? Ganti dengan Biodiesel!

Aug, 22 2018

Penulis :

Pernah merasakan dampak dari kenaikan bahan bakar minyak alias BBM? Selain uang jajan yang tidak lagi bisa meng-cover semua kebutuhan, budget untuk traveling pun jadi berkurang, kan?

Gara-gara BBM naik, ibu-ibu jadi lebih sering marah-marah kalau kamu minta ini-itu-banyak-sekali. Sayangnya, ibu tidak punya kantong ajaib. Jadi, mau tidak mau, kamu harus pasrah mendapatkan uang jajan seadanya dengan setengahnya mungkin masuk ke kasir pom bensin.

Kenaikan BBM pada dasarnya disebabkan oleh melemahnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS. Menurut mantan Sekertaris Kementerian BUMN, Said Didu, kenaikan harga BBM disebabkan oleh kondisi perekonomian yang mendesak. Salah satunya karena harga minyak dunia saat ini juga sudah naik. Oleh karena itu, langkah pemerintah untuk menaikkan harga BBM dianggap sudah tepat.

Tapi, pasti kamu akan lebih senang kalau harga BBM tetap terjangkau dan tidak mengganggu besaran uang jajan kamu, kan?

Nah, selain mendorong pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM, ada juga hal lain yang bisa kamu lakukan untuk menghindari kenaikan BBM. Caranya? Menjadi inovator di bidang industri ekstraktif.

Pernah mendengar istilah “industri ekstraktif”? Istilah ini mengacu pada kegiatan industri yang bahan bakunya diperoleh langsung dari alam, seperti halnya industri pertanian, pertambangan, peternakan, dan lain sebagainya. Kegiatan ekonomi yang satu ini dilakukan untuk mengolah bahan mentah atau baku, barang setengah jadi atau barang jadi, menjadi suatu produk bermutu tinggi, termasuk dalam kegiatan rancang bangun dan rekayasa industri. BBM sendiri termasuk salah satu produk industri ekstraktif karena bahan bakunya berasal dari alam.

Berdasarkan data yang diperoleh dari World Bank, sumber daya alam berperan penting dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik di 81 negara, serta menyumbang seperempat dari produk domestik bruto (PDB) global dan setengah populasi dunia. Sayangnya, sumber daya alam juga berpotensi menyebabkan konflik, seperti halnya kemiskinan, korupsi, dan konflik yang disebabkan oleh sistem pemerintahan yang lemah.

Jangan Kalah dengan Negara Tetangga!

Dengan tata kelola yang baik, manajemen yang transparan, penguatan kapasitas, mobilisasi sumber daya domestik, dan pembangunan kerangka kerja tata kelola industri yang memperhatikan hak asasi manusia, perlindungan lingkungan, pengelolaan pendapatan, dan kebijakan fiskal yang berkelanjutan, maka industri ekstraktif sangat berpotensi untuk mengurangi angka kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan berkelanjutan yang inklusif.

Lalu, siapa yang punya kekuatan untuk bisa membantu pemerintah dalam mewujudkan hal tersebut? Tentu saja kita, generasi muda.

Di Kamboja, gerakan anak muda yang peduli terhadap masa depan industri ekstraktif telah dimulai sejak 2014. Sekitar 400 anak muda dari berbagai universitas berkumpul di Phnom Penh untuk mengadakan forum bertajuk “Pemerintahan yang Baik di Sektor Industri Ekstraktif”. Dalam forum yang diselenggarakan oleh Program Pengembangan Sumber Daya Pemuda di Institut Pendidikan Nasional Kamboja ini, para pemuda Kamboja digiring untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang apa saja manfaat dan dampak yang dihasilkan dari industri kreatif, serta bagaimana para pemuda bisa berperan aktif dalam mendorong transparansi di sektor tersebut.

Sama seperti di Indonesia, Kamboja juga merupakan negara yang memiliki potensi besar dalam hal ekplorasi penambangan emas dan minyak bumi. Di satu sisi, hal itu bermanfaat bagi pembangunan ekonomi negara. Tapi, di sisi lain, hal ini juga berdampak negatif terhadap lingkungan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat jika pemerintah tidak dapat mengelola sumber daya alam dengan baik dan transparan.

Oleh karena itu, anak muda menjadi tulang punggung yang bisa mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pemerintah dalam hal ini, serta menggerakkan masyarakat untuk lebih sadar tentang pentingnya isu industri ekstraktif dalam memengaruhi kondisi sosial, ekonomi, dan politik di suatu negara.

Sementara itu, meski belum fokus terhadap isu industri ekstraktif, Indonesia juga cukup sadar bahwa pemuda merupakan tulang punggung yang bisa diandalkan bagi masa depan perindustrian di Indonesia.

Hal ini diungkapkan sendiri oleh pemerintah, melalui Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, yang memaparkan berbagai capaian pembangunan yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah, terutama dalam hal pembangunan sumber daya manusia.

Dalam pemaparan tersebut, Moeldoko menyebutkan bahwa generasi muda sudah saatnya dituntut untuk dapat menghadapi Revolusi Industri 4.0 yang berpusat pada mekanisasi dan tenaga listrik. Dalam revolusi tersebut, penggunaan sistem berbasis siber fisikal menjadi kunci utama yang harus dimiliki oleh sumber daya manusia dalam mengelola sumber daya alam yang ada.

Lebih lanjut lagi, Moeldoko juga menyebutkan bahwa pada 2045 mendatang, Indonesia akan menghadapi banyak perubahan di bidang industri, seperti halnya industri otomotif bertenaga listrik, menurunnya kebutuhan minyak bumi, berkembangnya teknologi cetak tiga dimensi, serta teknologi robot dan kecerdasan buatan. Oleh karena itu, generasi mudalah yang nantinya dituntut untuk berinovasi dan berkreasi dalam menghadapi berbagai peluang, permasalahan, dan perubahan yang berlangsung sangat cepat tersebut.

Nah, hal-hal yang saat ini bisa kamu lakukan untuk mendukung terciptanya pembangunan industri ekstraktif yang inklusif dan berkelanjutan adalah dengan senantiasa menjaga kelestarian lingkungan, memberikan kontribusi bagi lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan di bidang terkait isu industri ektraktif, serta mendukung berbagai forum dan gerakan sosial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang inklusif.

Ganti BBM dengan Biodiesel

Salah satu kontribusi yang bisa kamu lakukan dalam bidang industri ekstraktif adalah mengganti BBM dengan sumber energi terbarukan, seperti bahan biodiesel. Biodiesel adalah bahan bakar terbarukan yang diproduksi dari minyak nabati, lemak hewani, atau sampah daur ulang untuk digunakan sebagai bahan bakar kendaraan diesel atau peralatan apa pun yang biasanya beroperasi dengan menggunakan bahan bakar diesel. Secara fisik, biodiesel mirip dengan diesel minyak bumi.

Penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar kendaraan berpotensi untuk meningkatkan keamanan energi, meningkatkan kualitas udara dan lingkungan, dan memberikan manfaat keamanan bagi penggunanya.

Biodiesel bisa mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) dan nitrogen oksida (NOx) hingga tingkat nol. Hal ini disebabkan oleh pelepasan karbon dioksida pada saat menggunakan biodiesel diimbangi dengan penyerapan karbon dioksida oleh bahan-bahan pembentuk biodiesel.

Berdasarkan analisis siklus hidup yang dilakukan oleh Argonne National Laboratory, ditemukan bahwa penggunaan biodiesel 100 persen (B100) dapat mengurangi emisi karbon dioksida sebesar 74 persen dibandingkan dengan minyak solar.

Selain itu, penggunaan biodiesel juga memiliki potensi kerusakan lingkungan yang lebih rendah dibandingkan dengan minyak bumi. Hal ini disebabkan oleh bahan-bahannya yang tidak mudah terbakar.

Tapi, sebelum menggunakannya, periksa dulu rekomendasi original equipment manufacturer (OEM) mesin kendaraan yang kamu punya untuk menentukan bauran apa yang optimal digunakan pada kendaraan kamu.

Sudah tahu kan apa saja hal yang bisa kamu lakukan untuk mendorong industri ekstraktif di Indonesia? Yuk, dorong pemerintah untuk menerapkan prinsip-prinsip dan tata kelola yang baik dan transaparan dalam bidang industri ekstraktif!

Ruang Muda terkait

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close
Support Online
 
Chat
 
Support Online
+