Global Warming : Sebuah Ancaman bagi Kehidupan Makhluk Hidup di Bumi

Mar, 21 2012

Penulis :

Oleh: Kartikaweni Juliansari, Sobat Esensial IESR Batch 3

Pemanasan global (global warming) merupakan sebuah fenomena naiknya suhu permukaan bumi yang diakibatkan oleh emisi gas yang memerangkap panas matahari (gas rumah kaca). Kenaikan suhu di permukaan bumi mengakibatkan berubahnya iklim dan dapat berdampak pada terjadinya peristiwa – peristiwa alam seperti badai topan, badai siklon tropis, banjir, endemic, kekeringan, El Nino dan berbagai bencana lainnya yang mengakibatkan hilangnya fungsi ekosistem yang berdampak pada terjadinya bencana ekologis (Pusat Studi Manajemen Bencana, Petrasa Wacana). Menilik lebih jauh dari pada itu, global warming sangat berdampak bagi keseimbangan lapisan atmosfer bumi yang tentunya juga memengaruhi kehidupan di bumi. Lapisan – lapisan atmosfer tersebut (troposfer dan atmosfer) diganggu keseimbangannya oleh gas  – gas rumah kaca seperti CO2, CFC, HFC, NOX, SOX, CH4.

Mengapa gas – gas tersebut dapat berdampak bagi keseimbangan di bumi?

Pemenuhan gas CO2 di atmosfer dapat mengakibatkan perubahan suhu global dan memengaruhi kondisi meteorologi dan geologi. Konsentrasi CO2 yang tinggi, dapat memenuhi atmosfer dan memerangkap cahaya matahari di dalamnya sehingga mengakibatkan naiknya suhu di permukaan bumi tersebut. Kenaikan suhu yang ekstrem tersebut dapat berakibat pada mencairnya es di kutub sehingga meningkatkan volume air laut dan berdampak pada terjadinya el nino, bencana longsor, badai, dsb. Risiko yang ditimbulkan akibat dari bencana tersebut misalnya kerugian meterial, kerusakan fisik, korban, kerusakan lingkungan, dll. Ditambah lagi, saat ini mulai berkurangnya pohon sebagai penyerap CO2, dapatkah dibayangkan dampaknya bagi kehidupan di bumi?  Bila ditinjau dari efek gas lainnya, pertumbuhan penduduk yang sangat pesat sesungguhnya menambah masalah baru, misalnya dalam penggunaan CFC (chlorofluorocarbon) yang merupakan bahan pendingin lemari es, dan bahan pembakar pada aerosol. Tanpa disadari, penggunaan alat rumah tangga seperti itu, dapat berbahaya bagi lapisan ozon di atmosfer.

Bidang pertanian dan industri ternyata juga memegang peranan penting dalam kerusakan lapisan ozon di atmosfer bumi, misalnya pada gas SOX (sulfur oksida) yang dihasilkan dari pembakaran bensin oleh mesin industri. Gas tersebut terakumulasi di udara sehingga menambah sinar matahari yang terperangkap di permukaan bumi. Sedangkan dalam bidang pertanian, penggunaan pupuk tanah yang seharusnya mengandung nitrogen, ketika masuk ke tanah sebagian dari nitrogen tersebut berubah menjadi NOX (N2O : nitro oksida) yang merupakan gas rumah kaca yang sangat kuat (WWF Indonesia).

Di samping itu, gas methan (CH4) yang dihasilkan dari sampah dan industri peternakan juga berpengaruh terhadap terjadinya global warming. Pada industri peternakan, gas tersebut terdapat pada kotoran sapi. Nah, apa hubungannya gas methan dengan sampah? Pada saat kita membuang sempah hingga sampah itu menumpuk, kondisi sampah yang berada di bawah, akan membusuk, hal itu lah yang menghasilkan gas methan.

Jadi, apa yang dapat kita perbuat untuk menyelamatkan ozon? Dari uraian tersebut, dapat kita bayangkan separah apakah lapisan ozon bumi saat ini. Menyelamatkan ozon berarti meyelamatkan kehidupan makhluk hidup di bumi. Tanpa adanya lapisan ozon, bumi kita tidak akan terlindungi dari radiasi matahari yang sangat berbahaya. Mengurangi penggunaan alat yang mengandung gas rumah kaca amatlah penting untuk mencegah semakin parahnya kerusakan lapisan ozon. Mulailah dari sekarang untuk bijaksana dalam menggunakan energi, apa yang kita lakukan sekarang, akan mempengaruhi kehidupan yang akan datang.

Artikel Terkait
Jun, 2 2017

Pencabutan subsidi listrik bagi rumah tangga golongan 900 VA telah diterapkan pemerintah. Apa implikasinya bagi konsumen? Rumah saya di desa berlangganan listrik dengan kapasitas terpasang

Nov, 30 2012

COP 18 merupakan salah satu COP yang paling penting di dalam sejarah dimulainya negosiasi mengenai perubahan iklim. Protokol Kyoto menghadapi akhir dari periode pertamanya, dengan

Jan, 30 2018

Institute for Essential Services Reform (IESR) memberikan dukungan dalam Musyarawah Nasional (Munas) Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) ke-1 yang diselenggarakan pada tanggal 25 Januari 2018

Nov, 21 2013

Memasuki masa-masa akhir dari COP 19, beberapa hal ternyata mengalami jalan buntu. Isu-isu krusial seperti pendanaan, peningkatan ambisi penurunan emisi dari negara maju, mekanisme untuk

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close
Support Online
 
Chat
 
Support Online
+