Hari Pertama : Pertemuan ke-9 GCF Board 9 Digelar di Songdo, Korea Selatan

Mar, 25 2015

Penulis :

Pertemuan Dewan Green Climate Fund, pendanaan perubahan iklim yang dibentuk hasil kesepakatan dari para Pihak di COP 16 Cancun tahun 2010, yang ke-9, kembali digelar di Songdo, Korea Selatan. Paska penerimaan pledges dari berbagai negara di COP 20, Lima, Peru akhir tahun yang lalu sebesar USD 9,8 milyar, membuat lembaga pendanaan ini harus memacu kerjanya. Salah satu kinerja dari GCF yang akan dilihat pada tahun ini adalah adanya investasi untuk perubahan iklim pertama setidaknya di bulan Oktober 2015.

Para Dewan menyetujui agenda yang disodorkan oleh pemimpin sidang, sebanyak 31 agenda termasuk tambahan yang diminta oleh beberapa anggota Dewan mengenai pemuktahiran informasi berkenaan dengan status pendanaan yang sudah pasti akan mengalir ke GCF, dan ditandai dengan penandatangan perjanjian antara negara kontributor dengan sekretariat GCF. Berdasarkan pledging Conference di Berlin November 2014 yang lalu, terdapat sekitar USD 9,3 milliar pledge yang didapat oleh GCF. Pledge tambahan berkisar antara USD 800 juta ekivalen didapat pada COP 20 di Lima, Peru. Walau demikian, dana yang resmi tersedia (berdasarkan perjanjian yang telah ditandatangani oleh negara-negara tersebut dengan sekretariat GCF) baru sekitar USD 80 juta. Tenggat waktu yang diberikan untuk pemenuhan paling tidak 50% dari total pledge yang terkumpul adalah 30 April 2015. Jika pada tenggat waktu yang ditentukan dana tersebut telah minimum sama dengan 50% total pledge, maka pendanaan GCF akan berlaku efektif.

Agenda berikutnya yang dibahas adalah mengenai persiapan negara-negara berkembang untuk mendapatkan akses pada GCF. Hingga kemarin, tercatat sebanyak 101 negara yang telah memiliki NDA (National Designated Authorities) atau focal point untuk GCF. Walau demikian, Sekretariat diminta untuk terus memberikan informasi mengenai perkembangan readiness kepada Dewan GCF. Readiness di sini bukan hanya

Dewan GCF juga membahas mengenai analisis dampak dari adanya GCF dan juga perannya. Highlight yang dibahas dalam agenda ini terkait dengan isu pengklasifikasian geografis yang dimuat dalam dokumen yang diberikan. Dalam dokumen tersebut terdapat istilah baru sebagai ‘vulnerable countries’ yang dinilai tidak sesuai dengan Konvensi. GCF merupakan pendanaan yang dibentuk di bawah Konvensi, oleh karenanya harus mengacu pada istilah yang terdapat di Konvensi. Salah satu anggota dewan dengan jelas mengatakan, “There are two types of vulnerable countries; the ones with high resilience and the ones with low resilience”. Karena perdebatan yang sangat panjang, pemimpin sidang memutuskan untuk merevisi dokumen bersama dengan sekretariat dan akan mengkomunikasikannya kembali kepada anggota Dewan lainnya.

Isu yang sempat direpresentasikan adalah kebijakan yang terkait dengan kode etik dari anggota dewan GCF. Agenda ini sangat terkait dengan isu Akreditasi yang juga sangat penting, karena akan membahas kondisi yang mungkin terjadi jika terdapat entitas atau proposal dari negara-negara dimana anggota dewan tersebut berasal.

Artikel Terkait
Nov, 21 2013

Memasuki masa-masa akhir dari COP 19, beberapa hal ternyata mengalami jalan buntu. Isu-isu krusial seperti pendanaan, peningkatan ambisi penurunan emisi dari negara maju, mekanisme untuk

Nov, 7 2016

Pada 20 Oktober 2016, duet Jokowi-JK genap dua tahun lamanya dalam memimpin Republik Indonesia. Koalisi Masyarakat Sipil PWYP Indonesia menyoroti kinerja dari dua tahun pertama

May, 28 2019

Energy Transition Blog Series #1 Energy in human civilization Paolo Malanima, an economic historian from Italy, classifies the history of the world energy into two

Feb, 22 2012

Oleh: Fabby Tumiwa Dalam perjalanan menuju salah satu resort di  kawasan Pelabuhan Ratu, kendaraan yang kami tumpangi harus mengisi kembali bahan bakar setelah menempuh perjakanan

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close
Support Online
 
Chat
 
Support Online
+