Peran Masyarakat Jangan Sekadar saat Kampanye Hemat Listrik

Mar, 28 2010

Penulis :

Penulis: Jajang Sumantri

JAKARTA–MI: Keterlibatan masyarakat dalam kampanye penghematan listrik untuk mengurangi pemanasan global (earth hour), harus berjalan tidak sekadar saat kampanye berlangsung.

Beban puncak listrik selama ini tidak bisa dikendalikan karena belum adanya budaya hemat konsumsi energi di masyarakat. Karenanya perlu diterapkan penerapan insentif dan disinsentif supaya masyarakat berhitung secara ekonomis terkait besaran konsumsi listrik tersebut.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa menanggapi partisipasi masyarakat untuk memadamkan listrik selama 1 jam dalam program earth hour, Sabtu (27/3) lalu.

“Kalau hanya bersifat partisipatoris dampaknya tidak terlalu signifikan, apalagi keterlibatan masyarakat karena gencarnya kampanye gerakan ini. Kalau dihitung dengan biaya kampanyenya, mungkin nilai penghematan (Rp580 juta) itu langsung impas. Selain itu, kampanye ini hanya menyentuh golongan konsumen kelas menengah yang memiliki tergerak untuk berpartisipasi sekedar ikut-ikutan ataupun memang karena kesadaran,” ujar Fabby, kepada Media Indonesia, Minggu (28/3).

Selainitu, imbuh Fabby, digelarnya program ini pada akhir pekan membuat golongan konsumen yang terlibat dalam program ini sebagian besar adalah pelanggan kelompok rumah tangga.

Menurut Fabby, tantangannya kini adalah bagaimana supaya budaya hemat ini bisa menjadi kebiasaan (habit) konsumen.

Selama ini masyarakat tidak memiliki budaya hemat karena masih menganggap pengeluaran listrik tidak menjadi bagian perhitungan ekonomis, terkait dengan adanya subsdidi listrik untuk hampir seluruh golongan pelanggan.

“Hal seperti ini menjadi kendala utama upaya penghematan. Karena itu perlu adanya penerapan insentif dan disinsentif untuk besaran pemakaian listrik pelanggan,” ujar Fabby. (Jaz/OL-03)

Sent from my BlackBerry® powered by

http://www.mediaindonesia.com.

Artikel Terkait
Oct, 10 2013

Dorongan pemerataan energi digaungkan agar daerah-daerah lebih makmur. Terutama listrik yang masih menjadi cerita miris. Menjadi daerah kaya sumber energi, 35 persen penduduk Kaltim disebut

Feb, 8 2018

Energi merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia, sama seperti sandang, pangan dan papan. Bahkan energi merupakan prasyarat utama untuk mencapai kesejahteraan. Menyadari pentingnya peranan energi,

Sep, 18 2012

Kompas, Selasa, 18 September 2012. Kesepakatan pemerintah dan Komisi VII DPR untuk menaikkan tarif tenaga listrik pada tahun 2013 dinilai merupakan langkah yang tepat. Namun, hal

Sep, 27 2012

BY IGNASIUS LAYA & NURSEFFI DWI WAHYUNI JAKARTA (IFT) – PT Pelayanan Listrik Nasional Batam, anak usaha PT PLN (Persero), badan usaha milik negara di sektor

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close