Kekeringan, Potensi Rugi PLN Rp 5,5 T

Mar, 22 2011

Penulis :

JAKARTA, REPUBLIKA – Menyusutnya debit air di Waduk Cirata dan Saguling di Jawa Barat membuat PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) harus menanggung akibatnya. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang terpasang di kedua waduk mengalami kekurangan daya hingga 1.300 megawatt (mw) sehingga PLN kehilangan pendapatan hingga Rp 5,5 triliun per bulan.

———————————————————————————————

—————————————————————-

Selasa, 22 Maret 2011 pukul 09:08:00

Oleh Palupi Annisa Auliani

JAKARTA – Menyusutnya debit air di Waduk Cirata dan Saguling di Jawa Barat membuat PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) harus menanggung akibatnya. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yang terpasang di kedua waduk mengalami kekurangan daya hingga 1.300 megawatt (mw) sehingga PLN kehilangan pendapatan hingga Rp 5,5 triliun per bulan.

“Diperkirakan kerugian ini masih akan ditanggung sampai bulan depan,” ujar Direktur Utama PLN Dahlan Iskan, kepada Republika, Senin (21/3). Penyusutan air di kedua waduk terjadi sejak sebulan lalu.

Namun, Dahlan berupaya agar kekurangan daya itu tak mengakibatkan terjadinya pemadaman listrik di Jawa. Padahal, dia mengakui, kejadian akibat anomali cuaca ini dampaknya cukup parah bagi PLN. Tanpa adanya upaya efisiensi dari perusahaan BUMN ini, lanjutnya, ancaman pemadaman listrik sudah terjadi sejak sebulan lalu.

“Jika situasi sekarang terjadi dua tahun lalu, Jakarta sudah gelap,” kata Dahlan memberikan gambaran seberapa buruk pengaruh penyusutan debit air itu bagi pasokan listrik di Jawa.

Dahlan lalu mencontohkan, langkah strategis pembaruan 10 ribu trafo yang telah dilakukan tahun lalu sebagai tindakan tepat yang membantu tak terjadinya pemadaman listrik saat ini. Meskipun, diakuinya, PLN masih belum bisa tidur nyenyak selama penyusutan air waduk itu belum teratasi. “Sekarang ini jantung seluruh pegawai PLN sedang berdebar,” ungkap Dahlan.

Kebutuhan listrik Indonesia dibedakan menjadi dua wilayah besar, yaitu Jawa-Bali dan luar Jawa. Kebutuhan beban puncak pada pukul 18.00-22.00 WIB untuk jaringan Jawa-Bali sebesar 18.400 mw, sementara luar Jawa mencapai 15 ribu mw.

Idealnya, Dahlan melanjutkan, pasokan listrik yang harus disediakan PLN adalah kebutuhan beban puncak ditambah 35 persen. Artinya, untuk Jawa-Bali dibutuhkan sekitar 25 ribu mw dan luar Jawa sekurangnya 20 ribu mw. Sementara itu, menurut Direktur Operasional Jawa-Bali PLN, I Ngurah Adyana, kalau tanpa adanya gangguan cuaca dan semua pembangkit bekerja optimal, pasokan listrik Jawa-Bali baru 22.500 mw.

Menurut Direktur Bisnis dan Manajemen Risiko PLN Murtaqi Syamsuddin, hilangnya pendapatan sebesar Rp 5,5 triliun itu dihitung berdasarkan daya yang hilang sebesar 1.300 mw. Daya itu lalu dikalikan 500 jam dan dikalikan lagi dengan harga Rp 1.000 per kilowatt hour. “Kerugian satu bulannya segitu,” paparnya.

Sejak sebulan terakhir, tinggi muka air (TMA) di Waduk Cirata dan Saguling terus menyusut. Pekan lalu, TMA di Waduk Cirata hanya 208,34 meter atau dua meter dari batas rendah 206,00 meter. Sedang TMA Waduk Saguling 630,23 meter atau hanya lima meter dari batas rendah 625,00 meter.

Selain kehilangan pendapatan, Adyana mengungkapkan, PLN juga mesti menanggung biaya tambahan untuk mengoperasikan pembangkit dengan tenaga solar di saat beban puncak. Pembangkit ini dihidupkan untuk menutup penurunan daya di kedua PLTA tersebut. “Biaya untuk menggantikan air dengan minyak itu sebesar Rp 8 miliar per hari,” ungkap dia.

Pengamat kelistrikan Fabby Tumiwa menyarankan PLN sebaiknya menyusun kapasitas terpasang atau reserve margin untuk jangka panjang. Hal ini perlu dilakukan agar kekurangan daya di PLTA Saguling dan Cirata tidak terulang lagi. “Memastikan berapa reserve margin untuk negara beriklim tropis, kemampuan PLTA dalam 20-30 tahun terakhir,” kata Fabby.

Selain itu, Fabby melanjutkan, PLN juga harus mengoordinasikan pembangkit thermal dengan hydro sehingga tidak terjadi kekurangan daya atau shortage. Cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini memang cukup berpengaruh meski skalanya belum mencakup seluruh Indonesia.

Cuaca ekstrem, ujarnya, sebelumnya juga sempat memengaruhi distribusi batu bara ke pembangkit listrik. “Tapi, kan sejauh ini belum terlihat adanya gangguan berkali-kali atau jangka panjang,” ujar Fabby.

Menyusutnya debit air di Waduk Saguling dan Cirata, Fabby memaparkan, juga tak semata-mata karena berkurangnya curah hujan. Daerah tangkapan air yang rusak serta tingginya endapan di dasar waduk ikut memengaruhinya. Fabby juga menyarankan agar PLN menerapkan sistem desentralisasi dengan alasan belum amannya pasokan listrik untuk seluruh Tanah Air.

Desentralisasi ini dinilainya sangat diperlukan bagi wilayah Indonesia Timur yang masih minim elektrifikasinya. PLTA berskala kecil perlu dibangun, misalnya dengan tenaga micro hydro. “Seperti di Papua, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, sebagian Kalimantan dan Sulawesi yang rasio elektrifikasinya di bawah 40 persen,” sebut Fabby.

Anggota Komisi VII DPR Sohibul Iman mengingatkan PLN untuk mewaspadai neracanya menyusul kerugian tersebut. “Cuaca itu pengaruhnya ke energi primer. Pengeluaran seberapa pun untuk mengganti energi primer dalam kondisi ini sudah betul,” ujarnya.

Namun, Iman melanjutkan, langkah penggantian ini harus betul-betul bersifat darurat dan sementara. Dia tak ingin neraca keuangan PLN terganggu gara-gara harus menutupi kekurangan daya dan kehilangan potensi pendapatan. “Bagaimana pengaruh dari Rp 5,5 triliun tersebut, ini akan kami evaluasi karena ujung-ujungnya adalah alokasi APBN,” kata dia. citra listya rini ed: budi raharjo

Sumber: koran.republika.co.id.

Artikel Terkait
Aug, 19 2015

JAKARTA – Banyak pihak menyangsikan pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt (MW) di era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi)-Jusuf Kalla (JK) dapat terealisasikan. Nada pesimistis bahkan

Nov, 13 2015

JAKARTA, – PT Pertamina (Persero) perlu memberikan bukti-bukti yang kuat secara hukum, jika ingin membawa kasus pengadaan minyak oleh Pertamina Energy Trading Limited (Petral) ke

Apr, 6 2011

Senin, 04 April 2011 21:05 WIB JAKARTA–MICOM: Gas elpiji (liquified petroleum gas/LPG) merupakan sumber energi modern yang lebih bersih atau lebih sedikit menghasilkan polusi dibanding

Jul, 25 2016

Jakarta, CNN Indonesia — Teguran keras yang dilontarkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said kepada Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close
Support Online
 
Chat
 
Support Online
+