Ketika Pemanasan Global Dibicarakan di SD

Apr, 2 2010

Penulis :

IESR (Institute Essential Service Reform), BIC bersama Jaringan CSF (Civil Society Forum) seperti Walhi, dan SatuDunia, mulai mengelar pendidikan publik tentang Perubahan Iklim Usia Dini di beberapa Sekolah Dasar (SD) di Jakarta. Pendidikan masalah perubahan iklim usia dini ini dimaksudkan agar anak-anak mendapatkan pengetahuan dasar tentang perubahan iklim dan pemanasan global serta dampaknya bagi Indonesia, terutama untuk kehidupan mereka ke depan.

“Anak-anak itu masa depan dunia. Kita ingin mereka tahu duduk persoalan tentang perubahan iklim dan pemanasan global terutama menyangkut Indonesia di mana mereka berada. Kita juga memberikan pemahaman bahwa banyak hal yang bisa mereka lakukan untuk senantiasa menjaga bumi ini lebih baik dengan cara mereka sendiri,” jelas Rini Nasution, Koordinator Kampanye CSF.

Dalam tiga kali pertemuan di beberapa kelas dan gabungannya, jelas Rini, pihaknya bisa me-tracking kebiasaan mereka sehari-hari dalam penggunaan energi dan perilaku ramah lingkungan mereka, baik di rumah atau sekolah. Dari sanalah mereka membuka dialog tentang pemahaman anak-anak terhadap pemanasan global dalam bahasa yang dipahami anak-anak.

Kegiatan perdana ini dimulai sejak 9 Maret 2010, di SD Asisi Menteng Dalam, Jakarta. Sekolah dimana Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, menghabiskan waktu selama tiga tahun SD pertamanya di sana. Tidak ada maksud khusus terkait relasi sekolah itu dengan Obama pernah ada di sana.

“Kebetulan waktu kami tengah mencari sekolah yang mau bekerjasama dalam memberikan pengetahuan ini, Sekolah Asisi termasuk yang menyambut baik. Mereka punya program go green yang telah berjalan, ada Republik Asisi yang mendorong untuk terlaksananya program tersebut. Kami pun kemudian berkoloborasi untuk mempertajam program itu bersama. Rencananya kami akan menjalankan ini tidak hanya sebatas satu sekolah tapi juga yang lain,” jelas Rini.

Sementara pemberi materi pengetahuan pemanasan global dan perubahan iklim bagi sekolah-sekolah tersebut, Nadia Hadad, dari BIC (Bank Information Centre) mengatakan, dia cukup terkejut ketika mengetahui bahwa kini anak-anak SD lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar tv untuk bermain game daripada beraktifitas di luar seperti main bola, misalnya.

Footprint Co2 yang mereka keluarkan cukup banyak. Dari tiga kali pertemuan pengajaran ini, kita mengetahui mereka suka main game satu hingga enam jam di depan layar kaca. Kendati di sekolah mereka sudah tahu makna go green, seperti gunakan air seperlunya, matikan listrik jika tidak perlu, tapi dalam keseharian di rumah itu masih banyak yang belum melakukan. Karena apa, karena orang tuanya juga tidak membiasakan hal-hal demikian. Malah mungkin juga mendorong hal itu,” ungkap Nadia.

Karena itu Nadia menilai kampanye pengetahuan dasar tentang apa itu pemanasan global dan perubahan iklim, serta yang bisa dilakukan anak-anak untuk “menyelamatkan dan menyayangi “ bumi, sangatlah penting. Sayangnya topik semacam ini tidak pernah dimasukkan dalam kurikulum khusus di sekolah-sekolah. Memang mungkin itu hanya dijadikan sebagai pengetahuan tambahan di pelajaran pengetahuan alam. Tapi menurutnya itu masih belumlah cukup.

“Ini penting, karena Indonesia Negara yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim jika masih ada kebijakan yang belum serius dalam menanganinya. Anak-anak ini perlu tahu apa yang terjadi ke depan jika iklim bumi semakin tidak membaik. Anak-anak inilah generasi penghuni bumi ke depan, dan merekalah yang akan menghadapinya. Namun mereka juga bisa melakukan sesuatu meski skalanya sangat kecil, dan orang tua dan gurulah yang harus memberikan pengetahuan dan contoh hal itu,” tambah Nadia.

Senada juga diungkapkan Siti Badriah, stag Keadilan Iklim IESR. Menurutnya kampanye pendidikan publik tentang pemanasan global dan dampak perubah iklim ekstrem perlu diberikan di usia dinia.

“Sehingga jika mereka kelak jadi pemimpin, mereka tidak lagi memberikan kebijakan yang salah urus,” jelasnya.

Dalam setiap kali pertemuan yang menggunakan gambar-gambar, film dan cerita, terlihat anak-anak memberikan respon baik berupa pertanyaan maupun pernyataan sehingga terjadi ruang dialog tentang niat mereka untuk “menyelamatkan” bumi. Mereka juga baru tersadarkan bahwa masih ada di belahan dunia atau daerah lainnya mengalami masalah kekeringan karena kurang air, dan kenyataan bahwa mereka juga telah mengalami dampak perubahan iklim.

“Kami suka kena banjir, Kak. Juga pernah kena sakit demam berdarah,” kata mereka begitu dijelaskan tentang dampak perubahan iklim melalui gambr-gambar.

Sementara itu Kepala Sekolah SD Asisi, Dra. Yustina Amirah S, menyambut baik dengan kerjasama yang telah dilakukan. Dalam akhir kegiatan anak-anak dengan antusias secara bergilir menuliskan harapan mereka tentang perubahan iklim yang lebih baik dalam spanduk yang bertema: AYO SAYANGI BUMI! (***/Musfarayani)

Artikel Terkait
Dec, 20 2010

IESR, Jakarta- Pada Kamis, 16 Desember yang lalu IESR mengadakan Sarasehan Iklim untuk mengumpulkan pihak-pihak yang berperan dalam negosiasi iklim Indonesia. Kegiatan ini menghadirkan perwakilan

Apr, 28 2013

Sebagai salah satu bentuk kegiatan dari proyek STREAM (Sustainable Tourism through Energy Efficiency with Adaptation and Mitigation Measures in Pangandaran), Institute for Essential Services Reform

Oct, 19 2019

Sejak awal tahun 2017, IESR menginisasi Pojok Energi, sebuah platform diskusi mengenai energi yang bertujuan untuk mempertemukan pengambil kebijakan dengan beragam pemangku kepentingan dan masyarakat

Sep, 5 2016

Institute for Essential Services Reform (IESR) bersama European Climate Foundation (ECF) menyelenggarakan seri diskusi mengenai Transformasi Sistem Energi. Topik kali membahas tentang Integrasi Pembangkit Energi

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close