Mari Menghemat Listrik

Feb, 29 2008

Penulis :

REUTERS/Dadang Tri

Petugas PLN memeriksa sistem transmisi listrik di Jakarta. Pemadaman itu berkaitan dengan terhambatnya pasokan batu bara untuk menggerakkan mesin pembangkit listrik. Hal ini disebabkan terhambatnya kapal pengangkut batu bara dari Pulau Kalimantan. Kapal terkendala sampai di pelabuhan tepat waktu karena dihantam gelombang tinggi akibat badai Nicholas yang terjadi di selatan Pulau Bali. Akibat dari itu, pembangkit listrik pun tidak maksimal menghasilkan listrik.

Sebagai contoh, PLTU Tanjung Jati B sebagai penopang pengadaan listrik di Jawa-Bali hanya memiliki kemampuan 250 MW padahal kapasitasnya 1.320 MW. Untuk menutupi kekurangan pasokan batu bara, PLN menggunakan BBM sebagai energi pembangkit, padahal saat itu harga minyak dunia hampir mencapai US$ 100 per barel. Direktur Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, memandang pemadaman listrik itu sebagai kegagalan pemerintah dan PLN dalam menjamin pasokan energi. Masyarakat dirugikan baik ekonomi maupun nonekonomi yang akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional.

“Cuaca jangan dijadikan alasan. Seharusnya pemerintah dalam hal ini Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral bersama PLN mengambil langkah antisipatif untuk memperpanjang stok bahan bakar di sejumlah pembangkit, meningkatkan ketersediaan pembangkit melalui upaya perencanaan yang benar, serta peningkatan kinerja operasi dan perawatan pembangkit,” papar Fabby.

Ia melanjutkan, kejadian ini merupakan akumulasi dari kegagalan fungsi pengawasan pemerintah terhadap PLN, hambatan PLN mendapatkan pasokan bahan bakar secara berkesinambungan, kelemahan perencanaan dan manajemen pembangkitan tenaga listrik PLN, serta rendahnya keandalan pembangkit PLN akibat buruknya pengoperasian dan perawatan pembangkit listrik.

Oleh karenanya, perlu dilakukan investigasi dalam rangka memperbaiki pengelolaan energi nasional di masa mendatang serta langkah-langkah komprehensif dalam kebijakan, pengaturan, dan strategi untuk menjamin pasokan energi. Selain itu, IESR mendesak pemerintah segera merestrukturisasi manajemen PLN dengan pertimbangan memburuknya penyediaan tenaga listrik dalam lima tahun terakhir.

“Tanpa adanya tindakan korektif terhadap kebijakan dan strategi penyediaan energi nasional dan reformasi di dalam PLN termasuk penetapan kebijakan harga energi yang rasional, maka frekuensi pemadaman listrik akan semakin besar pada 2008 hingga 2009,” kata Fabby.

Tidak berimbangnya peningkatan jumlah permintaan listrik dan tersedianya pembangkit, mendorong PLN kini mengembangkan proyek pembangkit listrik 10.000 MW dengan membangun sepuluh PLTU.

Program Insentif Berkurangnya subsidi listrik pada APBN 2008 dari Rp 52 triliun menjadi Rp 42 triliun menyebabkan PLN membuat program insentif dan disinsentif listrik yang akan diberlakukan pada Maret. Rencana itu tengah dibahas anggota Komisi VI DPR yang membidangi energi, sumber daya mineral, riset dan teknologi, serta lingkungan hidup. Insentif akan dibebankan kepada rumah tangga, pemerintah dan bisnis kecuali bisnis dengan penggunaan listrik di atas 200 kVA. Tujuannya adalah menekan penggunaan BBM.
Kelompok pelanggan rumah tangga dengan rata-rata nasional 75 kWh per bulan misalnya, akan memperoleh insentif sebesar 20 persen jika menggunakan listrik di bawah 75 kWh. Sebaliknya kelompok itu akan memperoleh disinsentif jika menggunakan listrik di atas 20 persen. Ia akan membayar 1,6 kali lebih besar dari tarif normal.

Sebagai ilustrasi, kelompok pelanggan rumah tangga dengan kapasitas terpasang 450 VA, konsumsi listrik 50 kWh per bulan, dan harga tertinggi tarif pelanggan misalnya Rp 495 per kWh akan memperoleh insentif dengan perhitungan berikut. Penghematan penggunaan listrik sebesar 25 kWh per bulan dikalikan insentif 20 persen dikalikan Rp 495 maka didapat insentif sebesar Rp 2.475 per bulan. Terlihat pelanggan yang berhemat akan memperoleh reward, sedangkan pelanggan yang boros akan memperoleh penalti.
Diharapkan jika masyarakat menjalankan hal demikian akan diperoleh penghematan subsidi listrik sebesar Rp 18,8 triliun.

Direktur Niaga dan Pelayanan Pelanggan PT PLN, Sunggu Anwar Aritonang, menegaskan insentif dan disinsentif tarif listrik bukan untuk menambah keuntungan PLN, melainkan membiasakan masyarakat berhemat listrik. Pendapatnya itu berlawanan dengan pendapat Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi.
“Denda yang diperoleh dari tarif disinsentif hanya untuk meningkatkan pendapatan PLN,” ujarnya.

Ia melanjutkan pelanggan listrik baik Jawa dan luar Jawa dapat dikenakan disinsentif. Penyebabnya penggunaan listrik di dua wilayah itu melebihi 75 kWh. Tulus menilai insentif dan disinsentif tarif listrik tidak efektif menimbulkan pola hidup hemat masyarakat.

Sementara itu, anggota Komisi VII DPR, Zaenal Arifin tidak setuju rencana PLN menerapkan tarif insentif dan disinsentif. Menurutnya masyarakat harus diberikan tarif listrik semurah mungkin yang mampu dijangkau masyarakat. “Listrik adalah sarana. Penghematan energi jangan melanggar hak masyarakat terhadap energi.,” ujar Zaenal.
Hemat Listrik Meminjam istilah PLN, generasi hemat listrik merujuk pada penanaman budaya hemat listrik sejak usia dini. Hal itu adalah bagian dari Gerakan Nasional Hemat Energi Sejak Usia Dini yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Hari Anak Nasional tahun 2005.

Program penghematan listrik berlandas pada Pengarahan Wakil Presiden tanggal 3 Desember 2007 tentang Upaya Penghematan BBM di Semua Sektor Berkenaan dengan Kenaikan Harga Minyak Dunia, Surat Menteri ESDM No 1128/20/MEM S/2008 tanggal 12 Februari 2008 tentang Persetujuan Program Pemakaian Tenaga Listrik, serta Surat Dirjen LPE No. 628/20/2008 tanggal 20 Februari 2008 tentang Program Penghematan Pemakaian Tenaga Listrik.

PLN memperkirakan bila pelanggan berhemat 20 persen akan terjadi penghematan bahan bakar sejumlah 3.732 juta liter per tahun, ekuivalen dengan Rp 18,66 triliun per tahun. Hal itu penting diperhatikan sebab cadangan minyak di Indonesia hanya cukup hingga 18 tahun, gas 60 tahun dan batu bara 150 tahun.

Pelanggan yang didorong menghemat pemakaian listrik adalah pelanggan untuk keperluan konsumtif, yaitu golongan rumah tangga, bisnis kecuali bisnis di atas 200 kVA, serta pemerintah. Sementara itu pelanggan industri yang menggunakan listrik untuk keperluan produktif tidak dilibatkan dalam program penghematan ini.

Oleh karena itu, apa yang dapat dilakukan pelanggan guna menumbuhkan budaya berhemat listrik? Mulailah mengerjakan hal-hal sederhana seperti mematikan tiga hingga empat lampu saat beban puncak pukul 17.00 hingga pukul 22.00. Bila masyarakat melakukan hal itu, PLN mampu menghemat energi 900 MW, setara dengan kebutuhan listrik di Jakarta Utara.

Pada 2008 ini PLN akan membagikan 50 juta lampu hemat energi (LHE). Sunggu membandingkan lampu pijar seharga Rp 2.500 hanya bertahan enam bulan dengan LHE seharga Rp 15.000 yang dapat bertahan 1,5 tahun. Jika pelanggan menggunakan LHE, ia membayar tarif listrik lebih murah serta jangka waktu LHE yang lebih panjang.

“Berhemat tidak sekadar mengganti lampu pijar dengan lampu hemat energi, harus diikuti dengan perilaku hemat energi. Dalam kehidupan yang dibanjiri teknologi, masyarakat cenderung mengonsumsi listrik untuk memenuhi gaya hidup mereka. Contohnya menyinari lukisan, menggunakan magic jar 24 jam, hingga menyalakan TV walau tidak ditonton,” ujar Sunggu. [IGK/N-5]
________________________________________
Last modified: 29/2/08

SUARA PEMBARUAN DAILY
http://www.suarapembaruan.com.

Artikel Terkait
Sep, 6 2012

JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan menetapkan kenaikan harga listrik berbasis beberapa jenis energi baru terbarukan. Hal ini dilakukan untuk mendorong peningkatan porsi

Jan, 30 2018

Download Best WordPress Themes Free DownloadDownload WordPress Themes FreeDownload WordPress Themes FreeDownload Premium WordPress Themes Freedownload udemy paid course for freedownload micromax firmwareDownload WordPress Themes

Jul, 13 2017

Dalam pertemuan anggota negara-negara G20 di Jerman, Presiden Joko “Jokowi” Widodo kembali menegaskan mengenai komitmen Indonesia terhadap Kesepakatan Paris. Namun banyak upaya yang harus dilakukan

Dec, 9 2015

Masih banyak daerah yang belum mendapat aliran listrik Oleh : Daurina Lestari, Arie Dwi Budiawati VIVA.co.id – Pemerintah telah meluncurkan kapal energi Marine Vessel Power

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close
Support Online
 
Chat
 
Support Online
+