PLN Akan Membangun 124 PLTS

Apr, 12 2011

Penulis :

JAKARTA, KOMPAS (08/04/2011)- PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) akan membangun 124 pembangkit listrik tenaga surya pada tahun 2011.

Hal ini untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di kawasan Indonesia bagian timur yang masih di bawah 60 persen.

Melalui program ini, menurut Direktur Operasi Indonesia Timur PLN Vicker Sinaga, Jumat (8/4/2011), di Jakarta, PLN menargetkan penambahan 370.000 pelanggan. Secara keseluruhan, target penambahan pelanggan di Indonesia bagian timur tahun ini 1,1 juta pelanggan.

Untuk mempercepat pasokan listrik di daerah yang jauh dari jaringan dan kepulauan, perseroan itu akan membangun ratusan PLTS lewat sistem komunal dan mandiri.

Dalam sistem komunal, pembangkit melistriki satu pulau di mana ada instalasi, panel surya dan jaringan. Dalam sistem PLTS mandiri, pembangkit melistriki daerah yang jauh dari jaringan dan ada 1.234 pelanggan yang sudah memakai sistem kelistrikan ini.

Tahun ini PLN akan membangun 124 pembangkit tenaga surya di Indonesia bagian timur tahun ini. Rinciannya, 15 lokasi di 15 kabupaten di Papua dan Papua Barat dengan total daya 4.500 kilo Watt Peak (kWP).

Perseroan itu juga akan membangun 109 pembangkit tenaga surya di sekitar 100 pulau dengan total kapasitas 18.150 kWp yang tersebar di sejumlah provinsi di antaranya Papua, Papua Barat, Maluku dan Nusa Tenggara Timur.

“Adapun biaya investasi pembangunan pembangkit itu sekitar Rp 9 miliar untuk setiap pulau. Dianggarkan Rp 750 miliar, sisanya akan didapat dari penghematan belanja modal dan biaya operasi,” kata dia.

Untuk sistem PLTS mandiri, PLN mengeluarkan biaya penyambungan Rp 3,5 juta per pelanggan, lebih rendah dari biaya jaringan baru yang sebesar Rp 8 juta per pelanggan. Pelanggan wajib membayar uang jaminan Rp 500.000 dan biaya berlangganan Rp 35.000 per bulan.

“Setiap pelanggan dapat tiga lampu super ekstra hemat energi (SEHEN)

2-3 watt. Lebih murah kan dibanding pakai lampu petromax yang butuh beli minyak tanah Rp 90.000 per bulan,” kata dia.

Menurut Sekretaris Eksekutif Direktur Operasi Indonesia Timur PLN Martono, saat ini pembangunan ratusan PLTS itu baru tahap penyiapan dokumen. Dalam waktu dekat akan tender. “Proses pengadaan barang dan pembangunan konstruksi diperkirakan butuh waktu lima bulan,” ujarnya menjelaskan.

Menanggapi hal itu, pengamat kelistrikan Fabby Tumiwa menilai, pembangunan pembangkit tenaga surya ini memiliki beberapa kelemahan.

Selain investasi awal tinggi, pasokan energi terbatas karena bergantung pada kondisi sinar matahari. “Untuk itu, sistemnya bisa di-hybrid dengan pembangkit listrik tenaga diesel dan PLTS,” kata dia.

Selain itu perawatan menjadi tantangan. Oleh karena, ada beberapa komponen yang memerlukan perawatan rutin meski secara teknis mudah.

“Secara keseluruhan, pembangunan PLTS ini mempunyai nilai positif, asalkan sistemnya handal dengan komponen atau alat-alat berkualitas sehingga bisa menghasilkan tenaga listrik dalam 15-20 tahun,” ujarnya.

Sumber: kompas.com.

Artikel Terkait
Apr, 10 2012

TEMPO.CO, Jakarta – Pengamat kelistrikan, Fabby Tumiwa mengatakan ada sejumlah hal yang bisa disiasati PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dan pemerintah untuk mengendalikan pembengkakan subsidi bahan bakar

Oct, 3 2017

Pemerintah dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) berhasil menerangi 73.139 desa terpencil yang belum terlistriki hingga Agustus 2017. Jumlah ini meningkat dari capaian dua tahun

Sep, 14 2017

  Revolusi energi surya di Indonesia dimulai Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) bersama para penggiat energi surya mendeklarasikan Gerakan Nasional Sejuta Listrik Surya Atap di

Dec, 28 2016

INDOPOS.CO.ID – PT Pertamina melalui anak usahanya PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) bersama dua BUMN lainnya, yaitu PT Geodipa Energi dan PT PLN (Persero), mendapatkan

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close
Support Online
 
Chat
 
Support Online
+