TDL Pelanggan Kecil Naik 10%

Apr, 5 2010

Penulis :

JAKARTA (SI) – Pemerintah berencana menaikkan tarif dasar listrik (TDL) bagi pelanggan golongan 450 volt ampere (VA) dan 900 VA sebesar 10% mulai Juli 2010.

Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Kementerian ESDM J Purwono mengatakan,kenaikan tersebut baru akan berlaku jika pemakaiannya melebihi 30 kWh per bulan. ”Jika pelanggan 450 VA dan 900 VA hanya memakai listrik di bawah 30 kWh per bulan, tidak akan terkena kenaikan tarif,” ujarnya di Jakarta,kemarin. Menurut dia,berdasarkan data PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), cukup banyak pelanggan 450 VA dan 900 VA yang pemakaiannya di bawah 30 kWh per bulan, khususnya di wilayah Indonesia bagian timur. Purwono menambahkan, bagi pelanggan listrik di atas 900 VA atau menengah ke atas,yakni 1.300 VA ke atas akan terkena kenaikan TDL tanpa pengecualian.

Sesuai skenario pemerintah, kenaikan TDL bagi pelanggan 1.300 VA ke atas direncanakan antara 14–18%. ”Dengan demikian, secara ratarata, kenaikan TDL-nya sebesar 15%,”katanya. Kenaikan TDL tersebut, kata Purwono, disesuaikan dengan kemampuan pelanggan golongan masing-masing. Namun dia menegaskan, meski ada kenaikan TDL,pemerintah akan tetap memberikan subsidi listrik. ”Namun kalau TDL naik, dana subsidi itu dikurangi dengan kenaikan TDL, yang diambil dari pelanggan yang kehidupannya lebih layak,” paparnya. Dia mengatakan, pemerintah akan membahas sekali lagi rencana kenaikan TDL di Kantor Menko Perekonomian sebelum diajukan ke Komisi VII DPR. Direncanakan, kajian antar kementerian tersebut sudah diajukan ke anggota dewan pada April ini.

Sementara itu, pemerintah merencanakan kenaikan TDL tersebut direalisasikan pada Juli 2010. Seperti diketahui, alasan pemerintah menaikkan TDL untuk menutupi sebagian pembengkakan subsidi listrik pada 2010 akibat kenaikan harga bahan bakar minyak pembangkit. Pemerintah memperkirakan pada semester II/ 2010, daya beli masyarakat sudah makin membaik sehingga kenaikan TDL tidak terlalu memberatkan. Namun, kenaikan tersebut sesuai UU No 30/ 2009 tentang Ketenagalistrikan, perlu mendapat persetujuan DPR. Namun, Purwono menambahkan,jika TDL tersebut diputus tidak naik, diperlukan tambahan subsidi listrik sebesar Rp7,3 triliun pada tahun ini.

Anggota Komisi VII DPR Satya W Yudha mengatakan,Komisi VII sedang menunggu kajian independen terkait skenario kenaikan TDL tersebut dari pemerintah. ”Kami masih menunggu hasil kajian mereka kemudian baru akan kami bahas di DPR,”ujarnya. Menurut dia, kenaikan TDL untuk mengurangi subsidi itu memiliki tujuan yang baik. Namun, pemangkasan TDL untuk golongan kecil itu perlu mempertimbangkan banyak faktor yang mempengaruhi, di antaranya daya beli masyarakat dan pencapaian target ekonomi sebesar 6,7%.

”Kalau listrik naik, maka semua juga akan naik. Apakah besaran (10%) itu nantinya realistis dan mencerminkan keinginan masyarakat dan waktunya tepat?” tuturnya.

Karena itu, komisi energi tersebut berharap agar pemerintah menyampaikan kajian itu pada pertemuan pertama dengan DPR, yang diperkirakan pada 18 April mendatang. Hal itu dimaksudkan untuk menghemat waktu dan segera mendapatkan keputusan. Pengamat kelistrikan Fabby Tumiwa menilai kenaikan tersebut sudah wajar dan tidak memberatkan perekonomian karena besarannya relatif kecil.Kendati demikian, dia mengatakan, sesuai UU Kelistrikan, subsidi dan tarif perlu mendapatkan persetujuan DPR. ”Kalau konsisten dengan itu, maka DPR perlu menyepakati rencana tersebut. Menurut saya, kenaikan TDL perlu dilakukan dan APBN menjadi stimulus ekonomi dan bukan hanya untuk subsidi. Namun, ada aturan yang harus dipenuhi untuk mencapai keputusan tersebut,”ujarnya.

Kebutuhan Listrik Sumatera

Di sisi lain, Direktur Operasi Indonesia Bagian Barat PLN,Harry Jaya Pahlawan mengatakan, penanggulangan krisis listrik dalam jangka pendek di wilayah Sumatera memerlukan biaya Rp3,66 triliun per tahun. Menurut dia, kebutuhan biaya tersebut untuk mengatasi kekurangan pasokan dan meningkatkan cadangan operasi sehingga tidak lagi terjadi pemadaman bergilir.

”Melalui sejumlah upaya penanggulangan krisis listrik diharapkan mulai Juni 2010 tidak ada lagi pemadaman bergilir,” ujarnya. Dia mengatakan, kebutuhan biaya tersebut terdiri dari pembelian solar 500.000 kiloliter, sewa pembangkit sebesar 361,5 MW,dan pembelian kelebihan daya pembangkit milik perusahaan lain 75 MW. Adapun kelistrikan di wilayah Sumatera terbagi menjadi tiga sistem, yakni Sumatera bagian utara (Sumbagut), Sumatera bagian tengah (Sumbagteng), dan Sumatera bagian selatan (Sumbagsel). Harry mengatakan, saat ini, daya mampu Sumbagut sama dengan beban puncak yakni 1.233,9 MW.

Sementara sistem Sumbagteng mengalami defisit 98,1 MW yakni daya mampu 632 MW dan beban puncak 730,1 MW, sedangkan Sumbagsel mengalami surplus 162 MW yakni daya mampu 1.074,1 MW dan beban puncak 912,1 MW. Menurut dia, dalam jangka pendek,rencana penambahan pembangkit sistem Sumbagut mencapai 408,5 MW dan jangka menengah dan panjang sebesar 608,7 MW. (j erna/ ant)

http://www.seputar-indonesia.com.

Artikel Terkait
Oct, 27 2018

Jakarta-KONTAN.ID. Realisasi investasi di sektor Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) masih di bawah target. Hingga Triwulan III, investasi yang terealisasi sebesar US$ 1,16

Aug, 19 2015

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pengamat Listrik dan Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai tepat sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) tetap melanjutkan

May, 29 2016

Merdeka.com – PT Pertamina resmi menggandeng Rosneft, perusahaan migas raksasa Rusia, dalam pembangunan kilang minyak Tuban, Jawa Timur. Dalam proyek senilai USD 13 miliar itu,

Dec, 3 2013

Jakarta – Pemerintah menyiapkan alokasi dana bergulir untuk efisiensi energi hingga Rp 500 miliar. Dana tersebut berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2014.

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close