Mandalay : Kota Wisata dalam Gelap

Bagi saya, traveling ke kota lain merupakan suatu pengalaman berharga yang memberikan banyak pelajaran. Bukan hanya dari sisi sosial, namun juga dari segi budaya. Untuk menghargai hal tersebut, saya dan ketiga teman saya yang lain, memiliki ritual untuk pergi ke luar kota, selain untuk menghabiskan waktu bersama-sama, kami juga belajar untuk mengenal budaya dari tempat lain, setiap tahunnya. Tahun ini, kami memutuskan untuk menjelajahi Myanmar.

Kota Wisata dalam Gelap4Bepergian ke Myanmar bukanlah suatu hal yang mudah untuk kami lakukan dibandingkan negara-negara Mekong lainnya. Buku andalan kami, Lonely Planet, bahkan menyatakan bahwa lebih baik tidak bepergian ke Myanmar karena beberapa alasan politis. Apabila tidak dapat menghindar dari bepergian ke Myanmar, setidaknya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan dan perlu dihindari.

Mandalay merupakan salah satu kota wisata Myanmar yang cukup dikenal lantaran Mandalay merupakan ibukota kerajaan Burma yang terakhir. Itu sebabnya, Mandalay sangat dikenal dengan beberapa bangunan-bangunan monastik. Karena nilai sejarah yang dikandungnya, sangat mudah dimengerti apabila Mandalay menjadi salah satu kota wisata di Myanmar. Mandalay juga sangat terkenal dengan U Bein Bridge, dimana banyak orang akan memenuhi kawasan ini untuk menyaksikan matahari terbenam, yang memang sangat indah.

Kota Wisata dalam Gelap2Seperti layaknya negara-negara Mekong Asia Tenggara lain yang pernah kami kunjungi, kami selalu mengincar Pasar Malam, atau Night Market. Night Market adalah tempat dimana begitu banyak hal tersedia di sana; mulai dari makanan yang paling aneh yang bisa kami temui (tapi enak), sampai ke materi-materi buatan tangan yang terkadang membutuhkan waktu kalau tidak berjam-jam, ya berhari-hari, untuk menawarnya (seperti pengalaman kami di Laos). Tentu saja, buku perjalanan sekaliber Lonely Planet, juga merekam informasi ini. Letak, benda, makanan, jenis apa yang akan kami temui di tempat-tempat seperti ini, terekam dengan sangat rinci.

Berbeda dengan negara-negara Asia Tenggara Mekong lainnya, kami mengalami kesulitan untuk menemukan Night Market ini. Karena sepanjang perjalanan kami dari hotel ke Night Market, kami harus mengandalkan penerangan yang diberikan oleh rumah-rumah sekitar. Bahkan ada perempatan yang benar-benar tidak memiliki penerangan sama sekali, sehingga kami harus menyesuaikan dalam gelap. Yang satu ini, tidak disebutkan di dalam buku perjalanan kami, dan membuat kami luar biasa bingung.

Kota Wisata dalam Gelap3Tidakkah Anda kemudian berpikir, kota sekelas Mandalay, yang merupakan salah satu kota wisata di Myanmar, dikenal sebagai ibukota Kerajaan Burma terakhir, mengapa bisa tidak memiliki penerangan di malam hari? Masyarakat Myanmar yang tinggal di Mandalay sepertinya sudah terbiasa hidup dengan cara seperti itu, sementara kami meraba-raba jalan, tidak betah dalam kegelapan, berjalan dalam keheranan, berpikir, jika kota seperti Mandalay saja susah untuk mendapatkan akses pada listrik, bagaimana desa-desa sekeliling Mandalay?

Kami merasakan bagaimana pentingnya penerangan, apalagi di kota yang sangat gelap, sementara kendaraan bermotor berseliweran di mana-mana. Penerangan jalan merupakan salah satu hal yang krusial untuk keselamatan manusia. Bukan hanya terhindar dari bahaya kendaraan bermotor, namun juga terhindar dari bahaya-bahaya sosial seperti kekerasan. Dan hal ini, sudah pernah kami rasakan sendiri dan bukan khayalan.

Catatan tambahan:

Rata-rata rasio elektrifikasi Myanmar adalah 28% di tahun 2012, dengan Yangon 72%, NayPyiTaw 65%, serta Mandalay 35% (http://www.bnionline.net/index.php/news/narinjara/16581-adb-loan-for-improving-burmas-electrification-network.html ). Konsumsi energi per kapita masyarakat Myanmar adalah 97 kg minyak ekivalen di tahun 2007 (http://www.nationsonline.org/oneworld/Country-Stats/Myanmar-statistics.htm) , dengan GDP per kapita US$ 578,3 di tahun 2008.

Share on :

Leave a comment