Produksi Minyak RI Terus Turun, Mobil Listrik Harus Dikebut!

Jakarta, CNBC Indonesia- Pemerintah mematok lifting minyak di angka 750 ribu barel per hari (bph) pada RAPBN 2019. Namun, dalam jangka menengah, lifting minyak diprediksi akan mengalami penurunan.

Dikutip dari Nota Keuangan RAPBN 2019, pemerintah memperkirakan, lifting minyak bumi dalam jangka menengah diperkirakan berada pada kisaran 589-840 ribu bph akibat adanya beberapa hambatan dari sisi eksplorasi dan teknis.

Pengamat energi Fabby Tumiwa mengatakan, untuk lifting minyak memang kecenderungannya mengalami penurunan, apalagi sumur-sumur minyak yang besar sudah berusia tua dan tidak ada temuan cadagan minyak yang besar, ditambah dengan kegiatan eksplorasi yang menurun dalam lima tahun terakhir.

Ia menyebutkan, diperkirakan pada 2020 nanti produksi minyak akan dibawah 700 ribu barel per hari, atau paling tidak sekitar 650-680 ribu bph, dan setelah 2022 akan dibawah 600 ribu bph.

“Jadi dengan begitu ya sudah pasti impor akan meningkat, baik minyak mentah maupun BBM. Sekarang saja sudah meningkat, karena defisit sekitar 700-800 ribu bph,” tutur Fabby kepada CNBC Indonesia saat dihubungi, Selasa (21/8/2018).

Ia menilai, salah satu cara untuk mengantisipasi hal tersebut adalah dengan mempercepat penetrasi kendaraan listrik dan tekan penjualan kendaraan pribadi, pasalnya 80% BBM diserap oleh  transportasi darat.

“Di sisi hulu migas tentunya tingkatkan eksplorasi dan tahan laju pengurasan (depletion rate) sumur-sumur migas melalui penerapan teknologi EOR. Pertamina akan lakukan ini di Rokan, ini suatu hal yang bisa dipelajari, dan Pertamina bisa melakukannya,” pungkas Fabby.

Sebelumnya, untuk mengatasi hal ini, Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto mengatakan, caranya adalah dengan melakukan eksplorasi baru. “Makanya kemarin itu sudah dibuka lelang tiga Wilayah Kerja (WK) eksplorasi baru kan,” ujar Djoko ketika dijumpai pekan lalu.

Selain itu, Pemerintah juga akan berupaya menahan penurunan alamiah (natural declining) dengan upaya teknis antara lain, mempertahankan program kerja utama hulu minyak (pengeboran, kerja ulang dan perawatan sumur), mempertahankan kegiatan eksplorasi (studi, survei, dan pengeboran), dan mendorong komersialisasi teknologi produksi yang tepat guna, misalnya, mengefisienkan kegiatan EOR.

Pemerintah pun akan memperkuat skema kontrak bagi hasil Gross Split dan dukungan insentif fiskal serta dukungan lainnya dalam bentuk regulasi, sebagai upaya untuk menarik dan meningkatkan investasi di sektor migas.

Adapun, pemerintah juga akan mengandalkan gas bumi untuk menjadi kompensasi dalam penurunan produksi minyak jangka menengah, antara lain melalui upaya optimalisasi, pengembangan lapangan baru, intensifikasi, dan ekstensifikasi kegiatan eksplorasi, serta mendorong investasi di sektor gas.

Sebab, dalam jangka menengah, lifting gas bumi relatif stabil dan masih berpotensi untuk ditingkatkan di kisaran 1,19-1,30 juta BOEPD (barel oil equivalent per day atau barel setara minyak per hari).

Beberapa proyek strategis telah disiapkan oleh pemerintah untuk mencapai potensi peningkatkan lifting gas tersebut, yakni proyek Lapangan Jangkrik, Blok Muara Bakau, dan proyek IDD, atau lapangan laut dalam di Selat Makassar yang terdiri atas lima lapangan, yaitu Lapangan Bangka, Gehem, Gendalo, Maha, dan Gadang, serta Lapangan Jambaran Tiung Biru.

Sumber CNBC Indonesia

 

Share on :