Cerahkan rumahmu demi masa depan bumi yang lebih cerah

Dec, 13 2019

Penulis :

Cerahkan Rumahmu demi Masa Depan Bumi yang lebih Cerah

Ditulis oleh Malmal ‘Amalia Juara 2 dalam lomba menulis blog The Ambition Call, yang di laksanakan oleh IESR dan Climate Transparency.

Pengeluaran rumah tangga kian hari kian meningkat. Semua harga kebutuhan yang bertambah membuat setiap orang harus berpikir keras mengolah keuangannya. Sedikit cerita dari kisah keluarga kami mengakali pengeluaran untuk kebutuhan. Desain rumah diperbaiki untuk memanfaatkan energi alam. Penggunaan atap transparan pun menjadi terobosan baru dalam rangka menurunkan penggunaan lampu.

Pemanfaatan sinar matahari langsung masuk ke dalam rumah dapat menjadi sumber utama penerangan saat siang hari. Jumlah sinar matahari yang didapatkan pun ditingkatkan dengan memaksimalkan penggunaan jendela berukuran besar. Penerangan menggunakan listrik menjadi tidak diperlukan lagi di siang hari.  sudah lebih dari 15 tahun kami memanfaatkan sumber cahaya ini. Dengan semakin meningkatnya tarif listrik dan semakin banyaknya kebutuhan rumah tangga, alih-alih hanya memadamkan lampu, keluarga pun memutuskan untuk tidak menggunakan listrik selama 1 hingga 2 jam pada rentang pukul 9 pagi hingga 12 siang. Selama 1 hingga 2 jam tersebut, rumah kami menjadi bangunan dengan zero energy.  Semacam earth hour yang dilakukan setiap hari.

Apakah tidak merasa gerah?

Pertanyaan yang paling sederhana ini pun mencuat. Jawabannya tentu tidak karena ada air conditioner alami. Jendela rumah yang besar disertai ventilasi udara yang mumpuni membuat aliran udara selalu masuk ke dalam rumah. Rumah kami juga dikelilingi pagar hijau yaitu pagar dari tanaman sehingga lebih teduh, salah satu bentuk nyata brown to green.

Tidak kami sangka ternyata langkah ini merupakan salah satu penerapan pemanfaatan sumber energi terbarukan, dalam hal ini sinar matahari. Awalnya hanya ide untuk menekan pengeluaran justru berujung baik untuk lingkungan. Yuk, kita kenalan dengan energi terbarukan!

Apa itu sumber energi terbarukan?

Sumber energi terbarukan berdasarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 53 Tahun 2018 adalah sumber energi yang dihasilkan dari sumber energi berkelanjutan jika dikelola dengan baik antara lain panas bumi, angin, bioenergi, sinar matahari, aliran dan terjunan air, serta gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut.

Lantas, apa bedanya dengan sumber energi yang selama ini kita gunakan?

Begini. Begini. Semua kegiatan sehari-hari kita yang menggunakan energi seperti alat-alat elektronik, penggunaan gas elpiji, bahan bakar kendaraan, semuanya bersumber pada energi fosil yaitu minyak bumi, batu bara, dan gas alam. Poin pentingnya adalah sumber energi ini jumlahnya terbatas dan berdampak buruk terhdap lingkungan. Pembakaran energi fosil menghasilkan emisi gas rumah kaca seperti karbondioksida yang bersifat merusak lingkungan dan atmosfer. Suhu global pun turut meningkat drastis karena ini sehingga menyebabkan terjadinya pemanasan global. Nah, terkuak sudah tabir pengetahuan penyebab suhu bumi kian hari kian meningkat.

Cerminan Energi Terbarukan di Indonesia

Indonesia sebagai negara tropis yang dilewati garis khatulistiwa, diberkahi dengan waktu penyinaran matahari yang cukup lama per harinya. Data dari global solar atlas menunjukkan bahwa energi surya yang didapatkan di seluruh wilayah Indonesia berkisar antara 3,6-6 kWh per meter kuadrat dengan rata-rata keseluruhan 4,8 kWh per meter kuadrat. Wilayah Indonesia tengah seperti Kepulauan Nusa Tenggara dan Sulawesi serta sebagian Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi daerah dengan energi surya terbanyak. Sayang sekali jika anugerah ini tidak dimanfaatkan, bukan?

Pada kenyataannya, anugerah kekayaan ini belum mendapatkan perhatian yang serius di negara kita. Hal tersebut terlihat sejak 4 tahun terakhir dimana kapasitas pembangkit listrik yang bersumber dari energi terbarukan masih jauh dari angka yang memuaskan, yaitu hanya bertambah 960 MW. Energi terbarukan yang menjadi penyumbang terbanyak secara berurutan yaitu energi tenaga panas bumi, diikuti oleh energi mini/mikro hidro, bionergi, dan bayu atau angin. Bahkan energi surya belum dimanfaatkan selayaknya. Jumlah ini menurun dari 4 tahun sebelumnya. Pada tahun 2010-2014, setiap tahunnya kapasitas pembangkit energi terbarukan rata-rata bertambah 523 MW (0,52 GW). Target yang dicanangkan pada tahun 2025 yaitu sebesar 45 GW sepertinya semakin suram karena pembangunan pembangkit energi terbarukan kian melambat.

Pemanfaatan Sinar Matahari Sebagai Sumber Penerangan Utama

Memaksimalkan penggunaan cahaya matahari sebagai sumber penerangan merupakan upaya pemanfaatan sumber daya terbarukan ini. Kini sudah semakin trend desain rumah dengan tema dekat dengan alam. Penggunaan atap transparan dan jendela yang besar (seperti yang penulis ceritakan tentang rumahnya) dalam dunia arsitektur pun dikenal dengan istilah skylight.

Wah mahal dong perlu ganti ini itu?

Semampunya saja. Ini bisa dianggap sebagai investasi. Memang perlu keluar dana di awal namun setelahnya terasa lebih hemat saat membayar listrik karena sudah menekan penggunaan energi listrik setiap harinya.

Kenapa terlalu sibuk memanfaatkan sinar matahari? Jadi untuk apa dulu Bapak Thomas Alva Edison menciptakan lampu sebagai alat penerangan?

Perlu kita ketahui, bahkan Tuan Edison sendiri sudah menyadari pentingnya tenaga surya dalam bauran energi masa depan dunia dan bahaya ketergantungan yang berlebihan pada bahan bakar fosil sejak masa hidupnya jauh sebelum pemanfaatan energi fosil besar-besaran seperti sekarang.

“Kita seperti petani penyewa yang memotong pagar di sekitar rumah untuk bahan bakar ketika kami seharusnya menggunakan sumber energi alami yang tidak habis-habisnya – matahari, angin dan pasang surut air laut. Saya akan menaruh uang saya pada cahaya matahari dan energi matahari. Sungguh sumber kekuatan yang luar biasa! Saya harap kita tidak perlu menunggu sampai minyak dan batubara habis sebelum kita mengatasinya. “.  Thomas Alva Edison -1931.

Penemu lampu saja sudah mewanti-wanti kita untuk lebih setia terhadap sumber energi alami seperti sinar matahari ketimbang menggunakan temuannya.

Sinar Matahari sebagai Energi Solar Penghasil Listrik

Selain memanfaatkan sinar matahari untuk penerangan, sinar matahari dapat diubah menjadi energi listrik melalui penggunaan panel surya. Panel surya ini dapat dipasang di tempat yang mendapatkan banyak cahaya matahari seperti di atap atau yang dikenal dengan nama surya atap (rooftop solar). Pemanfaatan energi surya dengan acara ini masih memiliki banyak kekurangan yang dibahas dalam laporan IESR dan kami rangkum dalam dua poin utama, yaitu:

1. Rooftop solar masih menjadi istilah asing yang kurang terdengar gaungnya. Kurangnya sosialiasi mengenai manfaat energi surya sebagai energi terbarukan menyebabkan minimnya pengetahuan dan minat masyarakat menggunakan panel surya di rumahnya.

2. Pemasangan panel surya yang membutuhkan tenaga profesional dan dana yang tidak sedikit sertaeterbatasan penyedia instalasi dan layanan yang kredibel.Solusi yang saya ajukan dari kedua poin utama di atas yaitu:

Selagi menunggu tindak lanjut dari yang berwenang, kita sebagai masyarakat tidak perlu menunggu dalam diam. Sekarang sudah banyak ditemui powerbank yang dilengkapi dengan panel surya seperti yang dipamerkan dalam Buletin Energi Kita milik IESR Juli lalu. Powerbank akan terisi ketika terpapar sinar matahari. Biasanya alat ini dilengkapi dengan penggantung sehingga saat beraktivitas di luar ruangan, cukup gantungkan saja di luar tas maka powerbank ini akan mengisi energinya. Ini salah satu bentuk penggunaan panel surya sebagai sumber energi dalam skala kecil  namun langsung dapat dirasakan manfaatnya.

Kesimpulan

Semakin hari dampak pemanasan global semakin terasa. Hal ini tidak lepas dari campur tangan manusia melalui kegiatannya yang menggunakan energi tidak terbarukan yaitu energi berbahan dasar fosil. Manusia sebagai penduduk bumi harus bersama-sama memikirkan masa depan bumi demi anak cucunya kelak melalui Climate Action, aksi terhadap perubahan iklim. Pemanfaatan energi terbarukan mulai digalakkan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Energi yang berasal dari sinar matahari adalah satunya. Pengetahuan cara pemanfaatan energi solar melalui panel surya ini masih begitu minim. Padahal energi solar ini sangat kaya bila dapat diubah menjadi energi listrik. Kurangnya sosialisasi dan sedikitnya fasilitas pemasangan menjadi kendala utama. Sebuah kenyataan yang begitu disayangkan mengingat negara kita merupakan negara tropis yang berarti mendapat sinaran cahaya matahari cukup lama per harinya. Sinar matahari juga dapat dimaksimalkan masyarakat dengan mengubah huniannya. Penggunaan skylight rooftop dan penempatan jendela berukuran besar dapat menekan energi listrik yang digunakan untuk penerangan. Gaya ramah lingkungan ini juga menghemat pengeluaran rumah tangga. Dengan begini, masyarakat yang belum tersentuh dengan penggunaan panel surya juga dapat berperan aktif menyelamatkan bumi dan menjadikan bumi kembali hijau, brown to green.

Artikel asli


Follow Amalia di Twitter dan Instagram @yoayokka

Referensi
– IESR. Buletin Energi Kita. Juli 2019.
– IESR. Energi Surya untuk Kota: Analisa Potensi Pasar dan Rekomendasi untuk Akselerasi Pengembangan Rooftop Solar di Dua Kota Metropolitan di Indonesia. Juli 2019.
– IESR(Blog). Refleksi Perkembangan Energi Terbarukan Indonesia di 2015-2018 dan Prospeknya di 2019. Januari 2019.
– Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 53 Tahun 2018- globalsolaratlas.info
– Pengaturan Penghawaan dan Pencahayaan Pada Bangunan dalam http://arsitekturdanlingkungan.wg.ugm.ac.id. 2015.
– Thomas Edison- Solar Power Visionary dalam energymatter.com. 2010.

Ruang Muda terkait

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close