Kabel Listrik Bawah Laut Jawa Bali Beroperasi Akhir 2012

Sep, 6 2012

Penulis :

BY IGNASIUS LAYA & NURSEFFI DWI WAHYUNI

JAKARTA (IFT) – PT PLN (Persero), badan usaha milik negara di sektor ketenagalistrikan, menyatakan proyek kabel listrik bawah laut Jawa Bali senilai Rp 450 miliar yang dikerjakan Sumitomo Corp, perusahaan asal Jepang, akan beroperasi pada akhir tahun ini. Nasri Sebayang, Direktur Konstruksi PLN, menyatakan pengoperasian kabel listrik tersebut akan menambah pasokan listrik Bali sebesar 240 megawatt.

“Saat ini kontruksinya sudah mencapai 80%. Kalau tidak November, paling lambat Desember selesai,” kata Nasri.

Selain membangun kabel bawah laut, PLN tengah mengembangkan kabel listrik atas laut (overhead crossing) yang menghubungkan Jawa dan Bali senilai US$ 240 juta. Kabel ini akan membawa listrik sampai 1.800 megawatt ke Bali.

Kabel berdaya 500 kilovolt tegangan tinggi arus bolak balik (high voltage alternating current/HVAC) itu akan menghubungkan jalur Paiton-Banyuwangi-Gilimanuk-New Kapal. Pembangunan kabel bawah laut yang diperkirakan tuntas pada 2015 itu dilakukan dalam dua tahap.

Tahap pertama, perseroan akan membangun dua menara setinggi 376 meter yang masing-masing berada di Jawa dan Bali. Tahap berikutnya, PLN mengoperasikan transmisi 150 kilovolt yang sudah ada dan bisa masuk ke gardu induk Gilimanuk. “Kontruksinya dimulai September ini,” ungkapnya.

Bagyo Riawan, Direktur Pengadaan Strategis dan Energi Primer PLN, menyatakan saat ini pihaknya masih menunggu izin dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan untuk melakukan penggelaran kabel bawah laut tersebut. “Kabel dan kapal untuk gelar kabel sudah siap dan saat ini parkir di Singapura,” jelas dia.

Mutakhsor, anggota Dewan Energi Nasional, mengatakan pembangunan kabel listrik bawah laut dan atas laut Jawa-Bali hanyalah solusi jangka pendek namun tidak akan menciptakan jaminan pasokan yang berkelanjutan. Menurut dia, kebutuhan listrik di Jawa akan terus meningkat seiring dengan pertumbugan jumlah penduduk dan industri di wilayah. Dengan memasok listrik ke Bali, sistem Jawa akan semakin dibebani. Untuk itu, PLN seharusnya membangun pembangkit listrik di Bali.

“Proyek pembangkit panas bumi juga harus serius dipikirkan oleh PLN dan pemerintah daerah di Bali karena tidak bijak jika hanya mau menerima energi dari tempat lain tetapi menolak untuk mendirikan pembangkit di tempatnya sendiri,” ujar Mutakhsor.

Tri Mumpuni, pengamat kelistrikan dari Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan, menyatakan seharusnya PLN meningkatkan kapasitas pembangkit di Bali daripada membangun kabel listrik antarpulau. Dengan menambah pembangkit di sana, Bali tidak perlu bergantung pada pasokan listrik dari Jawa. PLN diminta untuk mengoptimalkan sumber energi alternatif di Bali untuk memenuhi kebutuhan listrik di wilayah tersebut.

“Perseroan harus memiliki langkah antisipasi jika sewaktu-waktu ada gangguan di kabel itu. Bali itu salah satu sumber devisa negara, kalau listrik mati akan sangat mengganggu aktivitas di sana,” jelasnya.

Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), mengatakan pembangunan kabel bawah dan atas laut Jawa Bali membuat pasokan listrik Bali lebih terjamin. Apalagi beban puncak listrik di Bali dalam 10 tahun mendatang bisa mencapai 1.000 megawatt.

Pembangunan kabel listrik merupakan opsi yang paling ekonomis dan handal untuk memperkuat pasokan listrik di Bali karena pembangunan pembangkit di Bali masih terkendala ketersediaan lahan. “Rencana bangun pembangkit listrik tenaga uap di Celukan Bawang saja sudah dua tahun belum dapat direalisasikan,” ungkapnya.

Namun, dia juga menyarankan agar PLN tetap membangun pembangkit di Bali, khususnya saat beban menengah dan puncak untuk mengurangi resiko gagal pasok dari interkoneksi Jawa Bali. (*)

Sumber: Indonesia Finance Today.

Artikel Terkait
May, 27 2012

JAKARTA: Sebanyak 23 perusahaan industri ekstraktif di Indonesia dinilai masih tertutup soal pendapatan maupun pembayaran pajak dalam kerangka Extractive Industries Transparancy Initiative (EITI) padahal tenggat

Aug, 10 2010

JAKARTA – Indonesia sesungguhnya memiliki beragam jenis potensi sumber daya terbarukan. Sayangnya, berbagai potensi yang kita miliki belum dikembangkan secara optimal. Lalu, jenis energi terbarukan

Sep, 25 2015

Masa puncak produksi Blok Cepu yang tadinya mencapai 3-5 tahun, akan berkurang menjadi hanya 1,5-2 tahun. KATADATA – Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu, Jawa Timur saat ini menjadi

Aug, 6 2016

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memotong anggaran belanjanya sebesar Rp 900 miliar dikhawatirkan akan menganggu iklim investasi, khususnya

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close
Support Online
 
Chat
 
Support Online
+