Neraca Gas RI Dinilai Belum Konkret dan Minim Antisipasi

Oct, 2 2018

Penulis :

Jakarta, CNBC Indonesia- Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru saja meluncurkan Neraca Gas Bumi Indonesia (NGI) 2018-2027, yang dapat menjadi acuan bagi pengambilan kebijakan, baik Pemerintah Pusat, Daerah, masyarakat juga badan usaha.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menjelaskan, berbeda dengan neraca gas sebelumnya, kali ini pihaknya membagi neraca gas bumi Indonesia menjadi enam region dengan tiga skenario, dan dengan perhitungan yang cermat dan data yang akurat dengan memperhitungkan supply dan demand serta dinamika yang menyertainya.

Berikut tiga skenario neraca gas yang diluncurkan

Pengamat energi Fabby Tumiwa menyambut baik hal tersebut, akan tetapi, menurutnya, masih ada hal-hal yang harus diperhatikan oleh pemerintah.

Ia menjelaskan, hal pertama yang harus diperhatikan yakni, bagaimana sebenarnya skenario yang paling masum akal dari tiga skenario untuk Indonesia. Ia menilai, tiga skenario itu dibangun dengan basis parameter-parameter yang ditetapkan oleh Kementerian ESDM.

“Tapi skenario bisa saja berbeda dengan kondisi yang plausible (masuk akal),” ujar Fabby saat dihubungi Selasa (2/10).
Lebih lanjut, hal kedua yang harus diperhatikan yakni, bagaimana respon pemerintah untuk menghadapi skenario-skenario tersebut. Ia menilai hal ini tidak terlalu jelas digambarkan oleh pemerintah.

“Skenario memberikan gambaran tapi apa yang akan dilakukan pemerintah, khususnya Kementerian ESDM untuk merespon skenario terburuk?” Katanya.

Adapun, jika dilihat dari sisi investasi, ia juga berpendapat, neraca gas ini belum memberikan gambaran yang konkrit. Menurutnya, neraca gas ini lebih berguna bagi pemerintah untuk membuat kebijakan dalam mengelola demand-supply gas nasional. “Ada potensi kenaikan permintaan gas di masa depan dan pemerintah justru perlu menyampaikan apa yang akan dilakukan,” tambah Fabby.

“Apa yang akan dilakukan pemerintah untuk mengatasi potensi defisit gas tersebut saya rasa merupakan faktor yang lebih menarik bagi investor untuk menilai apakah ada peluang berinvestasi,” ucap Fabby.

Kendati demikian, ia mengapresiasi upaya pemerintah untuk memperbaiki neraca gas dengan skema baru ini. Ia berpendapat, dengan pendekatan baru untuk mengembangkan sejumlah skenario supply dan demand, berbasis wilayah merupakan pendekatan baru yang cukup menarik.

“Menurut saya ini bisa membantu pemerintah merumuskan rencana aksi berbasis wilayah. Kedua, pendekatan dalam neraca gas ini sepertinya lebih akurat,” pungkasnya.

Sumber CNBC Indonesia

Artikel Terkait
Jul, 7 2017

Jakarta, Hijauku. Emisi dari deforestasi Indonesia tertinggi di antara negara-negara G20. Hal ini terungkap dari laporan The Brown to Green Report 2017 yang diluncurkan oleh Climate Transparency, Selasa

Jan, 30 2018

Download WordPress ThemesDownload WordPress Themes FreeDownload Best WordPress Themes Free DownloadDownload Best WordPress Themes Free Downloadudemy paid course free downloaddownload lava firmwareDownload WordPress Themes

Dec, 19 2018

Jakarta, CNBC Indonesia- Dalam kajian Institute for Essential Services Reform (IESR), yang bertajuk Indonesia Clean Energy Outlook: Reviewing 2018, Outlooking 2019 ini memperkirakan prospek energi

May, 7 2010

Jumat, 7 Mei 2010 | 04:11 WIB Jakarta, Kompas – Pemerintah telah selesai merumuskan sejumlah opsi kenaikan tarif dasar listrik atau TDL. Dalam beberapa opsi

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close
Support Online
 
Chat
 
Support Online
+