Pulau Sumba Punya Potensi Energi Angin, Tapi PLN Malah Pakai BBM

Nov, 4 2017

Penulis :

Harga listrik dari energi terbarukan yang relatif tinggi dibandingkan energi fosil dinilai membebani keuangan PLN karena membuat biaya operasi BUMN kelistrikan itu kurang efisien.

Tapi menurut Direktur Eksekutif Institute for Essensial Service Reform (IESR), Fabby Tumiwa, bukan energi terbarukan yang membuat kinerja keuangan PLN kurang mengkilap. Ada masalah lain.

Sebagai contoh, Fabby menuturkan PLN membangun pembangkit listrik tenaga mesin gas (PLTMG) berkapasitas 10 Megawatt (MW) di Pulau Sumba. Padahal, daerah tersebut memiliki potensi energi angin yang besar sekali.

Angin di lokasi yang sama bisa menghasilkan listrik lebih dari 10 MW. Tapi PLN malah memakai PLTMG yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Dibanding PLTMG, sebenarnya pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) lebih efisien untuk Sumba.

“Penyebab beban keuangan PLN tinggi bukan energi terbarukan, ada masalah lain. Di Sumba yang dibangun PLTMG 10 MW. Padahal itu adalah lokasi yang sangat bagus untuk PLTB. Di sana bisa dibangun PLTB sampai 20 MW,” papar Fabby saat ditemui di Kantor Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Jakarta, Jumat (3/11).

Bukan hanya di Sumba saja, PLN kerap ‘bakar solar’ untuk menerangi pelosok-pelosok Maluku, Papua, Nusa Tenggara Timur, dan sebagainya. Padahal memanfaatkan potensi energi terbarukan setempat lebih efisien.

Kapal Marine Vessel Power Plant (MVPP) yang disewa PLN dari Turki untuk menerangi Sumatera Utara, Ambon, Lombok juga tak efisien karena masih memakai BBM. Harga listriknya mencapai Rp 2.200/kWh.

“Dalam upaya meningkatkan rasio elektrifikasi di Papua, Maluku, NTT, NTB, dan sebagainya pakai PLTMG dan sewa kapal Turki yang pakai BBM. Itu jauh lebih tinggi harganya dibanding energi terbarukan setempat. Kapal Turki itu listriknya bisa Rp 2.200/kWh,” tuturnya.

Fabby mengkritik sikap PLN yang menjadikan harga sebagai alasan untuk tidak terlalu banyak menggunakan energi terbarukan, tapi di sisi lain malah memakai bahan bakar fosil yang harganya lebih mahal.

Sumber: https://kumparan.com/michael-agustinus/pulau-sumba-punya-potensi-energi-angin-tapi-pln-malah-pakai-bbm#K5VlyQL1z4MPvzOw.99

Artikel Terkait
Oct, 29 2012

BOGOR – Pengamat kelistrikan, Fabby Tumiwa menilai rencana kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) tahun 2013 yang disepakati sebesar 15 persen sebagai hal yang tidak rasional. Hal

Jul, 5 2018

Jakarta-Sindonews.com – Institute for Essential Service Reform (IESR)menyambut baik peresmian kebun angin pertama di Indonesia, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap 75 MW dan PLTB

Feb, 27 2017

Menurut saya, Permen ESDM 10/2017 dan Permen 11/2017 relatif cukup positif bagi iklim investasi di Indonesia. Namun tidak demikian dengan Permen 12/2017. Permen ESDM 10/2017

Oct, 21 2014

Rudyard Kipling said only mad dogs and Englishmen go out in the midday sun, but Hemant Chanrai has other ideas. As the 27-year-old Indian entrepreneur

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close