Teknologi Mengantisipasi Perubahan Iklim

Jan, 16 2009

Penulis :

Eri Kartiadi – Indonesia belum juga memiliki kajian kebutuhan teknologi untuk program adaptasi dan mitigasi. Tanpa kajian tersebut, sulit menentukan orientasi teknologi yang tepat bagi Indonesia, untuk menunjang upaya antisipasi perubahan iklim.

Hal tersebut disampaikan oleh Fabby Tumiwa dari Institute for Essentials Services Reform (IESR), saat berdiskusi dengan Green Radio.

GR (Green Radio): Apa pentingnya alih teknologi dalam antisipasi perubahan iklim?

FT (Fabby Tumiwa): Hampir 80% total emisi rumah kaca berasal dari bahan bakar fosil, yaitu minyak, batubara dan gas bumi. Teknologi yang ramah lingkungan dapat menurunkan emisi tersebut. Itulah yang dibutuhkan Indonesia untuk mengatasi perubahan iklim.

Negara berkembang umumnya memakai teknologi lama, yang boros bahan bakar dan menghasilkan emisi besar. Karenanya, dibutuhkan teknologi baru yang lebih efisien dalam pemakaian sumber daya.

GR: Indonesia sudah mengkaji teknologi yang dibutuhkan?

FT: Indonesia punya dokumen ”List Greenhouse Gas Technology” yang disampaikan ke Badan dunia United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) tahun 2001. Dokumen tersebut memuat kebutuhan negara berkembang yang disodorkan ke negara maju, sebagai wujud kerjasama penanganan perubahan iklim. Sayangnya, dokumen itu belum memberikan secara rinci kebutuhan teknologi apa yang dibutuhkan Indonesia.

Sebelum pertemuan Bali akhir tahun 2007 ada kelompok kerja yang mengkaji dan menyusun kebutuhan transfer teknologi bagi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Kelompok ini diinisiasi oleh KLH dan BPPT.

Setelah disempurnakan, dokumen itu dijadikan daftar kebutuhan teknologi bagi Indonesia, dalam mengatasi sektor-sektor berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca. Yaitu, sektor pembangkit energi, transportasi, industri, kelautan, kehutanan dan pertanian. Namun hingga kini, dokumen itu masih selalu diperbarui dan belum final.

GR: Apa kegunaan dokumen tersebut?

FT: Jika ada dokumen itu maka Indonesia dapat menentukan prioritas teknologi yang dibutuhkannya. Dalam perundingan-perundingan internasional yang membahas adaptasi dan mitigasi, Indonesia bisa meminta bantuan teknologi yang tepat sesuai kebutuhan, termasuk pengembangan sektornya.

Misalnya listrik, jenis pembangkit apa yang dibutuhkan. Pengolahan batu bara seperti apa yang tepat sebagai bahan bakarnya. Karena batu bara itu ada ranking teknologinya, mulai dari efisien hingga boros.

Last Updated ( Wednesday, 28 January 2009 10:11 )

http://www.greenradio.fm.

Artikel Terkait
May, 8 2012

JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah tidak tegas dalam melakukan program penghematan energi nasional. Bahkan berbagai sektor yang mengalami pemborosan energi tidak pernah mendapat disinsentif. Karena itu,

Apr, 3 2018

JAKARTA, KOMPAS–Pengembangan kendaraan listrik kian mendesak di tengah situasi harga minyak yang terus menanjak. Sampai sekarang, rencana penerbitan peraturan presiden mengenai pemanfaatan tenaga listrik untuk

Apr, 5 2019

Akses Energi yang Berkelanjutan bagi Masyarakat Desa

Feb, 7 2017

JAKARTA – Pemerintah diminta memperbaiki beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri (Permen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 12 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close