Menyingkap Tantangan Pasar Energi Bersih di Asia Tenggara

Jakarta, 21 Juni 2023 – Asia Tenggara memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, namun pemanfaatannya belum dimaksimalkan. Dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat, kawasan Asia Tenggara bergantung terhadap penggunaan energi yang tinggi untuk mendukung aktivitas perekonomian. Untuk itu, energi terbarukan memiliki peran strategis bagi perkembangan ekonomi kawasan yang lebih rendah emisi dan biaya. 

Marlistya Citraningrum, Manajer Program Akses Energi Berkelanjutan, IESR memaparkan,  bahwa investasi yang diperlukan untuk transisi energi di ASEAN dalam jangka pendek sampai 2030 mencapai USD 987 miliar untuk skenario net-zero 2050, mengutip analisis IRENA yang dilakukan di tahun 2022. Dari angka tersebut, 40%-nya diperlukan untuk pembangkitan listrik, terutama peningkatan penetrasi energi terbarukan.

“Untuk mempercepat transisi energi dan investasi energi terbarukan di Asia Tenggara, diperlukan upaya-upaya yang lebih terkonsolidasi, misalnya mendorong pasar untuk pembiayaan berkelanjutan regional dengan taksonomi hijau ASEAN, menyediakan fasilitas manajemen risiko pengembangan proyek energi terbarukan, hingga adanya sinergi kebijakan dan peraturan yang memungkinkan tumbuhnya skema-skema pembiayaan inovatif,” ungkap Citra dalam webinar bertajuk “Unlocking Renewable Energy Investment in Southeast Asia”.

Adam Adiwinata, Konsultan International Renewable Energy Agency (IRENA) menyatakan dengan mengakselerasi transisi energi, pada tahun 2030, 26% dari total energi di Asia Tenggara akan terpenuhi oleh energi terbarukan, dari hanya 14% tahun ini, dan ⅔ dari total energi pada tahun 2050 yang akan mengurangi 75% emisi karbon.

“Beberapa kesempatan investasi yang dapat dipertimbangkan antara lain investasi pada sektor pembangkitan energi, elektrifikasi dan efisiensi energi, serta grid and flexibility. Total investasi yang bisa dibutuhkan mencapai USD 822 miliar,” ungkap Adam.

Sonal Agarwal, konsultan Ernst and Young, memaparkan beberapa tantangan yang harus dijawab dalam membuka pasar bagi energi terbarukan di Asia Tenggara, diantaranya pentingnya ambisi nasional tiap negara, kebijakan yang kuat dan bisa beradaptasi dan memperbanyak proyek-proyek energi terbarukan untuk menarik investor.

“Pasar di Asia  masih didominasi oleh pembeli tunggal, sehingga untuk membuka peluang investasi bagi pasar energi bersih di Asia Tenggara, pilihan untuk berinvestasi pada proyek energi terbarukan juga harus diberikan kepada perusahaan melalui Perjanjian Pembelian Tenaga Listrik/PPA. Melalui PPA, perusahaan dapat menjadi investor bagi proyek-proyek energi terbarukan, terutama dalam mencapai ambisinya dalam menggunakan energi bersih dalam proses bisnisnya,” ujar Sonal.

Dari segi pendanaan, Lawrence Ang dari Climate Smart Venture mengungkapkan bahwa pendanaan alternatif sangat diperlukan untuk membuka peluang investasi. Beberapa pilihan pendanaan alternatif antara lain, green bonds, transition bonds, sustainable linked bonds, sustainable linked loans, dan lain sebagainya.

“Meskipun telah ada beberapa pilihan pendanaan alternatif, jumlah proyek hijau masih terbatas.  Proyek-proyek energi terbarukan harus tersedia terlebih dahulu, langkah selanjutnya adalah memilih pendanaan yang tepat, ” ujar Lawrence.

Sebagai salah satu contoh program energi terbarukan yang telah berhasil dilakukan, Jihan A. As-Sya’bani dari Yayasan Rumah Energi berbagi pengalamannya dalam menjalankan proyek dalam skala nasional. Jihan mengaku, pihaknya memberikan stimulasi kepada masyarakat dan komunitas lokal untuk bisa mengakses biogas domestik melalui pendekatan pasar dan ekonomi sirkuler. 

“Dalam proses tersebut, Yayasan Rumah Energi juga mengalami beberapa tantangan dimana harga teknologi energi terbarukan mahal, kurangnya dukungan dari segi kebijakan, awareness yang masih sedikit dari institusi keuangan mikro, dan pendapatan petani yang bergantung pada musim panen. Meski demikian, di balik tantangan tersebut, terdapat keuntungan dari proyek energi terbarukan yakni  lebih menarik permintaan pasar, institusi keuangan mikro lebih kooperatif, dan meningkatnya tren global bagi pendanaan hijau,” terang Jihan.