Mendorong Pemanfaatan Energi Terbarukan di Tengah Dominasi Fosil

Jakarta, 16 Februari 2026 – Bauran energi Indonesia hingga hari ini masih didominasi bahan bakar fosil. Sekitar 85 persen energi primer nasional berasal dari sumber fosil, dengan batu bara menyumbang lebih dari 65 persen pembangkitan listrik dan digunakan secara luas di sektor industri. Hal ini dikatakan  Direktur Program Transformasi Sistem Energi, Institute for Essential Services Reform (IESR), Deon Arinaldo dalam webinar bertajuk “Pertukaran Pengalaman dalam Transisi ke Energi Terbarukan di Sektor Listrik” yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Brazil di Jakarta pada Kamis (12/6). 

“Ketergantungan ini bukan hanya berdampak pada tingginya emisi karbon, tetapi juga ketika terjadi konflik atau ketegangan antarnegara, pasokan dan harga energi dapat terganggu, yang pada akhirnya berdampak pada stabilitas ekonomi nasional. Di lain sisi, studi IESR menunjukkan bahwa jalur menuju sistem energi rendah karbon yang selaras dengan target pembatasan suhu 1,5°C secara teknis dan ekonomi dapat diwujudkan,” tegas Deon. 

Deon menyatakan, menuju tahun 2045, Indonesia berpotensi mencapai sistem energi nol emisi berbasis 100 persen energi terbarukan. Sekitar 1.500 GW kapasitas tenaga surya, baik skala utilitas maupun terdistribusi, dapat dikembangkan. Energi angin, air, dan panas bumi juga dapat dimanfaatkan mendekati potensi maksimalnya. Untuk menjaga keandalan sistem, kapasitas penyimpanan energi diproyeksikan meningkat signifikan hingga sekitar 300 GW pada 2050.

“Secara ekonomi, peluang ini juga menarik. Dengan mekanisme harga yang berlaku saat ini, terdapat sekitar 333 GW potensi surya, angin, dan mini hidro yang layak secara finansial mengutip studi IESR. Potensi tersebut tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan sebagian berada dekat dengan jaringan transmisi serta gardu induk PLN, sehingga relatif siap untuk dikembangkan,” papar Deon. 

Menurut Deon, pemanfaatan energi terbarukan dapat meningkatkan daya saing industri, menarik investasi energi bersih, serta menciptakan lapangan kerja hijau yang berkualitas. Dengan kebijakan yang konsisten dan implementasi yang terencana, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan transisi energi sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Share on :