Skip to content

Desakan untuk Meningkatkan Literasi Perubahan Iklim

jejak langkah

Author :

Authors

Menelaah Buku Jejak dan Langkah Energi Terbarukan di Indonesia

Jakarta, 16 Desember 2021 – Perjanjian Paris tahun 2015 menyampaikan bahwa dunia telah berkomitmen untuk melakukan mitigasi dan upaya pencegahan lain untuk memastikan kenaikan suhu global tidak mencapai 2° celcius. Sebagai salah satu langkah kongkrit yang dilakukan oleh berbagai negara adalah dengan melakukan transisi energi, yang semula menggunakan energi fosil menjadi energi terbarukan. Namun, bukan tanpa tantangan – khususnya di Indonesia yang sistem ketenagalistrikannya terpusat dan diatur negara, perubahan sumber energi terkait dengan banyak hal didalamnya, misal investasi dan pembangunan infrastruktur pembangkit listrik yang sesuai.

Hal ini menjadi banyak catatan penting bagi banyak pihak. Bagaimana upaya transisi energi khususnya di Indonesia menjadi hal yang sangat sulit dilakukan. Namun pada kesempatan diskusi bedah buku yang berjudul “Jejak dan Langkah Energi Terbarukan di Indonesia”, sebagai rangkaian program dari proyek Clean, Affordable, and Secure Energy for Southeast Asia (CASE) – Aris Prasetiyo, Penulis utama buku ini menyampaikan bahwa dalam proses mempersiapkan buku ini, banyak ditemui praktik-praktik ramah-iklim dan pemanfaatan energi terbarukan pada tingkat akar rumput, tanpa memerlukan permodalan besar dan aturan kebijakan tertentu.

Aris lewat buku ini menceritakan bahwa sebagai contoh, di Hutan Akitajawe Halmahera –  adanya sebuah kearifan lokal yang berdampak pada upaya mitigasi iklim. Laki-laki yang hendak menikah, serta kelahiran anak laki-laki pada suku Tobelo Dalam, diwajibkan untuk menanam sepuluh (10) pohon. Hal ini mereka yakini sebagai bentuk pengembalian kepada alam sebagai sumber mata pencaharian mereka. Pada kesempatan diskusi bedah buku ini, Aris menyampaikan bahwa yang dilakukan suku Tobelo Dalam ini merupakan sebuah kerangka sosial yang patut dicontoh untuk meningkatkan literasi atas perubahan iklim di Indonesia.

Pada kesempatan ini juga, Meidella Syahni, Peneliti Mongabay yang bertugas sebagai moderator menyampaikan juga pentingnya literasi atas isu perubahan iklim yang perlu lebih di suarakan lagi di Indonesia. “Menjadi PR untuk masyarakat modern, bagaimana literasi perubahan iklim sepertinya perlu untuk diperhatikan lagi pada berbagai lapisan pemangku kepentingan. Misalnya pada Pemerintah Indonesia dan DPR yang cukup cepat meratifikasi aturan-aturan dan kebijakan yang terkait namun secara riil, dampak dan hasil dari kebijakan tersebut belum terasa nyata untuk iklim global.”

Julius Adiatma, Peneliti dan Penulis Utama Laporan Indonesia Energy Transition Outlook 2022, IESR yang juga ikut berdiskusi pada kegiatan bedah buku ini menyampaikan bahwa adanya perkembangan positif terkait isu perubahan iklim dan energi transisi yang sudah menjadi trend sebagai poin bahasan. “Kita lihat bahwa pemerintah sampai dengan 2021 ini memiliki banyak agenda dan rencana. Contohnya adanya pledge untuk berhenti membangun PLTU dan phase-out batubara, kemudian target net-zero 2070. Kita lihat sebelumnya bahwa banyak juga komitmen pemerintah yang paling tidak sudah dijadikan kebijakan walaupun belum dikerjakan juga.” ujar Julius pada diskusi tersebut.

Tidak berhenti disitu, diskusi berlanjut terkait akses pembiayaan proyek energi terbarukan yang dirasa masih menjadi tantangan bagi sebagian besar pelaku usaha energi terbarukan. “Itu (transisi energi) merupakan hal baru untuk bank-bank, khususnya bank di Indonesia. Saya rasa kita perlu untuk support mereka, meningkatkan literasi mereka terkait hal ini agar akses-akses modal dan skema pembiayaan inovatif juga bisa dihadirkan oleh institusi keuangan.” ujar Julius menjawab pertanyaan dari perwakilan pengembang proyek energi terbarukan pada diskusi tersebut.

Dalam merumuskan kesimpulan diskusi, moderator juga menyampaikan terkait pentingnya membaca buku ini untuk meningkatkan pemahaman kenapa transisi energi dan pemanfaatan energi terbarukan menjadi penting bagi masyarakat umum. Selain itu, para panelis dan moderator setuju bahwa hal yang paling penting untuk dilakukan sekarang adalah untuk menjalankan komitmen-komitmen yang sudah dituangkan dalam bentuk gagasan dan kebijakan.

“Dalam waktu cepat, kita perlu untuk mengikuti arahan terkait transisi energi. Negara ini sudah ada panduannya, apa yang mau dicapai di 2025, apa yang mau dicapai di 2050. Kita hanya perlu melakukan apa yang perlu dilakukan. Menurut saya, yang paling cepat untuk dilakukan ya bertransisi menggunakan kendaraan listrik, walaupun tidak serta-merta merubah bauran listrik namun pesan-pesan ramah iklim yang disampaikan menjadi awalan yang baik sebagai langkah awal literasi terkait perubahan iklim ini.” ujar Aris menutup diskusi bedah buku ini.

Share on :

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Related Article

IESR-Secondary-logo

Dengan mengirimkan formulir ini, Anda telah setuju untuk menerima komunikasi elektronik tentang berita, acara, dan informasi terkini dari IESR. Anda dapat mencabut persetujuan dan berhenti berlangganan buletin ini kapan saja dengan mengklik tautan berhenti berlangganan yang disertakan di email dari kami. 

Newsletter