Pemerintah Didesak Implementasikan Rencana Penurunan GRK

Oleh Desi Purnamawati

Jakarta, 30/9 (Antara) – Dua lembaga nonprofit yang bergerak di bidang perubahan iklim mendesak pemerintah melaksanakan implementasi yang nyata atas Rencana Aksi Nasional mengenai penurunan gas rumah kaca.

“Saat ini emisi GRK Indonesia masih di bawah mayoritas negara-negara maju tapi pada 2030 diperkirakan mencapai lima persen dari total emisi global,” kata Koordinator Indonesia Climate Action Network (ICAN) Fabby Tumiwa di Jakarta, Senin.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform (IESR) itu juga mendesak agar prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam implementasi program kegiatan RAN dan RAD GRK yang menggunakan APBN dan APBD serta lembaga donor dapat dipertanggungjawabkan kepada publik.

Indonesia berkomitmen menurunkan emisi GRK sebesar 26 persen secara sukarela dengan tambahan 15 persen apabila ada bantuan internasional.

Berdasarkan hasil kajian Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), sebuah panel ahli internasional yang ditunjuk untuk mengkaji aspek ilmiah tentang perubahan iklim dalam laporan kelimanya meyakini bahwa perubahan iklim disebabkan peran manusia sebagai penyebab utama.

“Terutama akibat penggunaan bahan bakar fosil,” kata Fabby mengutip laporan IPCC.

Laporan IPCC lainnya. menyebutkan berdasarkan skenario permodelan, diperkirakan pada akhir 2100 temperatur global akan lebih hangat 1.8-4^C dibandingkan rata-rata temperatur pada rentang 1980-1999.

Tiga dekade terakhir menjadi dekade yang lebih panas dibandingkan dekade sebelumnya sejak 1850.

Sejak 1950, atmosfer maupun laut memanas, keberadaan dan volume salju dan luasan es berkurang drastis serta permukaan laut naik. Perubahan ini terjadi lebih cepat dibandingkan waktu lampau.

Peluruhan glasier dan lapisan es terjadi lebih cepat pada dekade terakhir dibandingkan dekade 1990.

Menurut IPCC, kenaikan temperatur global semenjak 1901 mencapai 0,89 derajat celcius. Di kawasan Asia Tenggara tercatat kenaikan temperatur pada kisaran 0,4-1 derajat celcius. Diperkirakan di tahun mendatang (2046-2065) kenaikan pada rentang 1,5-2 derajat.

Curah hujan diperkirakan akan meningkat di negara-negara seperti Indonesia dan Papua Nugini kecuali di bagian barat daya Indonesia.

“Bisa dibayangkan akan terjadi kekeringan, terlebiH lagi pemerintah mulai fokus membangun wilayah barat daya Indonesia seperti Sumatera,” katanya.

Sementara kelembaban tanaH akan meningkat satu milimeter di bagian barat daya Papua Nugini dan penurunan sekitar 0,6 mm di bagian barat kawasan yaitu di Laos, Vietnam, Kamboja, Thailand, Malaysia, sebagian Indonesia dan sebagian Myanmar.

“Untuk mengatasi ancaman perubahan iklim global diperlukan kerja sama negara maju dan berkembang dalam meningkatkan aksi mitigasi dan adaptasi,” ujar Fabby.

(T.D016/B/N. Yuliastuti/N. Yuliastuti) 30-09-2013 18:00:24

Sumber: www.iyaa.com.

Share on :