Pawai Indonesia Bebas Emisi 2050: Kolaborasi Lintas Sektor dan Generasi

Jakarta, 2 Juni 2024 – Anak muda memiliki fleksibilitas dan keinginan untuk banyak terlibat dalam aktivitas yang menarik minat mereka. Salah satu keresahan bagi anak muda ini adalah kerusakan lingkungan. 

Kegelisahan anak muda tentang kondisi lingkungan yang semakin meresahkan ini dituangkan dalam pesan-poster yang dibawa dalam pawai Indonesia Bebas Emisi 2050 (2/6/2024) di kawasan car free day (CFD) Sudirman Thamrin. Pawai ini diinisiasi oleh kelompok anak muda Generasi Energi Bersih (GEN-B) yang didukung oleh Institute for Essential Services Reform (IESR), Departemen Lingkungan Hidup Fakultas Hukum Universitas Indonesia (DLH FH UI), Enter Nusantara, dan Climate Ranger yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Bebas Emisi (KIBE) 2050. 

Perwakilan dari koalisi ini juga mengadakan audiensi dan penyampaian aspirasi ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM). Salah satu dari tuntutan koalisi adalah desakan untuk pemerintah menjalankan kebijakan dekarbonisasi utamanya sistem energi secara komprehensif dan menyeluruh termasuk pemanfaatan energi terbarukan untuk pemenuhan target nir-emisi Indonesia pada 2060 atau lebih cepat.

Untuk mendukung tujuan besar ini, ekosistem pendukung termasuk pemanfaatan teknologi penyimpanan daya seperti pump hydro energy storage (PHES), battery energy storage system (BESS), serta pendanaan inovatif untuk proyek energi terbarukan. KIBE 2050 juga menggarisbawahi tuntutan untuk percepatan penghentian operasi PLTU batubara di Indonesia. 

Riyan Nurrahman, Koordinator Kampanye GEN B, menyatakan Kementerian ESDM juga harus menjadi fasilitator harmonisasi target dekarbonisasi antar kementerian.

“Adanya target yang berbeda-beda antar kementerian membuat upaya dekarbonisasi untuk mencapai net zero emission menjadi tersendat,” ujar Riyan.

Agus Cahyono Adi, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerjasama (KLIK) KESDM yang menerima perwakilan peserta audiensi kali ini menyatakan bahwa pihaknya mengapresiasi aspirasi yang disampaikan dan pihaknya akan meneruskannya.

“Rekomendasinya banyak ya dan multi sektor, maka kami akan lanjutkan pada bagian-bagian terkait,” katanya.

Agus juga menekankan bahwa transisi energi membutuhkan upaya kolektif semua pihak baik itu lintas instansi juga lintas generasi. Untuk itu keterlibatan anak-anak muda dalam berbagai kapasitasnya menjadi penting dan relevan.

Pelibatan Generasi Anak Muda dalam Isu Transisi Energi

Jakarta, 24 November 2023 – Dampak krisis iklim semakin terasa seiring dengan meningkatnya suhu bumi. Laporan terbaru Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan suhu bumi telah meningkat 1,1°C pada tahun 2011-2020 dibandingkan pada 1850-1900. Upaya mitigasi dan aksi iklim yang serius demi menekan emisi gas rumah kaca guna menjaga agar peningkatan suhu tidak melebihi 1,5 derajat Celcius perlu terus dilakukan. Salah satunya dengan bertransisi energi atau beralih dari energi yang padat karbon seperti energi berbahan bakar batubara ke energi terbarukan.

Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai dalam proses transisi energi perlu melibatkan generasi masa depan, terutama anak-anak dan orang muda. Anak muda memiliki peran krusial dalam memastikan pembangunan berkelanjutan dapat berjalan di tengah tantangan perubahan iklim. Mereka pula yang akan membangun masa depan yang mengedepankan penggunaan sumber daya yang lebih ramah lingkungan serta pertumbuhan ekonomi yang mementingkan aspek kelestarian lingkungan.

Farah Vianda, Koordinator Pembiayaan Berkelanjutan, IESR dalam acara Road to Youth Climate Conference (23/11) menuturkan pengurangan penggunaan energi fosil memang memerlukan kebijakan pemerintah, namun orang muda pun dapat melakukan aksi-aksi individu yang berdampak pada penurunan emisi gas rumah kaca.

“Setiap individu khususnya anak-anak dan orang muda dapat terlibat untuk melakukan langkah konkret dalam mitigasi krisis iklim. Salah satu langkah utama adalah mengubah kebiasaan sehari-hari, mulai dari penggunaan listrik dan freon yang lebih bijak, hingga mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor dan membeli produk dengan bijak. Dengan langkah sederhana ini, anak muda dapat menciptakan dampak positif yang signifikan dalam mitigasi krisis iklim,” tegas Farah.

Farah menjelaskan, transisi energi melibatkan pergeseran fundamental dalam cara kita memproduksi dan mengkonsumsi energi. Menurutnya, dengan menitikberatkan pada penggunaan sumber daya yang lebih ramah lingkungan, akan dapat membentuk fondasi yang kuat bagi keberlanjutan bumi. Hal ini tidak hanya tentang teknologi, tetapi juga melibatkan pemahaman dan partisipasi aktif dari anak-anak dan orang muda sebagai agen perubahan masa depan.

Rahmat Jaya Eka Syahputra, Staf Program Transformasi Energi, IESR, menyoroti efisiensi energi dalam konteks transisi energi dengan mengurangi konsumsi energi yang tidak perlu. Menurutnya, pemahaman yang kuat terhadap pengurangan emisi karbon akan membentuk kebiasaan menghitung emisi dan berujung pada melakukan aktivitas sehari-hari yang rendah karbon.

“Efisiensi energi tidak hanya memberikan manfaat lingkungan dengan mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi dengan menghemat biaya energi individu. Dengan berpartisipasi aktif melalui langkah efisiensi energi, individu telah ikut mengambil peran sesuai porsinya dalam mengatasi masalah iklim,” terang Rahmat.