ADP 1 : Akhir Minggu Pertama, Agenda ADP Belum juga Disepakati

May, 19 2012

Penulis :

Sampai dengan akhir dari minggu pertama negosiasi perubahan iklim di Bonn, Jerman, pertemuan pertama dari Ad hoc Working Group on Durban Platform on Enhanced Action (ADP) masih belum juga menyepakati agenda pembahasan. Begitu banyak perdebatan berlanjut dari hari sebelumnya (Jum’at, 18 Mei 2012) yang masih dibawa ke pertemuan hari ini (Sabtu, 19 Mei 2012).

Melalui perdebatan yang sangat panjang, sesi ADP yang berlangsung kemarin, masih berakhir ddi agenda mengenai pemilihan pemimpin sidang, dan berakhir tanpa kesepakatan. Walau demikian, pada sesinya pagi ini, ADP dibuka oleh pemimpin sidang sementara, yang kemudian legalitasnya dipertanyakan oleh Saudi Arabia di depan forum. Saudi mengatakan bahwa dengan adanya pemimpin sidang sementara yang dipilih oleh Presiden COP, maka Saudi mempertanyakan apakah pengadopsian agenda yang dipimpin oleh pemimpin sidang yang bukan dipilih oleh forum, kemudian menjadi sah secara legal. Ragu akan legalitasnya, maka Saudi menyatakan tidak menyetujui agenda.

Sesi ADP bukan hanya diwarnai dengan hal itu, beberapa isu substansi juga menjadi perdebatan yang sangat panjang. Beberapa hal yang menjadi perdebatan adalah mengenai item 3 dari provisional agenda dan item 4 dari provisional agenda. Item 4 dari provisional agenda menyatakan bahwa ADP harus membahas mengenai penyusunan rencana kerja untuk peningkatan ambisi mitigasi.

Item 4 ini menimbulkan begitu banyak kontroversi dari beberapa negara, terutama dari Cina. Pasalnya adalah dalam keputusan 1/CP 17, tidak pernah dinyatakan bahwa ADP akan membahas peningkatan ambisi mitigasi. Yang tertulis adalah ADP akan membahas seluruh kegiatan-kegiatan untuk meningkatkan ambisi, baik itu di bidang adaptasi, mitigasi, maupun kegiatan-kegiatan pendukung (transfer dan pengembangan teknologi, pendanaan, capacity building). Permasalahan ini mendatangkan perdebatan yang sangat panjang antar negara. Hingga pada akhirnya, timbul lah 2 proposal untuk menengahi hal ini:

  1. Proposal Singapura. Singapura mengusulkan untuk menambahkan “in accordance to decision 1/CP 17” ke dalam judulnya
  2. Proposal Filipina. Filipina mengusulkan agar agenda ke-4 dihapuskan, dan dimasukkan ke dalam agenda ketiga. Filipina juga mengusulkan untuk mengganti judul dari agenda 3 menjadi “Planning of work in accordance with all elements in decision 1/CP17”

Selain dari kedua proposal itu, Venezuela juga menyatakan, bahwa negara tersebut menginginkan sebuah catatan kaki untuk tercantum di dalam agenda ini. Venezuela mengajukan sebuah line “The implementation of Decision 1/CP17 should be reviewed on the basis of its confirmity with international law to the principle of international law called exceptional perfomance and in fulfilment of UNFCCC compliance with the KP.”

Dua proposal yang diajukan oleh Singapura dan Filipina masih diperdebatkan oleh forum sampai dengan sesi ADP pagi tadi berakhir. Selain itu, proposal Venezuela mengenai catatan kaki, juga ditentang oleh Amerika.

Perdebatan yang belum berakhir ini, rencananya akan dilanjutkan pada hari Selasa, tanggal 22 Mei 2012 mendatang.

Artikel Terkait
Sep, 1 2016

Sejak terjadinya musibah tsunami yang merusak pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima, Jepang, tahun 2011 lalu, muncul trend di negara-negara Eropa untuk meninggalkan energi nuklir

Dec, 9 2011

Saat ECO mendukung komitmen tingkat tinggi yang dibuat oleh G20 dan APEC untuk menghapuskan subsidi bahan bakar fosil, perkembangan kenyataannya sangat lah lambat. Di Durban,

Apr, 11 2019

Dewan Perwakilan Daerah Rakyat Republik Indonesia menginisiasi Rancangan Undang Undang (RUU) Energi Baru Terbarukan (EBT). RUU ini semula diusulkan oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Masyarakat

Dec, 3 2010

Kompas- Dunia lelah, semua lelah—akibat perundingan bertele-tele di tingkat Kerangka Kerja PBB atas Konvensi Perubahan Iklim. Tidak heran jika gerakan sukarela dari negara pihak kini

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close