Global Warming

Mar, 21 2012

Penulis :

Oleh: Tri Cahyo Edi, Sobat Esensial IESR Batch 3

Beberapa tahun belakangan ini, bumi kita khususnya negara kita banyak mengalami bencana alam. Bencana alam ini terjadi tanpa mengenal tempat, apakah itu terjadi di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa maupun pulau-pulau lainnya. Beberapa di antara bencana alam tersebut adalah bencana yang tidak dapat terhindarkan, beberapa lainnya disebabkan oleh ulah manusia itu sendiri. Bencana gunung berapi meletus dan gempa bumi adalah contoh bencana alam yang terjadi secara alami sejalan dengan bertambahnya usia bumi. Hujan terus-menerus yang berakibat banjir merupakan contoh bencana alam karena ulah manusia. Penebangan pohon yang banyak dilakukan di daerah pegunungan, menimbulkan dampak besar bagi masyarakat yang tinggal di bawahnya. Pembabatan hutan di daerah resapan air di pegunungan ini terjadi lebih karena keserakahan manusia sebagai penghuni bumi itu sendiri. Bencana alam yang dikarenakan ulah manusia harus bisa dicegah oleh manusia itu sendiri.

Sebenarnya banjir bukanlah satu-satunya akibat dari keserakahan manusia pada alam tempat tinggalnya. Polusi udara, tercemarnya air sungai akibat limbah, pembakaran hutan, merupakan contoh kecil dari proses perusakan alam oleh manusia. Pembabatan hutan dan perkembangan industri yang menyumbang besar pada pelepasan CO2 ke udara, makin menambah kerusakan alam. Semua hal tersebut pada akhirnya bermuara pada isu global warming dan perubahan iklim yang telah tampak tanda-tandanya sekarang ini.

Bicara mengenai lingkungan, tentu tidak dapat diabaikan penyebabnya secara global. Perubahan iklim dan global warming merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Fakta bahwa temperatur bumi telah naik tinggi satu abad ini telah menyita banyak penelitian tentang global warming. Miris sekali mendengar ternyata kenaikan suhu tersebut sebagian besar terjadi pada 3 dasawarsa terakhir. Pertumbuhan industri yang pesat tidak hanya membawa dampak kemajuan suatu negara, namun berakibat sebaliknya pada bumi, sebuah perusakan lingkungan. Efek paling jelas adalah pada kenaikan permukaan air laut. Keadaan ini disebabkan oleh mencairnya es di kutub utara yang lebih cepat daripada waktu yang diperlukan untuk pembentukan es.

Penyebab utama dari semua hal tersebut di atas adalah efek rumah kaca yang terjadi di atmosfer bumi. Efek rumah kaca ini sebenarnya berfungsi sebagai penangkap panas matahari agar tidak terbuang ke luar angkasa dan berfungsi sebagai penghangat permukaan bumi. Apabila tidak ada efek rumah kaca ini, suhu permukaan bumi berkisar -18 derajat C. Akan tetapi akibat makin banyak gas karbon yang dilepas ke udara atmosfer, sebagai akibat perkembangan industri yang menggunakan bahan bakar fosil dan makin maraknya penebangan hutan, efek rumah kaca menjadi bumerang bagi kelangsungan hidup makhluk di muka bumi. Suhu bumi berangsur menjadi kian panas. Produksi gas CO2 lebih banyak dibandingkan dengan proses penguraiannya.

Sebenarnya negara-negara di dunia tidak tinggal diam dalam menghadapi fenomena bumi yang memprihatinkan ini. Pada tahun 1997 ditandatanganilah sebuah kesepakatan oleh beberapa negara yang berisi komitmen negara-negara untuk mengurangi emisi gas karbon, yang kemudian dinamakan Protokol Kyoto. Kesepakatan ini dijalankan salah satunya dengan menerapkan regulasi pembatasan emisi gas karbon di masing-masing negara penandatangan, termasuk regulasi yang dikenakan pada industri berbahan bakar fosil. Pada tahun 2005, semua anggota negara penandatangan Protokol Kyoto telah meratifikasinya, kecuali negara Amerika Serikat. Penulis beranggapan bahwa negara Amerika Serikat tidak meratifkasi Protokol Kyoto karena protokol tersebut dianggap akan mengurangi kebebasan perkembangan industri di negara tersebut. Lebih menyedihkan lagi pada Desember 2011, Kanada menyatakan menarik diri dari kesepakatan Protokol Kyoto. Kita hanya bisa berharap kedua negara tersebut mempunyai program yang lebih masuk akal dalam memerangi global warming ini.

Sebenarnya kita sebagai orang awam bisa ikut melakukan perang terhadap global warming. Dengan melakukan hal yang sederhana dan dapat dilakukan sehari-hari, emisi gas karbon ke udara bisa dikurangi. Penggunaan transportasi massal adalah salah satunya. Dengan naik kendaraan umum, setidaknya bisa mengurangi pelepasan emisi karbon ke udara karena transportasi publik digunakan secara bersama-sama. Ketika mandi kita bisa berhemat dengan mematikan shower apabila kita tidak berada di bawahnya. Selalu mematikan peralatan elektronik ketika meninggalkan rumah, termasuk mematikan AC apabila tidak digunakan, dapat membantu keadaan bumi kita menjadi lebih baik. Pemakaian kantong belanja yang dapat digunakan berulang kali, sangat membantu pengurangan produksi sampah plastik yang ada. Hal-hal tersebut adalah contoh kecil yang dapat kita lakukan demi menjaga dan merawat bumi kita.

Artikel Terkait
Mar, 3 2014

Currently, the G20 priority agenda covers sectoral issues that support development, but apparently, climate change has been the one that is left behind. Climate finance,

Mar, 27 2013

Setelah melalui 2 (dua) hari persiapan dari kelompok masyarakat sipil di Hotel Goodway, Nusa Dua, Bali, kelompok masyarakat sipil kemudian menyatakan posisi mereka di hadapan

May, 3 2017

“In Quebec, there are no climate change sceptics,” Pierre Arcand, politisi dari Quebec menjawab pertanyaan mengapa Quebec sangat progresif dalam mengejar efisiensi energi dan penggunaan

Dec, 9 2011

Apabila anda sering mendengar atau membaca berita mengenai COP 17, anda akan menemukan kata ‘Indaba’ sebagai salah satu proses yang digunakan di COP 17 ini.

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close