Skip to content

Journal RIO + 20 Rio, Here I Come

Author :

Authors

Fabby Tumiwa

Setelah penerbangan panjang dan melelahkan selama kurang lebih 24 jam dari Jakarta, akhirnya pesawat yang saya tumpangi mendarat juga Bandara Internasional Antonio Carlos Jobim di Rio de Jeneiro, Brasil, 15 juni 2012. Banyak orang salah menganggap bahwa Rio de Jeneiro adalah ibu kota negara terbesar kelima di dunia ini padahal Ibu kota Brasil adalah Brasilia. Rio sendiri adalah kota terbesar kedua di Brasil, setelah Sao Paulo dengan populasi 6,35 juta orang. Produk Domestik Bruto Brasil mencapai $11,768/kapita (peringkat 53), jauh lebih tinggi dibandingkan Indonesia yang hanya $3,500 (peringkat 107). Walaupun Indonesia dan Brasi merupakan negara anggota G-20 (kelompok negara berpendapatan tertinggi di dunia), Brasil berada di peringkat 6 negara berpendapatan tertinggi, sedangkan Indonesia berada di peringkat 17.

Kalau tidak salah tebak sekitar dua pertiga penumpang di pesawat yang sama datang ke Rio untuk pertemuan Rio+20, atau nama resminya Konferensi PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan. Dua puluh tahun lalu, kota ini menjadi tuan rumah Konferensi PBB untuk Lingkungan dan Pembangunan (United Nations Conference on Environment and Development) yang menghasilkan Agenda 21: Program Aksi untuk Pembangunan Berkelanjutan, yang salah berisi Deklarasi Rio untuk Lingkungan dan Pembangunan, yang mengakui hak setiap bangsa untuk mencapai kemajuan sosial dan ekonomi, dan memberikan tanggung jawab kepada negara untuk mengadopsi model pembangunan berkelanjutan.

Selain deklarasi Rio, dicetuskan juga Pernyataan tentang Prinsip-Prinsip Hutan (Statement of Forest Principles), dan kesepekatan atas Konvensi Keanekaragaman Hayati (UN CBD) dan Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC). Setahun setelah itu, pada 1993 dibentuk Komisi Pembangunan Berkelanjutan (Commission on Sustainable Development) dibawah PBB untuk mengimplementasikan Agenda 21.

Hasil inilah yang membuat pertemuan 20 tahun lalu di Rio sangatlah monumental dan menginspirasi wacana pembangunan dan lingkungan, bahkan politik global. Terminologi Pembangunan Berkelanjutan menjadi jargon baru yang menjadi tema utama dalam diskusi-diskusi tentang lingkungan dan pembangunan hingga hari ini.

Semangat Rio tahun 1992 sepertinya masih cukup ada, ditengah keprihatinan terhadap minimnya kemajuan dalam perundingan tentang perubahan iklim yang menemui antiklimaks di Copenhagen, tahun 2009. Tidak lama setelah COP-15 UNFCCC berakhir, pada 24 Desember 2009, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi yang menyetujui pelaksanaan Konferensi PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan tahun 2012, atau disebut juga sebagai “Rio+20.” Majelis Umum PBB menyepakati 3 tujuan konferensi: mengamankan komitmen yang diperbarui terhadap pembangunan berkelanjutan; mengkaji kemajuan dan celah implementasi komitmen yang sudah disetujui dan menghadapi tantangan-tantangan yang baru dan yang muncul. Terdapat dua tema yang disepakati oleh konferensi ini: ekonomi hijau dalam konteks pembangunan berkelanjutan dan penghapusan kemiskinan; dan kerangka institusi untuk pembangunan berkelanjutan.

Keluar dari pesawat, suasana Rio+20, sudah mulai terasa. Logo Rio+20 dan sejumlah spanduk dipajang di lorang-lorong kedatangan bandara yang menuju ke bagian imigrasi. Begitu keluar pesawat sejumlah usher sudah menunggu delegasi resmi Rio+20. Sepanjang koridor juga terdapat spanduk tentang inisiatif Sustainable Energy for All (SEFA) yang diluncurkan oleh Sekjen PBB Ban Ki Moon. Spanduk-spanduk kecil ini cukup informatif menjelaskan makna SEFA..seperti Sustainable energy for agriculture, Sustainable Energy for health, dsb.

Begitu juga ketika tiba di area imigrasi, ada satu jalur khusus yang disediakan untuk delegasi Rio+20. Di standing banner tertulis “Official Delegation” Rio+20. Karena penasaran saya bertanya kepada para petugas apakah semuar yang terdaftar masuk dalam klasifikasi “Official Delegation”. Sang petugas, dengan senyum manisnya menjawab “No, sir. It’s only for government delegate.” Oh, ternyata memang official yang dimaksud adalah delegasi yang mewakili pemerintah, sedangkan anggota organisasi masyarakat sipil seperti saya, walaupun resmi terdaftar untuk acara ini oleh UN, tidak masuk dalam kategori “official.”

Kedatangan saya ke Rio, untuk memenuhi permintaan sebagai pembicara di sejumlah event yang diadakan paralel dengan pertemuan Rio+20, dan side event yang diadakan selama pertemuan tingkat tinggi KTT (20-22 Juni). Rencananya saya akan menjadi panelis di event Fair Ideas, yang diselengarakan di Pontificia Universidade Catholica (PUC) tentang akses energi untuk orang miskin, dan subsidi bahan bakar fossil, di RioCentro, tempat KTT berlangsung, dan di beberapa event lainnya.

Alhasil, kalau para penyandang status “official” bisa melaju di jalur express untuk pemeriksaaan imigrasi, saya dan penumpang lain harus menunggu cukup lama hingga mencapai pemeriksaan imigrasi. Saya kira-kira menunggu kira-kira 45 menit, mumpung booth imigrasi yang tersedia untuk pendatang asing hanya 4 dari 8 booth yang tersedia.

Bicara soal jalur khusus, ternyata embel-embel delegasi pemerintah tidak menyelamatkan dari pemeriksaan duane/bea dan cukai dan petugas karantina. Konon, ada pejabat Kementerian Lingkungan Hidup yang bernasib sial karena masakan daging rendang yang dibawanya disita oleh petugas setelah tas-nya diperiksa. Brazil memang melarang masuknya makanan dari luar.

Setelah imigrasi yang cukup lama, para penumpang masih harus menunggu 45 menit lagi untuk mendapatkan bagasi, dan melalui pemeriksaan duane. Keluar area bagasi, saya ingat tidak punya mata uang lokal, Real atau Reis, sehingga perlu menukar uang terlebih dahulu. Ini pun tidak mudah, karena saya masih harus antri sekitar 30 menit, hingga bisa melakukan penukaran uang.

Setelah uang tertukar, saya baru mencari taxi bandara untuk mencapai penginapan saya yang sederhana yang berada tidak jauh dari pantai Ipanema dan Copacabana, dua kawasan pantai termasyur di Rio. Untuk taxi dengan perjalanan sekitar 25 – 30 km (sekitar 40 menit) saya membayar 105 Reis atau sekitar Rp. 550 ribu rupiah.

Saya menghitung, sejak mendarat, butuh 3,5 jam untuk tiba di alamat hotel tempat tinggal saya. Saat tiba, saya sedikit terkejut, alamaaak ternyata hotel saya berada di atas bukit ditengah-tengah pemukiman padat. Masih puluhan anak tangga sejauh 150 meter dengan tingkat kecuraman 45-derajat masih harus saya tempuh. Apa mau dikata…seperti kata iklan…enjoy aja sambil terengah-engah menenteng koper dan 2 tas tentengan lainnya….huah…huah…

Share on :

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Article

IESR-Secondary-logo

Dengan mengirimkan formulir ini, Anda telah setuju untuk menerima komunikasi elektronik tentang berita, acara, dan informasi terkini dari IESR. Anda dapat mencabut persetujuan dan berhenti berlangganan buletin ini kapan saja dengan mengklik tautan berhenti berlangganan yang disertakan di email dari kami. 

Newsletter