Konferensi PBB Mengenai Perubahan Iklim di Durban

Nov, 29 2011

Penulis :

Selama dua minggu mulai 28 November 2011, delegasi dari 190 negara berkumpul di Durban, Afrika Selatan. Mereka berkumpul dengan harapan untuk mengatasi kebuntuan pengurangan emisi karbon dioksida dan polutan lainnya.

Harapan mengenai perjanjian yang mengatur tentang emisi karbon secara global telah terenggut saat kegagalan pembicaraan pada KTT Iklim di Kopenhagen dua tahun lalu. Pendekatan “Big Bang” telah digantikan oleh sejumlah upaya tambahan untuk membangun lembaga-lembaga baru yang menggantikan ekonomi dunia dari generasi energi dan transportasi berbasis karbon kepada teknologi yang lebih ramah lingkungan.

Namun adanya jurang perbedaan antara kelompok negara-negara kaya dan negara-negara miskin telah menjadi penghalang proses negosisasi akan masa depan Protokol Kyoto 1997. Para pejabat PBB berharap adanya keputusan untuk memperpanjang komitmen dalam pengurangan emisi berdasarkan kesepakatan Kyoto yang telah tertunda selama dua tahun. Perjanjian sebelumnya akan berakhir pada tahun depan. Berikut ini adalah sejumlah isu yang hangat diperbincangkan pada meja perundingan di Durban dan apa saja yang dipertaruhkan.

Apa yang dimaksud dengan konferensi perubahan iklim di Durban, Afrika Selatan?

Konferensi di Durban sering diartikan berbeda-beda oleh berbagai kelompok. Ada yang menyebutnya sebagai Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim, Sesi ke 17 para pihak untuk Konvensi Kerangka kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC), COP 17 dan/atau Sesi ke tujuh Konferensi Persiapan Pertemuan Kelompok Protokol Kyoto (CMP 7).

Apapun masyarakat menyebutnya, tujuan uatama konferensi ini adalah untuk mencapai kesepakatan baru untuk pengurangan emisi gas rumah kaca dan polutan lainnya. Konferensi ini berlangsung pada tanggal 28 November – 9 Desember 2011.

Siapa yang menghadiri konferensi tersebut?

Mereka yang hadir adalah perwakilan pemerintah dari 190 negara (termasuk Kanada), organisasi internasional serta lembaga swadaya masyarakat lainnya.


Apa UNFCCC?

UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) atau Konvensi Kerangka kerja PBB untuk Perubahan Iklim adalah kesepakatan perubahan iklim yang dicapai pada KTT Bumi di Rio de Janeiro, Brazil tahun 1992 dan ditandatangani oleh 154 negara.

Perjanjian yang tidak mengikat ini bertujuan untuk mengurangi gas rumah kaca di atmosfir, dimana negara-negara maju memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk mencapai tujuan tersebut.

Setiap tahun setelah perjanjian selesai berlaku, dilakukan sebuah konferensi, dan menjadikan Durban sebagai Konferensi Para Pihak ke-17, atau COP17.

Apakah Protokol Kyoto?

Protokol adalah kesepakatan internasional yang ditandatangani pada konferensi COP 3 di Kyoto, Jepang tahun 1997. Protokol ini menetapkan sejumlah target bagi negara-negara industri maju untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan komitmen 37 negara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca tertentu sebesar 5,2 persen mulai dari level 1990.

Pada saat berlaku di tahun 2005, sebanyak 141 negara telah meratifikasi Protokol Kyoto. Namun sejumlah negara seperti Cina, Australia dan Amerika Serikat menolak meratifikasi. Dalam kesepakatan ini setiap negara harus bertanggung jawab dengan mengurangi seperempat emisi yang dihasilkan karena dianggap sebagai penyebab pemanasan global (AS menandatangi perjanjian ini tetapi menolak meratifikasi protokol).

Ketika Kyoto menerapkan agenda untuk pengurangan emisi gas rumah kaca yang “ekonomis dalam transisi” negara seperti Rusia yang memilih dasar tahun yang berbeda. Ada berbagai target pengurangan dan beberapa negara telah diijinkan untuk mengeluarkan emisi gas rumah kaca yang lebih dari yang mereka lakukan pada tahun 1990. Negara berkembang tidak memiliki batasan pengurangan.

Kyoto dianggap sebagai langkah awal untuk mengatasi pemanasan global yang pada awalnya tidak dimaksudkan untuk memecahkan persoalan dunia mengenai perubahan iklim pada komitmen pertama yang berakhir pada tahun 2012.

Apa yang dimaksud dengan Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim?

Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (The Intergovernmental Panel on Climate Change-IPCC) adalah badan ilmiah yang didirikan pada tahun 1988 oleh World Meteorological Organization dan United Nations Environment Program. Melalui panel ini, PBB berupaya untuk memberikan pandangan ilmiah kepada pemerintah di seluruh negara mengenai perubahan iklim yang terjadi di dunia. Panel yang terdiri dari para ilmuan terkemuka tidak melalukan riset, tapi mengkaji data ilmiah dan teknis dari berbagai sumber internasional. Sebanyak empat laporan kajian telah dipublikasikan, dan laporan ke lima akan dikeluarkan pada tahun 2013-2014.

Apa dana Iklim Hijau?

Negara-negara berkembang yang menghasilkan sedikit karbon dioksida per kapita sedang berhadapan dengan efek pemanasan global. Prioritas utama dalam agenda konferensi adalah pengelolaan dana scaling up selama delapan tahun ke depan sebesar $ 100 miliar dollar AS yang dikeluarkan setiap tahun untuk membantu negara miskin menanggulangi kondisi perubahan iklim.

Dana Iklim Hijau sebesar $ 30 Milyar bertujuan untuk membantu negara-negara berkembang menyiapkan diri menghadapi perubahan iklim. Dana ini merupakan bagian dari dana sebesar $100 milyar yang merupakan komitmen dari negara-negara maju yang dibuat pada pembicaraan iklim di Cancun, Mexico, pada Desember 2010. Dana ini tidak akan disalurkan hingga tahun 2010.

Di Durban, topik utama yang akan dibahas adalah apa perkembangan yang bisa dicapai dari dana tersebut. Sebuah komite dari 40 negara bekerja telah bekerja pada tahun lalu untuk merancang rencana pengelolaan dana tersebut, namun kesepakatan draft terakhir dihadang oleh Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Persoalaan lainnya adalah bagaimana dana tersebut bisa diambil dari sumber-sumber baru diluar saluran pembangunan yang dibangun dari Barat. Gagasan lainnya misalnya memasukan biaya tambahan karbon pada pelayaran internasional dan tiket pesawat, dan retribusi atas transaksi keuangan internasional-yang biasanya disebut pajak Robin Hood.

Tiga profesor Universitas British Columbia mengatakann perlu dibuat sistem akuntablitas untuk untuk memastikan bahwa dana tersebut benar-benar digunakan untuk mempersiapkan negara berkembang menghadapi perubahan iklim.

Apa saja isu yang menjadi perdebatan pada perubahan iklim?

Perbedaan posisi anatara negara kaya dan miskin mengenai masa depan Protokol Kyoto 1997 telah menghalangi proses negosisasi Negara-negara miskin menuntut negara- negara industri maju untuk bertanggung jawab atas perubahan iklim dan berkomitmen mengurangi emisi pada periode kedua. Mereka mengatakan, protokol ini merupakan satu-satunya instrumen hukum yang diadopsi untuk mengendalikan karbon dioksida dan dan gas lainnya yang menimbulkam perangkap panas bumi.

Namun negara-negara kaya berdalih, mereka tidak bisa menanggung beban ini sendirian dan menginginkan agar negara-negara berkembang seperti China, India, Brasil dan Afrika Selatan, yang memiliki tingkat emisi rumah kaca yang semakin tinggi untuk segara bergabung dengan mereka dan terikat hukum, atau setidaknya memperlambat emisi mereka.

Bagaimana posisi Kanada?

Pemerintah Harper ingin menjaga target Kanada sejalan dengan Amerika Serikat. Hal ini perlu dilakukan sebagai upaya integrasi ekonomi dua negara. Dalam pidatonya di Toronto tanggal 8 November, Menteri Lingkungan, Peter Kent menjelaskan posisi pemerintahnya mengenai konferensi Durban; “Kami hanya akan mendukung kesepakatan perubahan iklim yang ditandatangani dan diratifikasi oleh mayoritas emitter (penghasil emisi)”. Dia menambahkan, “Hal tersebut dilakukan karena kami telah menyatakan, betapapun beratnya tekanan internasional, kami tidak akan setuju untuk mengambil komitmen pada periode kedua Protokol Kyoto.” Kent menegaskan keputusannya karena Protokol Kyoto belum ditandatangani oleh seluruh emitter gas rumah kaca terbesar di dunia seperti Amerika Serikat dan Cina. Dia mengamati posisi Kanada sebagai “sesuatu yang mungkin akan menyebabkan turbulensi dalam minggu mendatang.”

Berdasarkan Protokol Kyoto, Kanada berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 6 persen di bawah tingkat 1990 pada 2012. Pada tahun 2009 Kanada menghasilkan emisi CO2 gas rumah kaca 20 persen lebih tinggi dari pada tahun 1990.

Dalam Copenhagen Accord, Kanada berkomitmen untuk mengurangi emisi sebesar 17 persen di bawah tingkat 2005 pada tahun 2020. Kent mengatakan bahwa Kanada telah mencapai 25 persen dari untuk target itu.

Lembaga Pembina bereaksi terhadap pidato Kent dan mengatakan Kanada “terus membenamkan kepalanya di pasir” dengan mental yang rendah dan menjauhkan dari harapan masyarakat internasional. Lembaga tersebut meminta penjelasan dari pemerintah federal agar Kanada membantu menghindari bencana perubahan iklim dengan menjadi “pemain yang konstruktif dalam perundingan internasional.”

Guy Saint-Jacques, ketua perundingan Kanada untuk Konferensi Perubahan Iklim di Durban, mengatakan kepada media dia akan mendorong, “putaran baru perundingan yang membawa pada rejim perubahan iklim tunggal yang lebih komprehensif. Sebuah rejim yang mengajak semua emitter terbesar untuk berperan aktif secara bersama.

Lembaga Pembina mengatakan, “Kanada selalu menjadi salah satu alasan mengapa sulit untuk bersikap optimis. Kanada datang dalam perundingan dalam posisi yang lemah dan tidak siap untuk berkontribusi lebih banyak untuk mencapai solusi yang positif.”

Apakah negara di dunia mengurangi emisi gas rumah kaca mereka?

Sebetulnya ada beberapa berita baik disini. Negara-negara yang menjadi menjadi bagian dari Protokol Kyoto pada tahun 2009 memiliki emisi karbon dioksida (CO2) sebesar 14,7 persen di bawah tingkat 1990.

Secara bersama-sama tahun 2009 negara-negara maju berada di 6,4 persen di bawah tingkat 1990, atau mengelami penurunan sebesar 6,5 persen antara 2008 dan 2009, akibat terjadinya resesi ekonomi. Gambaran ini diperoleh dari sebuah laporan yang dipersiapkaan oleh Badan Energi Internasional untuk konferensi Durban.

Emisi CO2 di seluruh dunia menurun 1,5 persen dari 2008 hingga 2009.Namun, IEA memperkirakan bahwa tingkat emisi meningkat pada tahun 2010 dan akan terus meningkat, demikian pula dengan konsumsi bahan bakar fosil. IEA mengharapkan peningkatan tersebut akan “sesuai dengan skenario worstcase disajikan oleh Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) dalam Laporan Penilaian Keempat (2007), yang memproyeksikan rata-rata dunia kenaikan suhu antara 2,4 ° C dan 6,4 ° C pada tahun 2100.”

Tingkat emisi CO2 tahun 1990-2009

Berikut adalah perubahan tingkat emisi CO2 antara tahun 1990 dan 2009 untuk pilihan negara dan daerah:

Perubahan Secara Global +38%

Cina + 206%
Timur Tengah + 171%
Amerika Latin + 63%
Spanyol + 38%
Kanada +20%
Amerika Serikat + 6,7%
Jerman -21%
Eropa Timur peserta Kyoto- 36%
Latvia -64%

(Sumber: Badan Energi Internasional, emisi CO2 dari pembakaran bahan bakar laporan)

Negara mana yang merupakan penghasil emisi CO2 terbesar?

Sejak 2008, perkembangan dunia telah menyumbang sebagian besar emisi CO2 dunia (54 persen pada 2009). Tetapi hanya 10 negara bertanggung jawab untuk dua-pertiga emisi CO2 global, China dan AS keduanya menyumbang hingga 41 persen dari emisi global. Sedangkan Kanada berada pada urutan ke 8 pada daftar itu.

Berdasarkan basis per kapita, posisi Cina sebesar sepertiga emisi negara Amerika Utara. Namun, tingkat per kapita China 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan pada tahun 1990, sedangkan tingkat per kapita AS menurun sebesar 13 persen.

Bagaimana kemungkinan keberhasilan di Durban?

Singkatnya, Rendah! “Harapan mengenai arsitektur perubahan iklim internasional pada KTT telah terbenam di bawah batu, tidak ada alasan untuk mengharapkan apapun,” ujar Divya Reddy dari konsultan Eurasia Grup kepada Reuters.

Sebuah laporan tanggal 24 November yang dikeluarkan oleh kelompok lingkungan Kanada Lembaga Pembina mengemukakan pandangan tersebut. “Membandingkan lambatnya perundingan internasional mengenai perubahan iklim dengan kemajuan pengetahuan mengenai perubahan iklim membuat kita sulit untuk bersikap optimis.

Kelompok ini melihat posisi dunia yang tidak bisa berbalik dan terancam akan perubahan iklim.”

”Seandainya skenario tersebut akan dihindari, dunia harus melakukan upaya yang lebih banyak upaya untuk menstabilkan suhu global dan keberhasilan tersebut sangat bergantung pada kemampuan untuk mencapai kesepakatan secepat mungkin.”

Harapan untuk perjanjian yang menyeluruh mengenai emisi karbon global sangat rendah sejak kegagalan konferensi Kopenhagen tahun 2009, dan dianggap sebagai kemerosotan ekonomi yang kian memburuk. “Ini adalah perintah yang sulit bagi pemerintah untuk menghadapi ini,” “kata Figueres dari UNFCC. “Seandainya mudah, kita pasti sudah melakukan melakukannya beberapa tahun lalu.”

Sumber: cbc.

Artikel Terkait
Dec, 28 2016

INDOPOS.CO.ID – PT Pertamina melalui anak usahanya PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) bersama dua BUMN lainnya, yaitu PT Geodipa Energi dan PT PLN (Persero), mendapatkan

Apr, 8 2018

Jakarta-Kontan.id. Indonesia Crude Price (ICP) kembali mengalami kenaikan pada bulan Maret 2018 naik sebesar US$ 0,26 per barel menjadi US$ 61,87 per barel. Sementara pada

Feb, 2 2012

Koran Tempo, 1 Februari 2012 JAKARTA – Sejumlah pengamat mendukung rencana pemerintah menaikkan tarif dasar listrik. Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform, Fabby Tumiwa,

Jul, 21 2010

Jakarta – Belajar dari pengalaman selama ini, pendanaan perubahan iklim di Indonesia seharusnya memiliki prinsip anti hutang. Sehingga pengalaman pahit saat krisis tahun 1990-an tak terulang

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close