“Membumikan hari Bumi”

Apr, 26 2011

Penulis :

Oleh: Siti Badriyah

Hari bumi secara internasional pertama kali diperingati pada tanggal 22 April 1970. Namun bukan berarti manusia yang hidup pada era sebelumnya tidak pernah merayakan atau melakukan sesuatu hal yang positif untuk bumi. Hari Bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran manusia sebagai penghuni planet bumi dan apresiasi terhadap planet tersebut. Inisiatif tersebut digagas oleh Senator Amerika Serikat Gaylord Nelson seorang pengajar lingkungan hidup pada tahun 1970.

Melihat tujuan utama dari gagasan hari bumi adalah untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi manusia terhadap bumi maka terkandung makna yang cukup dalam. Kehidupan manusia tidak terlepas dari interaksi dengan bumi. Segala hal yang dilakukan manusia memiliki dampak positif maupun negatif terhadap bumi. Fakta yang terjadi atas perubahan kondisi bumi adalah suhu bumi sudah naik kurang lebih 0.7C+ 2◦C dalam satu abad terakhir (IPCC, 2007). Dampak kenaikan suhu bumi global telah menyebabkan perubahan iklim yang dampaknya sudah sangat nyata terjadi disekitar kita. Banjir bandang akibat curah hujan sangat tinggi dalam waktu singkat, tenggelamnya pemukiman warga di pesisir akibat naiknya muka air laut, penyakit demam berdarah dan malaria yang masih mengancam, kekeringan di berbagai daerah adalah beberapa akibat perubahan iklim yang kita amati di sekitar kita.

Segala hal yang dilakukan manusia atau organisasi yang menghasilkan emisi gas rumah kaca disebut sebagai jejak karbon. Beragam aktivitas keseharian kita menyebabkan meningkatnya jumlah jejak karbon penyebab pemanasan global. Seluruh aktivitas yang mengkonsumsi bahan bakar dan energi listrik, penggunaan kertas, sampah organik maupun an organik yang dihasilkan manusia, konsumsi air minum dalam kemasan, penggunaan kantong plastik dan lain sebagainya menghasilkan emisi karbon. Adalah hal yang harus kita berikan balik ke bumi atas jasa baik bumi yang memberikan ruang atmosfer untuk menampung jejak karbon manusia. Namun kini kondisi bumi sudah sangat kritis. Kadar CO2 sudah mencapai 392 ppm yang jauh melampai ambang batasnya agar kondisi aman yaitu 350 ppm (co2now.org).

Aktivitas di bawah ini adalah upaya nyata yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan bumi. Menjaga bumi berarti juga menyalamatkan hidup manusia sendiri. Menyelamatkan saudara-saudara kita yang rentan terhadap dampak perubahan iklim maupun berterima kasih dan menghargai bumi yang telah memberikan berbagai fasilitas menampung jejak karbon manusia. Mari terus kita bumikan semangat penghargaan bumi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Langkah kecil untuk penghargaan bumi dengan pengurangan jejak karbon Anda :

1.    Mematikan lampu jika meninggalkan ruangan.
Matikanlah lampu saat Anda keluar ruangan untuk beberapa waktu yang lama.
Mematikan lampu selama satu jam yang berdaya 20 Watt jumlah jejak karbon yang kita kurangi adalah 17,8 gram CO2.

2.    Mencabut colokan listrik.

 

 

Mencabut colokan listrik, mematikan semua peralatan elektronik, dan tidak meninggalkannya dalam keadaan stand by dapat menghemat energi hingga 10%. Mudah bukan!

3.    Menggunakan transportasi umum

 

Bandingkan emisi karbon yang dihasilkan jika kita menggunakan kendaraan umum dengan  kendaraan pribadi. umlah emisi yang dihasilkan perjalanan menggunakan kendaraan umum adalah 0,19 gram CO2 per km dibandingkan dengan kendaraan pribadi sebesar 1,4 gram CO2. Menggunakan busway, kereta, bersepada, atau menggunakan transportasi umum akan jauh  memperkecil jejak karbon Anda. Tentu saja jika Anda menggunakan sepeda atau berjalan kaki  menuju ke tempat aktivitas Anda, jejak karbon Anda adalah nol!.

 

4.    Menggunakan kantong atau tas tersendiri untuk belanja

Menggunakan tas atau kantong sendiri saat berbelanja berarti Anda mengurangi jumlah sampah plastik. Sebisa mungkin menghindari penggunaan plastik dari pembelian makanan, jajanan, atau kebutuhan Anda.

5.    Menggunakan tempat minum sendiri.

 

Emisi yang dihasilkan setiap kali Anda mengkonsumsi air minum dalam kemasan 600 ml adalah 842 gram CO2. Angka emisi yang cukup besar. Oleh karena itu sebisa mungkin gunakan botol minum isi ulang sendiri disaat Anda bepergian atau di luar rumah. Lebih sehat, aman, dan pastinya lebih hemat!

6.    Menggunakan tempat makan sendiri
Di saat jam makan siang atau membeli makanan di luar, hindari pembelian makanan dengan pembungkus kertas atau plastik.

Setelah Anda selesai makan makanan tersebut sampah plastik pembungkus makanan Anda akan terbuang dan memperbanyak volume sampah anorganik yang ada di lingkungan kita.
Gunakan tempat makan Anda sendiri untuk membeli makanan di luar rumah atau kantor. Menggunakan tempat makan sendiri lebih sehat, aman, dan ramah lingkungan.

7.    Mengurangi konsumsi daging

Dengan mengurangi konsumsi daging berarti kita mengurangi gas methana yang dihasilkan dari kegiatan peternakan maupun dari produk daging tersebut. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) pada tahun 2006 menyatakan bahwa sektor peternakan dunia  menyumbang 37% gas methana (72 kali lebih kuat daripada CO2 untuk potensi pemanasan global selama rentang waktu 20 tahun) dan 65% nitro oksida (296 kali lebih kuat daripada CO2). Seringkali kegiatan peternakan dilakukan dengan menebang hutan seperti yang terjadi di hutan Amazon Brasil dan di negara-negara berkembang lainnya.

8.    Menghindari styrofoam untuk mengurangi sampah anorganik dan menjaga kesehatan

Setiap kali Anda menggunakan styrofoam untuk pembungkus makanan berarti Anda berkontribusi terhadap sampah anorganik yang membutuhkan waktu urai alami dalam kurun 1.000 tahun.
Pemakaian styrofoam terus menerus dalam jangka waktu lama dapat meningkatkan risiko kanker, merusak sumsum tulang, dan sistem kekebalan tubuh. Di beberapa negara sudah melarang penggunaan styrofoam misalnya Jerman.

9.    Tidak menyisakan makanan yang kita makan

Menghabiskan seluruh makanan yang kita makan berarti tidak meninggalkan jejak karbon dalam setiap kali mengkonsumsi makanan. Setiap 30 gram (1 gorengan) makanan yang tidak kita habiskan 11,2 gram CO2.

10.    Menggunakan kertas print dengan bolak-balik dan menggunakan kertas bekas

Setiap lembar kertas HVS 70 gram yang kita gunakan untuk mencetak atau print dokumen menghasilkan jejak karbon 227 gram CO2. Setiap kali Anda menge-print dokumen atau artikel hendaknya di print bolak-balik

11.    Menanam pohon

Pohon adalah penyerap alami karbon dioksida yang merupakan gas terbesar jumlanya sebagai penyebab perubahan iklim. Semakin banyak pohon yang kita tanam berarti semakin banyak penyerap alami gas rumah kaca.

Jika langkah kecil tersebut secara nyata kita lakukan secara kontinyu maka Anda adalah bagian orang yang memberikan penghargaan terhadap bumi dan mendukung upaya memerangi pemanasan global.

Hitung dan kurangi jejak karbon Anda di: www.iesr.or.id atau di http://karbonkalkulator.iesr-indonesia.org.

Artikel Terkait
Mar, 4 2014

Bagi saya, traveling ke kota lain merupakan suatu pengalaman berharga yang memberikan banyak pelajaran. Bukan hanya dari sisi sosial, namun juga dari segi budaya. Untuk

Nov, 21 2013

Memasuki masa-masa akhir dari COP 19, beberapa hal ternyata mengalami jalan buntu. Isu-isu krusial seperti pendanaan, peningkatan ambisi penurunan emisi dari negara maju, mekanisme untuk

Aug, 31 2018

Beberapa pekan lalu sosial media sempat dihebohkan dengan berita mengenai mahalnya tarif listrik di Indonesia. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) kemudian  menanggapi berita

Nov, 7 2016

Pada 20 Oktober 2016, duet Jokowi-JK genap dua tahun lamanya dalam memimpin Republik Indonesia. Koalisi Masyarakat Sipil PWYP Indonesia menyoroti kinerja dari dua tahun pertama

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close