Target Transmisi PLN Meleset, Listrik Tetap Aman

Oct, 26 2015

Penulis :

JAKARTA,02/12-KEBUTUHAN LISTRIK. Kilauan cahaya terlihat dari ketinggian di kawasan Jakarta Utara, Senin (02/12). PT PLN (Persero) membutuhkan dana kurang lebih Rp 400 triliun untuk membangun infrastruktur kelistrikan selama lima tahun ke depan. Direktur Utama PLN, Nur Pamudji menjelaskan, anggaran sebesar Rp 400 triliun tersebut mayoritas akan digunakan untuk membangun pembangkit istrik baru. Selain itu, PLN juga akan membangun infrastruktur penunjang seperti transmisi dan distribusi. KONTAN/Fransiskus Simbolon/02/12/2014

JAKARTA,02/12-KEBUTUHAN LISTRIK. Kilauan cahaya terlihat dari ketinggian di kawasan Jakarta Utara, Senin (02/12). PT PLN (Persero) membutuhkan dana kurang lebih Rp 400 triliun untuk membangun infrastruktur kelistrikan selama lima tahun ke depan. Direktur Utama PLN, Nur Pamudji menjelaskan, anggaran sebesar Rp 400 triliun tersebut mayoritas akan digunakan untuk membangun pembangkit istrik baru. Selain itu, PLN juga akan membangun infrastruktur penunjang seperti transmisi dan distribusi. KONTAN/Fransiskus Simbolon/02/12/2014

JAKARTA. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) hingga September 2015 baru mampu membangun transmisi mencapai 922 kilo meter (km). Padahal target tahun 2015 mencapai 4.717 km.

Biarpun di akhir tahun nanti pembangunan transmisi oleh PLN tidak tercapai, masyarakat tidak perlu khawatir akan ada kekurangan pasokan.

Anggota Unit Pelaksana Program Pembangunan Ketenagalistrikan Nasional (UP3KN) Agung Wicaksono mengatakan, saat ini memang baru 832 km transmisi yang sudah terpasang atau 18% dari target 4717 km untuk 2015. Sementara untuk gardu induk baru mencapai 1530 megavolt ampere (mva) baru sekitar 20% dari target tahun ini sebesar 7.480 mva.

Jika sampai target tahun ini tidak tercapai, maka tidak akan berpengaruh terhadap pasokan listrik masyarakat. “Akibatnya bukan byar pet tapi lebih ke pertambahan kapasitas. Kualitas pasokan yang jadi concern,” ujar Agung pada KONTAN Senin (26/10).

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa mengatakan, pembangunan transmisi tidak sama dengan pembangkit karena pembangunan transmisi harus disesuaikan dengan pembangkitannya.

“Pembangkitnya yang mau selesainya 2019 ya transmisinya selesai pada waktu itu juga. intinya jadwal transmisi itu bersamaan dnegan pembangkit. Kalau transmisi jadi lebih dulu, itu masalah nanti. Jadi memang membangun transmisi disesuaikan jadwalnya dengan pembangkit,”jelas Fabby.

Jika saat ini transmisi belum mencapai target yang diharapkan tidak akan terlalu mengkhawatirkan bagi pasokan listrik untuk masyarakat karena belum terlalu dibutuhkan semuanya saat ini.

Namun jika pada tahun depan pembangunan transmisi tidak juga bertambah maka masyarakat harus mulai khawatir sebab penambahan pasokan listrik bisa saja terkendala.

“Kalau tahun depan tidak bertambah atau bertambah namun kurang dari 10% maka itu menguatirkan karena ada sejumlah pembangkit yang mulai masuk 2017 dari proyek 7000 mw, seharusnya transmisi sudah tersedia,”ujar Fabby.

Sumber: Kontan.

Artikel Terkait
Aug, 15 2016

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa, mengatakan pasca-pencopotan Arcandra Tahar sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Presiden

Apr, 11 2012

Pemerintah Indonesia berencana membeli listrik dari Malaysia. Sementara di tahun 2014 Indonesia menargetkan ekspor sebagian energi listrik ke sejumlah negara tetangga. Kebijakan ini merupakan bagian

Jun, 28 2019

PERSOALAN LISTRIK | Oleh Muhammad Ishomuddin | 25 Juni 2019, 6:16pm Vice.com/id Bayangkan, listrik satu kabupaten di Papua padam gara-gara ular memanjat tiang. Belum mati lampu

Aug, 4 2018

Hak atas foto ANTARA FOTO/FB ANGGORO Walaupun pemerintah Indonesia menampik ada pertimbangan politik di balik penunjukan PT Pertamina sebagai pengelola Blok Rokan di Riau, pengamat menganggap

0 Comment

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published, Required fields are marked

Close