Dampak Perubahan Iklim bagi Petani

Semarang, 24 Juni 2024 – Provinsi Jawa Tengah mengalami 629 kejadian bencana pada tahun 2023,  bencana ini didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrem, tanah longsor dan banjir. Kenaikan temperatur bumi dan perubahan iklim diyakini sebagai salah satu penyebab fenomena ini. 

Keprihatinan atas situasi ini diungkapkan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, Widi Hartanto, dalam talkshow “Menuju Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia” kolaborasi dengan Institute for Essential Services Reform (IESR) dan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah melalui kanal Radio Idola Semarang. Ia menyebut dampak dari perubahan iklim sudah dirasakan. Untuk itu, pihaknya membuat kerangka kerja pemerintah yang menyesuaikan dengan situasi mitigasi perubahan iklim ini.

“Pemprov Jawa Tengah merumuskan strategi dan pembangunan yang adaptif seperti Rencana Aksi Daerah penurunan emisi gas rumah kaca, juga inisiatif lain seperti Program Kampung Iklim, Desa Mandiri Sampah, dan inisiatif lainnya,” kata Widi.

Perubahan iklim menjadi isu yang penting untuk ditangani secara serius, karena efek domino panjang dan mencakup berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Haryono Setiyono Huboyo, Akademisi Universitas Diponegoro Semarang, menjelaskan bahwa selain bencana, perubahan iklim setidaknya telah membuat pola cuaca tidak menentu dan mengganggu aktivitas tanam petani.

“Rantai akibatnya bisa lebih jauh lagi karena ketika pola tanam terganggu, akan gagal panen dan pasokan pangan juga terhambat,” jelas Haryono.

Anindita Hapsari, Analis Agrikultur, Kehutanan, Penggunaan Lahan dan Perubahan Iklim Institute for Essential Services Reform (IESR) menekankan pola cuaca yang tidak menentu dan repetisi bencana hidrometeorologi yang semakin sering merupakan indikasi awal dari dampak perubahan iklim. 

Masyarakat petani harus mengalokasikan biaya tambahan karena, kekeringan panjang  yang disebabkan oleh perubahan iklim. Mereka  mengeluarkan biaya lebih besar untuk mendapatkan akses air bersih, baik untuk irigasi ladang maupun untuk kebutuhan rumah tangga.

“Salah satu solusi individu yang bisa kita lakukan adalah dengan mengurangi jejak karbon dari aktivitas kita seperti melakukan efisiensi penggunaan energi, lebih mengutamakan penggunaan transportasi umum atau berjalan kaki, juga dengan memilah makanan yang kita konsumsi seperti mengurangi konsumsi daging merah,” kata Anindita.

Anindita kemudian menjelaskan peternakan sapi menghasilkan gas metana yang merupakan salah satu penyebab efek rumah kaca.

Share on :

Leave a comment