Inovasi Teknologi Energi Terbarukan Percepat Transisi Energi

Jakarta, 15 Juni 2024 – Transisi energi merupakan proses yang pergantian sistem energi yang membutuhkan lebih dari satu fase dan harus melibatkan berbagai aktor. Transisi energi juga akan membawa sejumlah dampak sosial ekonomi bagi warga yang berada di area atau provinsi yang ekonominya ditopang oleh sektor pertambangan atau industri fosil. 

Saat ini, selain memastikan sistem energinya berubah menjadi sistem energi rendah emisi, pihak – pihak seperti organisasi masyarakat sipil juga mendesak adanya proses transisi yang berkeadilan. Salah satu aspek dari transisi berkeadilan adalah memastikan berbagai dampak dan perubahan dari proses transisi sistem energi dikelola dengan baik sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi komunitas.

Deon Arinaldo, Manajer Program Transformasi Energi Institute for Essential Services Reform (IESR) dalam paparannya di forum Seminar Nasional “Peranan Kampus dalam Mengawal Proses Transisi Energi yang Berkeadilan di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Universitas Jayabaya, menjelaskan Indonesia sebagai negara yang kebutuhan energinya akan terus tumbuh, penting untuk segera bertransisi menuju energi terbarukan untuk juga menekan emisi gas rumah kaca (GRK) terutama dari sektor ketenagalistrikan.

“Dari berbagai riset telah ditemukan bahwa terdapat potensi teknis energi terbarukan seperti surya dan angin yang besar di Indonesia. Jadi pertanyaannya sekarang bukan lagi bisa atau tidak kita energi terbarukan mencukupi kebutuhan kita namun bagaimana supaya potensi teknis ini dapat dengan cepat menjadi angka pembangkitan,” kata Deon.

Deon juga mengutarakan penting bagi Indonesia untuk mulai membangun industri komponen energi terbarukan seperti panel surya dan komponen-komponen lainnya di dalam negeri untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dari proses transisi energi. 

“Baik jika kita memilih sektor-sektor tertentu yang kita punya sumber dayanya dan di kemudian hari hal tersebut akan menjadi komoditas yang diperlukan di luar sana. Strategi ini yang dipilih Tiongkok saat sekitar 20 tahun lalu mereka mulai mengembangkan baterai kendaraan listrik, dan sekarang mereka mulai memetik manfaatnya,” tambah Deon.

Share on :

Leave a comment